Sablon Kreatif ala Komunitas Oemah Daon


Masih berbagi serpih kisah dari Festival Tlatah Bocah XII Tahun 2018 di Desa Sumber, Kabupaten Magelang. Begitu pagi menjelang siang, banyak anak-anak telah berkumpul di Pendopo Balai Desa Sumber, tempat berbagai workshop digelar. Di tengah pendopo, anak-anak perempuan berseragam Pramuka coklat muda coklat tua sudah asyik dengan seni kerajinan hias temple berbahan tisu. Di sudut yang lain, serombongan peserta tengah tenggelam dengan praktik theraphy healing yang diajarkan. Ada pula sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu yang tengah menunggu petugas untuk mengurus pembuatan dokumen kependudukan, seperti KTP, KK, atau akta kelahiran. Rangkain kegiatan pada dua hari puncak Festival Tlatah Bocah XII memang beragam.

Di tengah keriuhan anak-anak yang tengah asyik dengan beberapa workshop tadi, datang dua orang dengan seperangkat tas barang bawaan. Tampang kedua orang tersebut cukup nganeh-anehi, bahkan terkesan medeni. Bagaimana tidak medeni bin sangar coba, yang satu berambut panjang, gimbal, bertindik lagi. Ia bertopi anyam bamboo warna coklat muda. Satunya meskipun rambutnya tidak gondrong, tetapi bertato dan bergiwang di telinganya. Melihat tamang keduanya, saya langsung teringat kelompok anak-anak punk yang sering ngamen ataupun meminta-minta di perempatan lampu merah.

Sejenak kemudian, keduanya memilih tempat di salah satu sudut pendopo. Tampang sangar kedua orang tersebut rupanya sama sekali tidak membuat anak anak ketakutan. Anak-anak justru langsung bergerombol mengeliling kedua pemuda “punk” tadi. Keduanyapun kemudian mulai membuka barang bawaannya.

  

Sekilas dari dalam tas besarnya nampak lembaran papan bergambar. Ada banyak sekali papan yang dibawa kedua pengisi workshop ini. Ukurannya antara 30 x 50 cm. Ada mungkin belasan papan unik yang mengundang rasa penasaran anak-anak yang mengerubungi kedua pemuda punk ini. Awalnya saya mengira, papan tersebut merupakan lukisan dengan dominasi warna biru tua mendekati hitam legam. Satu per satu papan-papan itu dikeluarkan dari dalam tas sambil dibersihkan dengan kain lap.

Setelah satu persatu papan itu dikeluarkan dan dilap, papan-papn itu kemudian ditata berjajar di atas lantai pendopo. Sungguh menarik “lukisan” yang terpampang di masing-masing papan. Ada yang bertuliskan Cublak-Cublak Suweng, Tiyang Jawi, Gusti Yesus, Izinkan Otakmu Untuk Ingin Tahu, Kedaulatan Pangan, Petani Tanam Padi, Hidupmu Kehidupan Kita, Baduy Scooter, Petan, dan masih banyak yang lainnya. Lho, saya terhenyak demi membaca tulisan-tulisan di papan kayu itu satu persatu. Kok ya ada nuansa yang unik dan menggelitik langsung saya rasakan. Papan-papan itu mengandung banyak isyarat dan pesan. Lebih cocok papan-papan tersebut dikatakan sebagai poster daripada lukisan biasa.

Mengamati dan mencermati tulisan beserta lukisan yang melatari pada masing-masing papan, saya kembali dikejutkan ketika kemudian salah satu papan saya ambil dan saya amati lebih dekat. Warna-warna biru tua cenderung hitam legam tersebut nampak seperti lukisan tiga dimensi dimana bagian berwarna tersebut lebih menonjol dibandingkan sisi background yang masih menampakkan warna kayu aslinya. Akhirnya saya semakin tahu. Bukan sebuah lukisan, papan-papan tersebut merupakan sebuah alat cetak sablon. Tidak salah lagi!

Rupangan kedua pemuda bertampang “sangar” itu memang sedang memperkenalkan metode sablon sederhana. Dengan papan-papan sisa, tangan-tangan kreatif nan imajinatif mereka melukiskan pola tertentu. Lukisan pola tersebut kemudian ditatah atau disungging dengan pisau tatah kecil yang dirancang khusus. Ada tatah bermata datar biasa, ada yang bermata membentuk huruf “v” ataupun “u”. Tidak hanya sekedar melukis pola, krativitas yang diketengahkan sebenarnya sekaligus menggabungkan unsur seni lukis, seni pahat atau ukir, dan yang terakhir seni atau teknik sablon itu sendiri. Lebih luar biasanya, kreativitas tersebut berbasis bahan sisa berupa papan bekas, dilakukan dengan peralatan yang sederhana namun mampu menghasilkan pola cetakan sablon yang unik-unik nan menarik dan syarat dengan kritik-kritik maupun ajakan positif yang menggugah pembacanya.

  

Lalu bagaimana mereka menggunakan papan-papan itu untuk menyablon pola yang telah dibuat untuk dipindahkan ke permukaan kain? Ini keunikan selanjutnya. Alih-alih menggunakan perlengkapan sablon yang canggih, mereka justru sengaja memilih cara manual untuk mensablon. Pertama kali setelah kain yang akan disablon dipersiapkan dengan dibentangkan di atas papan datar dan diletakkan di permukaan lantai, papan-papan cetakan diberi warna dengan tinta atau cat sesuai warna yang diinginkan. Sebuah rol sederhana digunakan untuk meratakan cat di atas bagian yang timbul di permukaan papan cetak. Setelah dirasa warna catnya merata, papan cetak itupun kemudian ditelungkupkan di atas kain. Untuk mempercepat dan memperkuat tempelan warna di atas permukaan kain, papan-papan itu diinjak-injak selama kurang lebih lima menit. Setelah dirasa cukup, papan yang diinjak itupun diangkat pelan-pelan. Hasilnya? Sungguh luar biasa, pola gambar dan tulisan dengan warna pilihan kini telah berpindah dan menempel pada permukaan kain sesuai keinginan.

Demikian, satu contoh gambar sablon dipertontonkan, anak-anakpun dengan tak sabaran segera berminat dan meminta untuk disablonkan. Mereka rupanya telah membawa kaos-kaos masing-masing untuk disablonkan. Dengan antusias mereka memilih papan cetak sesuai selera. Setelah mengambil papan cetak, merekapun segera berbaris rapi dalam sebuah antrian yang cukup panjang. Saking berminatnya anak-anak tersebut, barisan antrian hingga mencapai belasan anak. Sungguh rasa antusias yang luar biasa.

Adalah Mas Denok Kolin dan rekannya, dua sosok penggiat Komunitas Oemah Daon dari Tangerang-Banten yang sengaja datang menghadirkan teknik sablon papan sederhana sebagai salah satu kegiatan workshop di puncak acara Fastival Tlatah Bocah bertema Holobis Kuntul Baris di Desa Sumber tahun ini.

Sebuah teknik sederhana yang diketengahkan memang sengaja dilakukan untuk mendemokan di depan anak-anak maupun yang hadir lainnya bahwa teknik sablon dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, mudah, praktis, namun menghasilkan gambar sablonan yang luar biasa. Komunitas Oemah Daon mengkategorikan teknik sablon mereka sebagai bagian dari teknik “manualart”. Saya dan pastinya hadirin lain yang sempat merapat di workshop sablon manualart ini tentu sangat menikmati dan belajar banyak hal dari Komunitas Oemah Daon. Matur nuwun telah berbagi.

Tepi Merapi, 7 November 2018

Foto: Beberapa koleksi pribadi plus FB Denok Kolin

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Sablon Kreatif ala Komunitas Oemah Daon

  1. MT berkata:

    Keliatane sablone keren. Penasaran liat langsung

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s