Ndayak Grasak: Tari Kreasi Berbasis Alam Lokal


Manusia dan alam adalah dua entitas yang tidak pernah bisa dipisahkan. Manusia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi dengan alam. Manusia tidak akan dapat hidup tanpa tanah, air, udara, matahari, tetumbuhan, maupun hewan-hewan. Setiap unsur alam merupakan bagian kelengkapan hidup yang mutlak harus ada untuk menunjang kehidupan manusia. Bayangkan manusia tanpa matahari.  Dunia menjadi gelap. Tidak ada fotosintesa pada tetumbuhan hijau. Tidak ada makanan bagi manusia, tidak ada oksigen untuk bernafas. Akibatnya tentu sangat fatal, manusia mati dan akhirnya punah dari peradaban sejarah.

Seni Ndayakan atau disebut juga seni Topeng Ireng merupakan kesenian khas yang tumbuh dan berkembang di wilayah Kabupaten Magelang. Seni tari khas yang memadukan topeng bermahkota atau tutup kepala dari bulu-bulu panjang nan warna-warni ala suku Dayak di Kalimantan maupun suku Indian di pedalaman Amerika. Gerakan energik yang dilakukan oleh sepasukan penari dalam formasi baris-berbaris menjadikan Ndayakan mirip dengan seni Kobra Siswa. Demikian halnya perihal gamelan dan syair-syair pengiring, sedikit banyak terdapat kemiripan. Selain tutup kepala berbulu, wajah dihias selayaknya topeng yang menyamarkan wajah asli si penari, para pemain Ndayakan di kedua kakinya dipasang puluhan kerincing atau klinthing yang menimbulkan bunyi gemerincing.

Alkisah pada tahun 2005-an, di sebuah dusun terpencil di lereng Gunung Merapi. Kala itu di wilayah seputaran Kabupaten Magelang sedang demamnya seni Ndayakan atau Topeng Ireng. Menyaksikan beberapa kali pentas seni Ndayakan di desa tetangga menjadikan anak-anak kecil di dusun ini keranjingan ingin memainkan tari Ndayakan. Memiliki kostum indah dan menarik ala grup kesenian Ndayakan dan memainkan tariannya seolah menjadi obsesi dan mimpi bagi sebagian besar anak-anak dusun itu. Di sisi lain, untuk memiliki kostum Ndayakan tentu bukan soal yang murah.

Demi membuat kostum kepala berbulu ayam nan warna-warni, anak-anak itu nekad mengejar ayam-ayam jago yang ada di dusun mereka. Setelah dapat ditangkap, anak-anak itu dengan penuh kegembiraan dan rasa tak bersalah segera mencabuti bulu-bulu ayam jago tersebut. Dengan imajinasi dan kreativitas ala anak-anak, mereka menciptakan sendiri “topeng-topeng irengnya”. Dengan melakukan itu, anak-anak menemukan kegembiraannya.

Jika anak-anak dengan “mencuri” bulu-bulu dari ayam jago yang ada di dusun menemukan wadah ekspresi dan kegembiraannya, lain dengan para orang tua di dusun itu. Terlebih khusus, bagi warga dusun yang merasa “kehilangan” bulu ayam jago, ulah anak-anak itu dipandang sebagai kenakalan. Berkembanglah cerita hilangnya bulu-bulu ayam jago itu menjadi keresahan masyarakat. Ada yang memaklumi bahwa hal itu sebagai sebuah kewajaran kenakalan anak-anak semata. Namun tidak sedikit pula yang berpikir bahwa ulah “mencuri” bulu ayam jago dapat berkembang menjadi watak yang tidak baik bagi anak-anak kelak semasa dewasa. Terjadilah pro-kontra soal Ndayakan dan bulu-bulu ayam jago itu yang berkembang menjadi keresahan sosial yang semakin meruncing.

Beberapa tokoh pemuda dan pemuka dusun kemudian berembug. Dari sisi positif, mereka melihat bahwasanya anak-anak di dusun mereka memendam semangat untuk berekpresi melalui seni Ndayakan. Hal itu harus dihargai sebagai semangat untuk turut melestarikan seni dan tradisi leluhur. Alangkah akan lebih baik apabila dipikirkan suatu cara agar di dusun mereka benar-benar bisa terbentuk sebuah grup seni Ndayakan bagi anak-anak itu. Daripada anak-anak semenjak kecil sudah keranjingan dengan berbagai permainan games di handphone, tentu seni tari dan tradisi jauh lebih baik dalam rangka menumbuhkembangkan semangat cinta tradisi yang akan sebangun dengan perkembangan karakter, jati diri, hingga budi pekerti anak-anak. Akhirnya warga sepakat untuk urunan dalam rangka menghimpun dana untuk kebutuhan sebuah grup seni Ndayakan. Dari dana itulah kemudian secara bertahap didatangkan pelatih tari secara khusus, dibeli seperangkat gamelan penunjang, dan pada akhirnya kostum topeng, baju, dan klinthing yang memadai untuk anak-anak mereka.

Adalah Untung Pribadi, pimpinan Sanggar Bangun Budaya di Dusun Sumber, sangat terkesan dan terinspirasi dengan tarian grasak dari Tutup Ngisor yang dipentaskan dalam pagelaran Festival Lima Gunung di tahun 2000-an. Grasak atau raksasa sejatinya merupakan bagian kecil dari karakter buto yang sering meuncul dalam berbagai kesenian tradisional khas Jawa, seperti wayang, jathilan, ataupun campur. Ia kemudian mengkolaborasikan tarian Ndayakan dengan tarian grasak.

Tidak hanya terhenti kepada ide mengkolaborasikan Ndayak Grasak, timbul gagasan dan kreasi untuk memanfaatkan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar dusun untuk kostum Ndayak Grasaknya. Simbar atau daun pakis kering, klaras alias daun pisang kering, janur ataupun blarak, juga gedebok pisang ia sulap menjadi kostum yang unik. Jadilah melalui tangan dingin Untung Pribadi muncul sebuah kreasi kostum Ndayakan yang unik, tanpa bulu-bulu ayam jago sebagaimana Ndayakan selazimnya waktu itu. Tidak hanya terhenti pada kostum, Untung Pribadi lebih lanjut juga terinspirasi untuk menciptakan formasi dan gerakan Ndayak yang sedikit berbeda. Gerakan yang lebih enerjik dengan sorot mata tajam, wajah penuh ekspresi kemarahan, kekerasan, kegagahan, bahkan kesombongan. Gerakan, ekpresi ala grasak, raksasa, buto, gendruwo, bahkan setan. Sebuah kolaborasi apik antara tari ndayakan dan tari grasak. Tarian inilah yang kemudian dinamakannya tari Ndayak Grasak. Grasak sendiri berarti raksasa, atau buto bagi masyarakat Jawa.

Ndayak Grasak, ndayak buto, alias ndayak raksasa. Seni tari ndayak dengan kostum mahkota simbar atau daun pakis kering, raut muka dirias dengan wajah bertaring dan berlatar warna hitam simbol kegelapan. Bertelanjang dada, ataupun berbaju kaos warna dasar hitam. Sisi pinggul dengan kostum penutup berumbai ala hawai yang terbuat dari suwiran blarak ataupun gedebok pisang kering. Kemudian di kedua pergelangan kaki mengenakan gelang akar-akaran, ataupun klinthing. Ndayak Grasak dengan demikian benar-benar menampakkan perwujudan raksasa buto ataupun bahkan setan alas.

Ndayak Grasak lahir dari sebuah inspirasi untuk mendayagunakan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar dusun. Sebuah terobosan seni yang berbasis dan berorientasikan kepada alam sekitar. Sebuah pendekatan nilai kearifan untuk menyatukan seni dan alam. Demikian halnya untuk seterusnya menyatukan seni, alam, dan anak-anak. Ndayak Grasak selanjutnya senantiasa menjadi suguhan tarian wajib dalam setiap gelaran Festival Tlatah Bocah dari tahun ke tahun.

Untuk Festival Tlatah Bocah XII 2018 yang mengambil tema Holobis Kuntul Baris, grup Ndayak Grasak yang tempil sebagaimana dalam gambar di atas merupakan kelompok seni dari Dusun Berut, Desa Sumber, yang merupakan anak didik dari sanggar Bangun Budaya Sumber.

Tepi Merapi, 4 November 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s