Sumbang-Menyumbang Berujung Hutang-Piutang


Orang hidup tentu tidak bisa terlepas dari kebutuhan hidup. Orang hidup perlu pangan. Orang hidup perlu sandang. Orang hidup perlu papan, serta segala macam kebutuhan hidup lainnya. Tentu saja untuk memenuhi setiap kebutuhan hidup manusia diperlukan uang. Tanpa harus menjadikan uang sebagai segala-galanya dalam hidup, uang kita yakini dan akui bersama sebagai hal yang penting dalam kehidupan kita. Tidak ada kebutuhan hidup yang didapatkan dengan cuma – cuma. Ibarat kata tidak ada yang gratis di dunia ini. Setiap hal sebagai bagian dari kebutuhan hidup manusia memerlukan nilai penukar yang berimbang. Dan itulah fungsi dan guna uang.

Untuk memiliki uang orang harus bekerja. Dengan bekerja, orang memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Uang biasa diidentikkan sebagai penghasilan dari suatu kerja yang dilakukan. Penghasilan yang didapatkan inilah yang selanjutnya dibelanjakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup. Kebutuhan yang semakin banyak semestinya diimbangi dengan jumlah penghasilan yang semakin meningkat pula. Namun demikian hal tersebut tentu tidak senantiasa berlaku ataupun terjadi sebagaimana keinginan manusia. Seringkali, atau bahkan selalu, peningkatan kebutuhan jauh lebih besar dibandingkan dengan peningkatan penghasilan kita. Akibatnya ada kesenjangan yang semakin lebar antara penghasilan dan kebutuhan.

Banyak cara dilakukan orang untuk memperkecil kesenjangan antara penghasilan dan kebutuhan. Ada yang bekerja lebih ekstra. Ada yang melakukan kerja sampingan. Ada yang menggandeng pemilik modal untuk berinvestasi. Namun ada pula yang ringan tangan untuk berhutang. Bisa hutang dari kerabat sendiri, dari teman atau kenalan, bisa juga behutang kepada lembaga keuangan resmi, mulai dari koperasi, paguyuban arisan, dan juga berhutang ke bank.

Salah satu jenis kebutuhan yang biasanya memerlukan biaya yang tidak sedikit adalah hajatan. Menyuguhkan minuman, makanan kecil, hingga hidangan makan besar. Menyewa kursi, meja, tenda, perangkat dekorasi, hingga gedung. Mengerahkan sanak-saudara, ataupun para tetangga untuk rewangpun tidak lepas dari biaya.

Terkait dengan gelaran hajatan, masyarakat kita sesungguhnya memiliki adat tradisi yang sangat mulia dalam rangka meringankan beban shohibul hajat. Tradisi kondangan dengan paket sumbangan kepada si empunya hajat ini masih terjaga lestari di tengah masyarakat kita. Tidak hanya di kalangan masyarakat desa, di kotapun masyarakat masih “mengamalkan” sumbang-menyumbang ini.

Bagi sebagian besar kalangan masyarakat kita, sanak-saudara, kerabat, keluarga besar, ataupun rekan dan teman yang mengirimkan undangan pada suatu acara hajatan wajib didatangi. Tidak hanya datang dengan membawa badan semata, kedatangan atau kondangan dalam suatu hajatan juga menyertakan suatu bentuk sumbangan. Sumbangan tidak harus berupa uang. Orang menyumbang hajatan dengan beraneka ragam sumbangan. Ada yang memnag menyumbang dengan uang. Ada yang menyumbang dengan bahan makanan, sayur-mayur, buah-buahan, telur, bahkan ternak ayam. Bentuk dan jumlah sumbangan biasanya tidak mengikat, sesuai kemampuan masing-masing keluarga.

Sumbangan sejatinya merupakan salah satu bentuk tali asih dari sebuah hubungan kekerabatan atau persaudaraan. Besar kecilnya arti sebuah sumbangan tidak dapat dinilai dengan nilai nominal, apakah itu berupa jumlah uang maupun jumlah barang. Kondangan plus sumbangan yang menyertainya sesungguhnya merupakan bentuk penghormatan kepada si pengundang, serta pengakuan tali persaudaraan yang terjalin sebelumnya. Ketika saudara, kerabat, rekan ataupun teman kita sedang membutuhkan biaya dalam rangka suatu hajatan, maka sudah sepantasnya jika saudara, kerabat, rekan ataupun teman yang lain mengulurkan bantuan.

Manusia saling hidup berdampingan dalam suatu masyarakat. Saling bantu-membantu, saling tolong-menolong, saling kasih-mengasihi, saling sumbang-menyumbang adalah anjuran kebaikan dari semua ajaran agama ataupun moral bangsa manapun. Siapa yang memiliki hajatan, sudah sewajarnyalah jika yang lain mengulurkan tangan untuk menyumbang. Kelak di saat si penyumbang memiliki hajatan, giliran orang lainlah yang memberikan sumbangan kepadanya. Kerelaan dan keikhlasan menjadi alas dalam hidup yang saling memberi. Alangkah indahnya pergaulan kebersamaan dan persaudaraan dalam tata nilai dan norma yang dimiliki bangsa kita.

Ibarat kata pepatah, lain ladang lain belalang. Tidaklah semua masyarakat memandang peristiwa sumbang-menyumbang dalam rangka hajatan tertentu sebagai bentuk saling tolong-menolong dalam kerangka nilai kerelaan dan keikhlasan. Rupanya ada pula sekelompok masyarakat yang memandang sumbang-menyumbang sebagai bentuk hutang-piutang. Orang yang memberikan sumbangan dalam suatu hajatan dianggap memberikan piutang kepada shohibul hajat. Kelak ketika si penyumbang memiliki hajatan, maka si empunya hajat saat ini harus mengembalikan pinjaman piutang kepada penyumbangnya dalam wujud yang sama.

Khusus untuk masyarakat unik sebagaimana kami singgung ini, “bentuk” sumbangan kepada keluarga shohibul hajat seringkali justru dilelangkan berdasarkan kebutuhan yang diperlukan. Tidak jarang muncul “request”, “Siapa ingin menyumbang minyak lima puluh liter? Siapa ingin menyumbang daging 20 kg? Kelapa 100 butir?”, dan lain sebagainya. Nah wujud dan jumlah barang sumbangan ini kemudian dicatat oleh shohibul hajat untuk kelak dikembalikan dalam wujud dan jumlah barang yang sama ketika si penyumbang mengadakan suatu hajatan. Jadilah hubungan sumbang-menyumbang telah berubah menjadi hubungan hutang-piutang. Hal demikian tentu saja menjadikan sebuah perhelatan hajatan pada suatu keluarga berpotensi sebagai tindakan penggalian lubang hutang. Repotnya jika lubang-lubang hutang itu terus bertambah dan tidak bisa ditutup. Bisa jadi hutang yang terjadi menjadi tanggungan, bahkan warisan bagi anak cucu di kelak kemudian hari. Bukankah sungguh merepotkan?

Ngisor Blimbing, 16 Oktober 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s