Satrya Gunung: Kesatrya Anak-anak Gunung Merapi


Satrya, sudah pasti yang dimaksudkan adalah satria atau kesatria. Satrya merupakan sosok manusia yang digambarkan memiliki perilaku utama. Mungkin ia gagah dari sisi fisiknya. Mungkin ia sakti, memiliki aji jaya kawijayan, ataupun berpusaka ampuh. Mungkin ia pandai dengan segudang ilmu kepintaran. Mungkin pula ia seorang darah biru putra bangsawan. Namun lebih daripada itu semua, seorang satrya adalah manusia paripurna utama. Segala pemikiran, perkataan, perbuatan, dan perjuangannya dilakukan atas nama darma kepada sesama, kepada negara, kepada dunia alam semesta raya, bahkan kepada Tuhan.

Satrya mungkin bisa disepadankan dengan sosok patriot atau pahlawan. Ia, seolah sudah meniadakan keinginan, kepentingan, dan cita-cita pribadinya. Kepentingan sesama, negara, dan agama terletak jauh lebih tinggi di atas kepentingan diri pribadinya. Kita bisa menyebut beberapa tokoh sebagai kesatrya. Para Pandawa merupakan kesatrya utama di dunia pewayangan. Airlangga, Gadjah Mada, Pati Unus, Sultan Agung adalah beberapa nama kesatrya dari kerajaan-kerajaan Nusantara di masa silam. Ada pula Pattimura, Diponegoro, Hasanuddin, hingga Jenderal Sudirman kita yakini pula sebagai kesatrya negara kita.

Satrya atau kesatrya pada awal merupakan satu kelas kasta dalam sistem kepercayaan Hindu. Kesatrya adalah golongan darah biru atau bangsawan. Mereka menerima takdir sebagai manusia pilihan yang mengelola negara, menjadi pengayom bagi kelas kasta yang lain. Merekalah para raja, pangeran, hingga jajaran prajurit. Tidak mutlak seorang keturunan darah biru langsung diakui sebagai kesatrya. Sosok calon kesatrya semenjak kecil harus menjalani serangkaikan proses pembentukan dan penggemblengan diri yang tidak ringan. Mereka mungkin harus berkelana dan bertapa di hutan-hutan. Mengembara dengan menyamar sebagai rakyat jelata. Atau berguru kepada para empu dan resi di padhepokan-padhepokan yang sunyi nan terpencil, semisal di kaki, lereng, hingga puncak sebuah gunung.

Satrya dan gunung seolah dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Kesatrya banyak yang menjalani masa-masa penempakaan jiwa raga di gunung-gunung. Bahkan sosok Tetuko alias bayi Gatotkaca, tatkala terlahir dan tali pusarnya sulit untuk dipotong, oleh para dewa ia langsung diceburkan ke dalam panas menggelegarkan kawah Candradimuka. Bukannya terluka apalagi binasa, Tetuko justru menjelma menjadi kesatrya sakti mandraguna bebasan otot kawat balung wesi. Kesatrya tangguh hingga tulang belulangnya keras dan kuat, sekeras dan sekuat logam besi.

Filosofi yang mendalam antara sosok kestrya dan gunung ini oleh beberapa tokoh seniman dari Sanggar Panca Budaya Dusun Krajan, Desa Ngargosoka di kaki Gunung Merapi dikoreografikan menjadi gerak kombinasi sebuah tarian nan mempesona. Tari Satrya Gunungan, demikian tata gerak tarian tersebut dinamakan. Lebih gagah dan mengundang decak kekaguman para hadirin ketika Satrya Gunungan dibawakan oleh sekelompok bocah dan turut meramaikan atraksi seni dalam rangkaian Festival Tlatah Bocah XII Tahun 2018 di Sanggar Bangun Budaya, Dusun Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang beberaa waktu lalu.

Kita semua tentu sangat mafhum, bukan perkara mudah untuk mencetak atau mengkader anak bangsa menjadi sosok-sosok kesatrya. Sosok-sosok pembela keadilan dan kebenaran. Sosok dengan sifat dan sikap penuh kejujuran, adil serta bijaksana. Sosok-sosok manusia utama, manusia paripurna yang akan sanggup untuk mengemban amanah memakmurkan dunia. Maju atau mundurnya dunia, jaya atau binasanya sebuah bangsa, tentram atau kacaunya suatu negara, sedikit banyak sangat ditentukan hadirnya sosok-sosok kestrya tersebut. Krisis negeri, kemunduran jaman, kesengsaraan dan kerusakan dunia disebabkan oleh perilaku-perilaku rendahan yang bertentangan dengan nilai-nilai kesatryaan. Sosok-sosok kestarya kini semakin langka dan sulit untuk ditemukan. Di tengah kondisi jaman edan yang melanda dunia dewasa ini, sosok-sosok manusia berperilaku buto, raksasa, genderuwo, bahkan iblis dan setan yang sesat bin laknat lebih mendominasi. Jika kita ingin memperbaiki keadaan dunia menjadi teratur, aman, damai, penuh ketentraman, maka mau tidak mau, suka tidak suka kita harus kembali kepada kesadaran untuk membenih, memupuk, merawat, menumbuhkembangkan, memelihara, dan melestarikan sifat-sifat utama kesatrya tadi.

Tari Satrya Gunungan menghadirkan dua belas sosok kader kesatrya utama. Mereka semua masih bocah. Namun para bocah itu dengan penuh semangat seolah benar-benar menjiwai dan menghayati setiap gerak, laku, serta formasi tata keprajuritan bagaikan para kesatrya dewasa yang tengah mengemban tugas utama kepada sesama dan negara. Sorot mata, gerakan kepala, kepalan tangan, kelincahan gerak tangan, pawakan tubuh, kuda-kuda kaki, semua menggambarkan energi, semangat, jiwa, batin, serta tekad untuk berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran. Bahkan guyuran hujan deras yang menerpa para bocah itu saat tampil di atas panggung seolah semakin menambahkan kekuatan yang membara.

Jika jiwa kesatrya dilambangkan dengan tata gerak, laku dan formasi keprajuritan, maka gunung sebagai tempat para kesatrya digembleng disimbolkan dengan gunungan yang biasa digunakan oleh ki dalang di jagad pakeliran. Sungguh sebuah perpaduan perangkat tari dan tata gerak tari yang sungguh serasi.

Gunung adalah puncak daratan yang menjulang tinggi menggapai Tuhan. Gunung adalah puncak kesunyian, kesepian, dan kesendirian. Gunung memberi pengajaran tentang mesu diri, menahan diri, melawan hawa nafsu dari dalam diri sendiri. Gunung mengajarkan laku tapa dan puasa, laku prihatin dalam kesederhanaan untuk menggapai perilaku utama. Gunung adalah sumber mata air. Gunung adalah sumber kesuburan dan kemakmuran. Gunung adalah sumber keberkahan ilahi rabbi.

Secara keseluruhan, Tari Satrya Gunungan memberikan pesan bahwasanya anak-anak di lereng Gunung Merapi yang sehari-harinya menyatu dengan alam gunung yang sunyi, sepi, wingit, bahkan menyimpan misteri dan bahaya senantiasa menjadikan Merapi sebagai sahabat, tempat, ataupun sarana penggemblengan dan pembentukan manusia utama, manusia unggul, manusia paripurna, manusia pengemban amanah negara, manusia pembangun bangsa, manusia yang kelak menjadi satrya utama pemimpin negeri. Merapi adalah tempat bertapa dan menempa jati diri. Dan semua itu harus ditanamkan dan dibentuk semenjak manusia masih bocah di masa kanak-kanak. Anak-anak Merapi adalah anak-anak yang penuh semangat kreasi, jiwa olah seni, dan jati diri.

Ngisor Blimbing, 13 November 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s