Blogger Obor Blarak


Obor blarak. Ah,mana ada lagi di jaman yang serba teknologi elektronik saat ini. Kalaupun kita perlu berpegian di gelap malam, tokh sudah ada lampu senter. Bahkan jika kita bepegian jarak jauh dan berkendara, tentu kendaraan tersebut sudah dilengkapi dengan lampu penerang yang memadai. Mana ada lagi orang butuh oncor? Obor tradisional dari tabung ruas bambu berbahan bakar minyak tanah itu. Terlebih obor blarak.

Mungkin diantara pembaca sudah lupa atau bahkan sama sekali tidak paham dengan obor blarak. Lha di acara pembukaan ASIAN GAMES yang lalu saja, obor yang diarak sudah berbahan bakar gas. Sama-sama menyalakan api, tetapi esesnsi dan gengsinya sungguh sangat jauh berbeda. Obor blarak sudah tentu obor yang memancarkan api dengan bahan bakar blarak. Blarak sendiri merupakan daun kelapa yang sudah mengering. Beberapa batang blarak dulu biasa diikat segenggaman tangan dan disulutkan pada pada ujung atasnya.

Pada masanya, obor blarak memiliki kegunaan sebagai penerang perjalanan pada malam hari. Jaman dulu tentu belum ada batere atau lampu senter. Obor blarak dipandang sebagai obor yang paling praktis dibuat dan dibawa. Jikapun kemudian obor blarak selesai atau tidak akan digunakan lagi, sisa blarak yang belum terbakar dapat langsung dibuang di pinggir jalanan.

Di samping untuk keperluan sarana penerang perjalan malam hari, obor blarak juga sering digunakan untuk opek geni. Opek geni? Istilah apalagi opek geni? Di masa lalu, terlebih di lingkungan pedesaan tidak setiap rumah tangga memiliki korek api. Padahal di masa itu sebagian besar dapur rumah tangga masih menggunakan kayu bakar untuk keperluan masak-memasak. Khususnya di sore hari sangat lazim dijumpai ibu-ibu yang membawa seikat blarak untuk meminta api kepada tetangganya. Inilah versi obor blarak yang ke dua.

Ada lagi dalam khasanah Bahasa Jawa ungkapan berkenaan dengan obor blarak. Dalam salah satu episode drama tivi Kuncung Bawuk, si Kuncung dan teman-temannya sedang semangat-semangatnya untuk berkesenian tabuh gamelan alias karawitan. Tak segan-segan anak-anak itu merengek bahkan memprovokasi para orang tuanya untuk mensponsori seperangkat gamelan yang sudah tentu tidak murah bagi ukuran masyarakat dusun setempat.

Di satu sisi para orang tua tersebut merasa gembira bin bangga bahwa anak-anak di lingkungannya memiliki kesadaran untuk nguri-uri dan melestarikan budaya adiluhung warisan nenek moyang. Ya, meskipun harus menanggung urunan uang untuk membeli perangkat gamelan yang lumayan besarnya, tidak menjadi persoalan. Namun di sisi yang lain, para orang tua itupun sedikit sangsi dengan permintaan anak-anaknya. Apakah mereka memang ingin dan sungguh-sungguh untuk berkarawitan. Yang menjadi kekhawatiran bagaimana jika anak-anak itu semangat untuk latihan karawitan hanya di awal-awal saja. Ketika gamelan masih baru, ketika belum memiliki keasyikan yang lain, atau sebelum rasa bosan melanda, mungkin anak-anak itu akan sangat semangat untuk berlatih. Tetapi berapa lama hal itu dapat dipertahankan?

Lho bisa saja akan keingian anak-anak tersebut hanya sebuah trend sesaat. Ketika masih baru, ketika belum bosan mungkin mereka akan lupa waktu dan tenggelam dalam keasyikan berkarawitan. Tetapi seberapa lama mereka dapat istiqomah untuk menjadikan gamelan sebagai bagian kesehariannya. Semangat yang hanya menggebu di saat sesuatu masih baru, masih gres, masih kinyis-kinyis inilah yang diibaratkan dengan semangat obor blarak. Menyala-nyala, meluap-luap hanya pada saat awal ketika sesuatu masih baru dan rasa bosan belum mendera.

Lalu apa hubungan antara kisah semangat obor blarak dengan blogger obor blarak sebagaimana tajuk tulisan ini? Mengingat kisah episode si Kuncung tentang semangat obor blarak ini, kita mungkin teringat dengan komentar Roy Suryo terkait fenomena boomingnya weblog atau blog dengan blogger-blogger pelakunya pada satu dasawarsa yang lalu. “Blogging hanyalah trend sesaat! ” demikian kira-kira ungkapan itu.

Kita tahu dan paham sekitar 2006-2007 warga internet sedang gandrung-gandrungnya dengan “mainan” baru yang bernama blog. Blogging seolah menjadi tonggak dan puncak aktivitas, bahkan prestasi bagi para netizen untuk menjelajah dan eksis di jagad internet. Tidak hanya cukup interaksi antar blogger di dunia maya, kopi darat alias kopdar-kopdarpun digelar di berbagai tempat dan daerah. Bahkan di selang waktu itu tumbuh menjamur berbagai komunitas blogger dengan berbagai latar belakang hingga di kota-kota kecil.

Lewat jaringan dan jalur-jalur persahabatan antar personil maupun komunitas blogger ini, tercatatlah banyak perhelatan kopdar dari tingkat lokal, daerah, nasional, bahkan regional yang digelar. Sebut beberapa diantara Ziarah Timur Tengah, Pesta Blogger, Muktamar Blogger, Amprokan Blogger, Wisata Blogger, Blogger Nusantara, hingga ASEAN Blogger Community Festival. Tidak hanya kopdar-kopdar yang fenomenal, melalui berbagai jaringan tercetus dan lahirlah Hari Blogger Nasional pada 27 Oktober 2007.

Kini, menjelang Hari Blogger Nasional ke-11, masihkah barisan blogger-blogger yang mencetuskan dan melahirkan hari keramat itu masih eksis di rumah blognya masing-masing. Adakah spirit ngeblog itu masih setangguh dan sekuat sebelas tahun silam. Meskipun tentu ada regenerasi dan blogger yang silih berganti dating dan pergi, namun pertanyaan mendasar itu kembali terngiang lagi. Adakah blogger memang hanya trend sesaat di masa lalu, yang dapat diartikan juga semangat ngeblog hanyalah sebuah semangat sesaat, semangat karbitan, dan ya itu tadi “semangat blogger obor blarak”. Semua jawaban tentu kembali kepada masing-masing warganet yang pernah merasa memiliki predikat atau atribut sebagai blogger.

Selamat Hari Blogger Nasional ke-11. Semoga tetap jaya di dunia maya!

Bulaksumur, 26 Oktober 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Blogger dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s