Anak-anak Berjiwa Gajah Mada Sumpah Palapa


Anak-anak adalah pemilik masa depan peradaban dunia. Ia adalah benih yang senantiasa bertumbuh dan berkembang. Memiliki karakter yang kuat, memiliki jati diri yang tangguh, memiliki budi bekerti yang luhur, intinya memiliki segala prasyarat manusia paripurna. Terkait dengan memelihara dan memupuk benih tersebut agar kelak di saat dewasanya dapat mengemban misi kemanusiaan dengan sebaik baiknya, tentu merupakan tugas dan tanggung jawab manusia dewasa di sekitarnya. Orang tua, keluarga terdekat, dan masyarakat sekitar sangat menentukan hal tersebut.

Seni dapat menjadi salah satu alternatif sarana untuk memelihara dan menumbuhkembangkan karakter, jati diri, budi pekerti dan segala bekal yang harus dimiliki anak-anak kita. Dengan seni anak-anak berlatih berbagai hal. Menempa kedisiplinan, ketekunan, dan ketrampilan. Menjalin kerja sama dengan orang lain, mengutamakan kebersamaan, taat kepada aturan dan sistem, berpadu dalam kesatuan. Bersama, kebersamaan, satu, kesatuan, persatuan, inilah pilar spirit dan semangat gotong royong yang menggelora. Adakah ruh semangat-semangat tersebut terekspresikan dalam foto anak-anak saat pentas seni di atas.

Gambar di atas merupakan kemeriahan anak-anak di lereng Merapi yang tengah mementaskan seni Campur pada pagelaran Festival Tlatah Bocah ke XII, 28 Oktober 2018 lalu di Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Festival Tlatah Bocah sendiri merupakan media ekspresi seni anak-anak berbasis seni dan tradisi lokal yang terbesar di Jawa Tengah.

Seni Campur merupakan seni khas yang berasal dari wilayah Magelang. Serupa dengan seni jathilan atau jaran kepang, barisan prajurit yang menyertai raja saat perang dalam seni Campur tidak mengendarai kuda. Prajurit-prajurit tersebut justru menenteng tombak yang diujungnya berkibar bendera, rontek, atau umbul-umbul pralambang spirit, semangat, kekuatan, serta cita-cita perjuangan. Prajurit-prajurit dalam barisan itu memang berperang. Namun perang yang mereka lakukan adalah perang dalam rangka menegakkan keadilan dan kebenaran. Perang melawan hawa nafsu kebinatangan sebagaimana tergambar oleh perwujudan hewan-hewan di sekitar kedua pasukan yang tengah berlaga tersebut. Bukan perang yang asal main kekuasaan untuk menindas pihak lain. Perang abadi antara kebenaran dan kebatilan. Perang abadi antara manusia dengan nafsu angkara murkanya sendiri.

Lebih luas daripada konteks perang, untuk memenangkan perang, pasukan prajurit bertombak tersebut membutuhkan persatuan dan kesatuan. Ibarat kata pepatah, bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh. Siapa yang kokoh tali persatuannya, dialah yang akan lebih kuat, lebih tangguh, dan akhirnya unggul sebagai pemenang. Dalam konteks ruang dan waktu dimana seni Campur tersebut diperankan oleh anak-anak tepat di Hari Sumpah Pemuda, tentu momentum menanamkan spirit persatuan dan kesatuan tersebut sangat tepat.

Melalui dua prajurit segelar sepapan yang tengah bertempur dengan komando dan persatuan setiap pasukan, kita dapat membayangkan bagaimana Maha Patih Gajah Mada lantang mengikrarkan Sumpah Amukti Palapa sebagai komando kepada prajuritnya untuk mempersatukan seluruh anak bangsa Nusantara ke dalam panji-panji kesatuan Majapahit. Anak-anak itu, benih-benih anak bangsa yang masih murni demikian khitmad dan khusus dalam peran masing-masing. Ada yang merankan raja sebagai panglima perang. Ada kesatuan prajurit yang melaksanakan setiap komando dari panglima dengan bersungguh-sungguh, penuh rasa disiplin dan tanggung jawab yang dilandasi semangat persatuan-kesatuan yang membara. Ada lagi yang berperan sebagai buta, cakil, kethek, bugis, dan peraga yang lain. Mereka semua menggambarkan warna-warni pakaian, peran, wujud, namun mereka meleburkan diri dalam kesatuan dan kekompakan menjadi sebuah harmoni gerak yang memukau siapapun yang menyaksikannya.

Semoga Sumpah Pemuda dapat dimaknai oleh anak-anak kita sebagai sebuah bekal untuk hidup yang harmoni dan damai dalam segala hal perbedaan yang hadir. Beda suku, beda ras, beda agama, beda peran, beda warna, beda apun janganlah dijadikan alasan untuk berpecah-belah. Ibarat sesanti luhur dari para leluhur, holobis kuntul baris, bersatu, berpadu, bergotong-royong dalam setiap aspek kehidupan kita akan menumbuhkembangkan kehiduan yang aman, tentram, dan damai senantiasa. Dengan demikian holobis kuntul baris sebagai tema Festival Tlatah Bocah ke XII tahun 2018 ini sangat relevan dengan spirit Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Kulon Balairung, 29 Oktober 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s