Keluarga Sadar Bakat Anak


Keluarga sadar bakat anak? Apaan lagi tuh? Meskipun sepintas lalu pernah mendengar istilah tersebut, namun jujur kami tidak tahu persis maksud ataupun pesan di balik ungkapan keluarga sadar bakat anak. Nah, kebetulan pada momentum Hari Guru Nasional, 25 November 2018, kami berkesempatan menyimak talkshow yang mengusung tema keluarga sadar bakat. Kebetulan talkshow tersebut menjadi salah satu rangkaian acara “Sekolah Alam Tangerang Fair 2018”.

Meskipun tidak menyimak presentasi dari Ir. Adri Fajria, M.Com., namun ada beberapa hal yang dapat kami catat. Jika sistem pendidikan yang telah maupun saat ini diterapkan bertujuan mendidik anak untuk menguasai berbagai ilmu pengetahuan, meskipun dari banyak ilmu pengetahuan tersebut tidak semua akan dipakai atau digunakan kelak pada saat si anak dewasa, maka trend alternatif sistem pendidikan modern justru membatasi pengajaran kepada anak berdasarkan bakat dominan yang dimilikinya.

Analog dengan sebuah kapak untuk memotong atau membelah kayu yang diasah agar senantiasa tajam tentu hanya bagian mata kapaknya saja bukan? Tidak semua sisi kapak harus diasah karena yang akan digunakan untuk memotong atau membelah kayu hanyalah bagian mata kapaknya saja. Demikian halnya dengan kecerdasan seorang anak. Tidak semua ilmu pengetahuan harus diajarkan untuk dikuasai anak. Kita seharusnya memilih ilmu pengetahuan tertentu yang memang benar-benar dibutuhkan dalam rangka menumbuhkembangkan bakat anak. Dengan melakukan proses pendidikan berdasarkan bakat seorang anak, pendidikan akan lebih terfokus dan pencapaiannya jauh akan lebih maksimal. Di sinilah pentingnya mengetahui bakat utama dari anak semenjak dini.

Dengan latar belakang uraian di atas, sebelum proses pendidikan terhadap seorang anak dimulai, hal pertama yang harus dilakukan adalah memetakan bakat si anak itu sendiri. Langkah inilah yang disebut sebagai children talent mapping.

Children talent mapping tentu saja bertujuan untuk mengetahui bakat dominan yang dimiliki anak. Hal ini seyogyanya dilakukan sedini mungkin. Ayah dan ibu selaku orang tua yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan anak semestinya dapat mengenali dan mengetahui bakat utama dari anakya. Inilah entingnya keluarga sadar bakat anak tadi. Caranya bagaimana orang tua memetakan bakat anak kita? Ada metode 3B! Banyak melakukan aktivitas beragam bersama. Kemudian untuk mengukur bakat dominan dilakukan dengan pengamatan 3E, yaitu Enjoy, Easy, dan Excelent.

Keluarga sadar bakat adalah keluarga yang aktif dengan berbagai aktivitas, khususnya aktivitas fisik. Perkembangan teknologi informasi yang menjadikan anak lebih asyik dan tenggelam dengan berbagai permainan online melalui gadget terus terang menjadi tantangan utama dalam hal ini. Aktivitas online bagi anak cenderung menjadikannya sosok yang kurang aktif, kurang mampu bersosialisasi, individualis dan beberapa sifat yang kurang produktif lainnya. Keluarga sadar bakat harus sering melakukan aktivitas bersama. Masing-masing anggota keluarga, baik ayah, ibu, dan juga tentu anak-anak harus sering terlibat bersama dalam suatu aktivitas. Ketika anak bermainpun seyogyanya orang tua dapat turut terlibat. Bebersih rumah, memasak di dapur, berkebun, berbelanja di pasar, olah raga, banyak sekali aktivitas yang kini semakin dilakukan bersama oleh keluarga kita.

Satu contoh. Ketika seorang bocah perempuan terlibat memasak dengan ibunya di dapur, ibu dapat mengamati secara cermat sebarapa anaknya enjoy (menikmati dengan riang) aktivitas memasak yang dilakukan. Sebera ia tertarik, seberapa nyaman ia mengiris bawang, meramu bumbu, mencampur tepung, membuat adoman, membentuk kue, dan lain sebagainya. Diawali dengan menikmati dengan nyaman, dengan riang, dengan gembira setiap tahapan proses ibunya dapat mengamati seberapa mudah ia melakukan setiap pekerjaan. Kita si anak diajari mengiris bawang, seberapa cepat ia paham. Seberapa mudah ia kemudian mempratikkan mengiris bawang. Seberapa easy anak tersebut melakukan. Jika ia nyaman menikmati setiap proses, mudah diajari dan cepat menguasai, tentu kegiatan memasak bersama tersebut akan berujung kepada sebuah pencapain karya menu masakan yang nikmat, yang menawan tampilannya (excellent). Dengan mengulang berkali-kali kegiatan masak bersama, dengan berkali-kali melakukan pengamatan secara seksama, si ibu semestinya dapat menyimpulkan apakah anaknya memiliki bakat menjadi juru masak atau koki, bahkan chef kelas dunia, atau tidak.

Andaikan dari kegiatan memasak bersama tersebut dapat disimpulkan bahwa si bocah perempuan sebagaima contoh di atas memang memiliki bakat di bidang masak-memasak, dan ia sangat menikmati, sangat nyaman, sangat riang, bahkan ketika ditanya apa cita-cita anak di masa depan dan anaknya menjawab ingin jadi koki sukses, nah tinggal orang tua mendukung, mengarahkan, mendampingi, dan memfasilitasi apapun dalam rangka mengembangkan bakat memasak anaknya.

Berangkat dari bakat memasak anak, selanjutnya akan dapat diidentifikasi ilmu pengetahuan apa dan seberapa kadar kedalamannya yang dapat turut mendukung bakat tersebut. Ia mungkin perlu ilmu biologi untuk mengenal berbagai sayur, rempah-rempah, tetumbuhan, ikan, daging, untuk kebutuhan pengetahuan seorang koki. Ia mungkin perlu belajar ilmu kesehatan berkaitan dengan kandungan gizi, komposisi vitamin, protein, teknik memasak yang higienis dan hal terkait lainnya. Ia mungkin perlu ilmu matematika berkaitan menimbang, mengukur volume, membuat komposisi adonan, bahkan ketika menghitung biaya belanja, dan kelak jika ia menjual bagaimana menentukan harga yang menguntungkan. Intinya dalam mendukung pertumbuh-kebangan minat anak, ilmu pengetahuan pendukung cuku diberikan sesuai kadar kebutuhan. Dengan cara seperti ini anak akan lebih enjoy dan tanpa paksaan untuk belajar, akan merasa lebih mudah melakukan sesuatu karena hal itu disukainya, dan pada akhirnya ia akan menghasilkan bentuk karya yang maksimal bahkan sempurna.

Dengan pola asuh dalam rangka pendidikan anak berbasis bakat, kami jadi teringat dengan Sanggar Anak Alam (Salam) di Jogjakarta. Sebuah sanggar yang mengasuh anak dengan pola pendampingan riset untuk mengembangkan bakat anak semenjak dini. Sedikit berbeda dengan sokolah alam pada umum yang memanfaatkan alam lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran, lebih daripada itu, di Salam anak-anak justru ditanamkan secara mendalam bahwa alam dan pertanian adalah basis kehidupan. Anak-anak diharapkan menjadi generasi yang memberdayakan alam, khususnya bidang pertanian.

Terus kalau pola atau sistem pendidikannya berbasis bakat seorang anak didik, lalu bagaimana dengan sistem yang lebih formal berbasis kurikulum yang telah ditetapkan dan diberlakukan oleh pemerintah? Entahlah. Mungkin setidaknya bagi setiap orang tua anak, di lingkup keluarga atau rumah tangga, pola asuh pengamatan bakat anak sejak dini ini dapat diterapkan.

Kulon Balairung, 27 November 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s