Gangsingan Bambu dan Dunia Anak Merapi


Hari baru beranjak dari pagi ke siang. ­Sejumlah anak-anak yang masih berpakaian seragam Pramuka maupun batik, nampak merapat ke Pendopo Balai Desa Sumber. Di pendopo itu telah ada beberapa lingkaran kecil anak-anak yang telah datang lebih dulu. Hari itu merupakan hari pertama rangkaian puncak Festival Tlatah Bocah XII yang digelar di Sanggar Bangun Budaya dan Balai Desa Sumber. Khusus di Pendopo Balai Desa Sumber, digelar berbagai workshop atau pelatihan khusus untuk anak-anak.

Di saat kedatangan kami, tak berselang seberapa lama juga datang seorang pemuda berambut gondrong dan berkaca mata. Sedikit ngobrol perkenalan dengannya, ia bernama Mas Krisna. Berbeda dengan saya yang datang hanya ingin sekedar ngombyongi, Mas Krisna membawa sejumlah properti dan barang untuk membuka stand bagi anak-anak. Rupanya ia di acara pagi itu sengaja membawa banyak buku untuk dibaca anak-anak yang hadir di pendopo. Ada banyak buku yang kemudian digelar di atas sebuah tikar sederhana. Ada buku dongeng anak-anak. Ada majalah anak-anak. Ada pula berbagai buku pengenalan teknologi sebagai sarana edukasi untuk anak-anak.

Di samping membawa sejumlah buku untuk menumbuhkembangkan minat baca anak-anak yang datang, Mas Krisna juga membawa sekarung perangkat gangsingan. Pahamkan dengan gangsingan? Gangsingan merupakan alat permainan tradisional yang dirancang untuk dapat berputar pada satu titik keseimbangan. Gangsingan sengaja dibawa Mas Krisna untuk menarik anak-anak agar datang dan merapat di lingkaran stand bukunya. Sungguh sebuah strategi untuk mengundang anak-anak berkumpul yang jitu. Dan tidak menunggu seberapa lama, stand buku itupun rame dengan anak-anak yang tertarik dengan gangsing.

Anggoro, sebut saja demikian. Ia siang itu nampak antusias untuk ikut lomba adu gangsing di salah satu sudut Pendopo Desa Sumber. Ia sebelumnya tidak mengenal dolanan gangsingan. Hari itu ia dan beberapa teman sekolahnya datang ke Festival Tlatah Bocah XII. Ia nampak sangat tertarik dengan dolanan gangsingan. Sebuah alat permainan tradisional yang terbuat dari bambu yang kebetulan digelar di salah satu stand. Beberapa pendamping mengajari anak-anak yang baru mengenal dan belum bisa memainkan gangsingan.

Tidak terlalu sulit untuk menguasai teknik atau cara memainkan gangsing bambu. Tali pengait tinggal dililit rapi dari bagian ujung atas hingga ujung bawah pegangan gangsing. Setelah siap, dengan suatu pegangan khusus, gangsing itu siap diluncurkan dengan menarik lilitan tali sehingga gangsing berputar kencang pada titik tumpuan keseimbangan di sisi bawah gangsing. Gangsing itupun segera berputar kencang di atas permukaan lantai yang datar.

Berbeda dengan anak-anak lain yang demikian mudah belajar dan langsung memainkan gangsing masing-masing, Anggoro sedikit kesulitan dalam melilitkan tali ke pegangan gangsing. Beberapa kali diajari, beberapa kali mencoba, ia tidak langsung paham. Namun ia sungguh gigih untuk terus mencoba dan mencoba terus.

Untuk menambah keramaian dan antusiasme anak-anak, tiba-tiba Mas Krisna menempelkan lakban hitam pada beberapa petak lantai keramik pendopo. Ruas garis lakban itu membentuk sebuah kotak persegi panjang. Ia kemudian memanggil dan mengumpulkan anak-anak. “He, adik-adik. Ayo lomba main gangsing. Sopo sing gangsinge muter paling suwe karo ora metu seko garis kotak, dadi juara. Entuk hadiah wis! “ demikian Mas Krisna berkata lantang dan jelas. Tentu seruan itu segera disambut oleh anak-anak dengan sangat antusias.

Aku melu, aku melu. Aku ikut ya Mas,” tak ketinggalan Anggoro yang masih uplek belajar melilit tali dengan benar juga tidak ingin ketinggalan.

Anak-anakpun segera merapat melingkari kotak ajang perlombaan gangsing. Masing-masing kemudian menyiapkan gangsing masing-masing yang dipinjamkan Mas Krisna. Demikian anak-anak itu siap dengan gangsing di tangan, Mas Krisna memberi aba-aba, “ Diluncur barengan ya! Satu, dua, tiga!

Gangsing-gangsing itupu segera meluncur kencang dari tangan masing-masing anak. Beberapa gansging satu sama lain ada yang saling bertabrakan. Ada pula gangsing yang terlalu cepat melaju sehingga justru langsung keluar dari kalangan lomba. Kecepatan luncur gangsing itu menimbulkan bunyi nyaring melengking. Gangsing bambu memang dirancang dengan sebuah celah garis di sisi tengah ruasnya. Saat gangsing berputar kencang, gesekan angin di permukaan samping bambu akan membangkitkan bunyi ngoong yang nyaring itu. Anak-anak bersorak riang. Beberapa diantaranya hingga berteriak-teriak seru. Ada pula yang betepuk tangan penuh semangat.

Setelah sekian waktu saling meluncur dan berputar kencang, tinggal beberapa gangsing bertahan di tengah kalangan. Gangsing itu terus berputar seakan memiliki energi putar yang berasal dari teriakan dan sorak sorai anak-anak yang melingkarinya. Lama kelamaan, satu per satu gangsing kehabisan energy putarnya. Satu per satu gangsing tersebut berhenti berputar dan roboh. Hingga akhirnya tersisa satu gangsing yang berputar paling lama. Dialah gangsing yang kemudian dinyatakan sebagai pemenanang. Untuk gangsing juara, Mas Krisna memberikan buku ataupun poster kepada anak-anak yang memainkannya. Puncaknya, juara adu gangsing berhak membawa pulang gangsing baru.

Ronde pertama selesai. Tidak sampai di situ, ronde-ronde berikutnya digelar kembali. Anggoro, si bocah kecil yang belum mahir melilit tali gangsing itu semakin semangat untuk terus mengikuti lomba gangsing. Ronde satu, dua, tiga, hingga setengah hari mencoba peruntungan adu gangsing, ia belum beruntung juga. Gangsing yang dimainkannya senantiasa tertabrak dan keluar kalangan. Kadang ketika gangsingnya berputat cukup lama, ternyata masih ada gangsing lain yang selalu dapat mengalahkan gangsingnya. Hingga ketika tengah hari menjelang, dan adu gangsing di hari itu diakhirnya, Anggoro nampak kecewa dan masih terus penasaran. Ia ngotot agar adu gangsing terus dilanjutkan.

Besok masih ada lagi kok adu gangsingnya, “ Mas Krisna memberikan keterangan.

Anggoro nampak sangat kecewa. Ia seolah memendam semangat dan janji untuk di keesokan harinya datang dan memenangkan lomba adu gangsing. Ia sangat ingin memiliki gangsing untuk menemaninya bermain di rumah. Tentu bersama teman-teman sekampung atau sesekolahnnya.

Anggoro hanyalah salah satu sosok anak Merapi yang begitu antusias untuk kembali memainkan gangsing sebagai permainan tradisional yang kini sedikit banyak telah tergeser bahkan tergantikan dengan permainan berbasis gadget. Semoga ke depan masih banyak Anggoro-anggoro lain yang ingin memainkan dan melestarikan aneka permainan tradisional peninggalan leluhur yang sungguh kaya nilai filosofi dalam rangka penanaman nilai dan budi bekerti mulia. Semoga.

Tepi Merapi, 2 November 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s