Sekaten di Mata Seorang Bocah


Sholatulatullah salamullah, ‘ala toha rasulillah. Sholatullah salamullah, ‘ala yasin khabibillah. Pagi ini si Noni dan Diska, teman sepermainannya, melantunkan kalimat sholawat tersebut. Ia tentu belum sadar, terlebih paham, bahwa lantunan itu sedemikian tepat menemukan momentumnya. Hari ini, Selasa Wage, 20 November 2018 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1440 H. Tanggal keramat ini diyakini dan diperingati oleh sebagian ummat muslim sebagai Hari Maulid atau Kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW, nabi akhir penutup jaman.

Di masa kecil dahulu, kami teringat sebuah kisah. Kala itu keluarga kami dan beberapa kerabat, serta tetangga, menyewa colt untuk pergi ke Kutagara Ngayojakarta. Umur kami waktu itu sekira 4-5 tahun. Usia yang belum genap ijir. Ingatan tentang kejadian itupun hanya samar tersangkut di ingatan. Namun peristiwa itu seolah begitu melekat di dasar sanubari.

Setiba di pusat Kota Yoja, colt yang membawa rombongan kami berhenti di suatu tempat. Hawa panas langsung menerpa. Kami yang sehari-hari bergaul dengan sepoi angina di lereng Merapi, tiba-tiba merasakan kegerahan yang teramat sangat. Bagaimanapun kami hanyalah orang-orang dusun, orang-orang gunung yang sangat jarang menginjakkan kami di wilayah perkotaan. Walhasil, masing-masing dari kamipun terpaksa kipas-kipas dengan alat seadanya.

Tidak hanya didera panas yang teramat terik, rupanya tempat pemberhentian colt kami masih menyisakan jarak yang lumayan jauh dari tempat utama tujuan kami. Kami masih harus menyambung perjalanan dengan jalan kaki. Namun demikian suasana sudah sedemikian ramai. Orang-orang yang banyak sekali jumlahnya berjalan mengular menuju ke satu tujuan. Orang-orang itu tentu kebanyakan tidak kami kenal dan tidak saling kenal. Namun dalam raut muka mereka menampakkan kehangatan rasa paseduluran yang sungguh tulus tanpa rekayasa.

Namanya masih anak kecil, baru berjalan beberapa langkah kami sudah merasa lelah. Ditambah hawa panas dan rasa haus yang mendera, menjadikan telapak kaki kecil kami seolah kaku untuk berjalan. Adalah Mbah Dulah (almarhum), tetangga samping rumah langsung berinisiatif menggendong kami. Kamipun kemudian langsung nemplok di punggung kakek yang sudah cukup lanjut usia tersebut.

Semakin ke depan, suasana semakin ramai. Semakin kami mendekati tempat yang kami tuju, aliran manusia pejalana kaki itupun semakin mengular dengan deras. Meskipun berasal dari berbagai penjuru tempat yang jauh, namun seolah ada satu tujuan yang menyatukan kami. Meskipun kami tidak saling kenal, namun satu kesamaan tujuan itu seolah telah menjadi energi luar biasa yang menyatukan ribuan manusia itu. Tak salah lagi, para pejalan itu, aliran manusia itu tengah dalam perjalan menuju pelataran Alun-alun Utara Keraton Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat.

Sekaten! Sekatenlah yang menjadi tujuan ribuan manusia itu berkumpul di alun-alun nan agung itu. Konon semenjak beberapa hari sebelum hari kumpul besar tersebut, dua perangkat gamelang milik keraton terus ditabuh dari pendopo sisi gapura Masjid Gedhe Kauman. Pagi, siang, sore, hingga malam terus ditabuh melantunkan gendhing-gendhing keramat penuh petuah. Hanya di saat-saat adzan berkumandang dan pelaksanaan sholat lima waktu kedua gamelan itu beristirahat.

 Di pelataran alun-alunpun digelar aneka keramaian. Terkenallah pasar tahunan, pasar malam sekatenan. Sebuah persembahan hiburan untuk rakyat atau kawula dalem. Ada beraneka rupa pertunjukan yang digelar. Aneka kesenian, seperti kethoprak, ludruk, wayang, bahkan ndangdutan ada. Ada pula aneka permainan untuk anak maupun hiburan keluarga, semisal komidi putar, bianglala, ombak banyu, bahkan tong setan.

Untuk yang jenis tontonan terakhir ini sungguh membuat bulu kuduk anak-anak merinding. Ada sebuah tong raksasa yang tinggi menjulang. Orang-orang yang ingin menonton naik ke atas di sekeliling tepi atas tong itu. Sementara di dalam tong terdengar suara keras menderu-deru. Konon itulah suara setan yang tengah gaspoll. Tentu kami tidak tahu dengan macam tontonan ini, karena makhluk seperti apa yang ada di dalam tong setan tersebut. Menginjak remaja barulah kami tahu bahwa tong setan itu hanyalah sebuah lidah yang kepleset menyebut kata tong stand, tong yang berdiri. Lucu memang jika mengingatnya.

Kembali ke suasana hiruk pikuk nan panas membara di tengah alun-alun tatkala kami berada di gendongan Mbah Dulah. Alun-alun sungguh ramai. Ribuan manusia menjadikan tanah lapang di depan keraton tersebut menjadi lautan manusia. Satu sama lain saling berdesakan. Satu sama lain saling berpapasan.

Dan tiba-tiba terdengar sebuah huru-hara. Ribuan orang saling berebut. Ribuan orang saling menyikut. Ribuan orang tumpah ruah tidak karuan menyerbu dua benda berwujud gunungan raksasa yang baru diarak dari Pendopo Masjid Gedhe. Inilah konon yang disebut proses ngalap berkah di puncak acara muludan. Keributan itu hanya berlangsung secepat kilat. Suasanapun kembali kepada hiruk-pikuk orang saling berlalu lalang.

Satu hal yang paling berkesan pada kunjungan kami ke puncak acara muludan kala itu adalah ketika Bapak mengajak menghampiri seorang penjual mainan anak. Mainan itu kecil mungil, hanya segenggaman tangan, namun mengeluarkan bunyi meraung-raung yang sangat lantang. Satu sama lain dari alat mainan tersebut saling berputar, saling mengejar di atas permukaan air dalam sebuah baskom besar. Ya, permainan itulah yang dikenal sebagai perahu othok-othok. Perahu berbahan bakar minyak klenthik yang apabila sumbunya dinyalakan akan membangkitkan tekanan gas yang mendorong perahu melaju dan mengeluarkan bunyi “thok-othok-othok, thok-othok-othok….”.

Pulang dari Pasar Sekaten, selai membawa sebuah perahu othok-othok, kami sempat diminta membawakan sepasang caping gunung dan pecut yang dibeli Mbah Kakung. Sungguh pengalaman di masa kecil itu tiada pernah terlupakan.

Maulid diucapkan oleh lidah Jawa sebagai mulud. Bulan Rabi’ul Awwal lebih akrab disebut bulan Mulud. Tradisi maulidanpun kemudian menjadi muludan. Tradisi muludan konon memang asli tradisi Islam di bumi Nusantara. Di Jazirah Arab sendiri, sebagai daerah dimana Islam berasal, konon tidak ada tradisi ini.

Tradisi muludan melekat erat dengan tradisi sekatenan. Sekaten atau sekatenan konon dulunya merujuk kepada kata syahadataian, dua syahadat. Ikrar dua kalimah syahadat merupakan sumpah janji seseorang yang ngrasuk atau masuk ke dalam agama Islam. Tatkala Wali Sanga, khususnya Sunan Kalijaga, berdakwah untuk menyebarkan agama Islam di tengah kalangan rakyat Demak yang sebelumnya beragama Hindu-Budha, dikumpulkanlah mereka di tengah-tengah lapangan alun-alun kutaraja. Gamelan ditabuh untuk menarik perhatian masyarakat. Setelah masyarakat berkumpul, mulailah Kanjeng Sunan menyampaikan pitutur luhur. Ketika itu banyaklah kemudian masyarakat yang langsung dipandu bersyahadat, mengikrarkan kalimat ashadu ala illaha ilallah, wa ashadu anna muhammadarrasulullah tanpa paksaan.

Ngisor Blimbing, 20 November 2018

Foto dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sekaten di Mata Seorang Bocah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s