Antara Bumi dan Manusia


Bumi adalah bagian alam semesta raya sebagai tempat hidup kita. Bumi adalah makhluk ciptaan Tuhan. Demikian halnya dengan manusia. Bumi tercipta terlebih dahulu dibandingkan manusia. Setelah kejadian maha dahsyat sebagai titik awal keberadaan ruang dan waktu yang disebut sebagai big bang, tergelarlah langit dengan segala bintang-gemintang, gugusan tata surya, matahari, bumi, bulan, planet-planet dan segala isi ruang angkasa lainnya. Segala macam rupa bakteri, virus, jamur, tumbuhan segera dikembangkan untuk menghuni waktu dan ruang yang baru diedarkan tersebut. Menyusul kemudian binatang dan hewan-hewan.

Setelah semesta tergelar lengkap, termasuk segala rupa tumbuhan dan binatang, barulah manusia dihadirkan sebagai makhluk-Nya yang terakhir. Manusia dicipta sebagai puncak kreativitas penciptaan Tuhan. Setelah alam terhampar, Tuhan menitahkan adanya satu makhluk hidup untuk meng-khalifahinya. Meskipun mendapatkan kesangsian dan protes dari iblis bahwasanya manusia hanya akan menumpahkan darah dan menebarkan kerusakan di alam semesta, namun Tuhan tetap pada keputusan untuk mengutus manusia ke bumi. Manusia dititahkan-Nya untuk mengemban amanah sebagai kalifatullah fil ardzi, pemimpin di muka bumi.

Dilihat dari sisi awal mula asal usul penciptaannya, manusia adalah saudara muda bumi sedangkan bumi adalah saudara tua dari manusia. Manusia tercipta jauh setelah bumi diciptakan. Demikian halnya alam semesta raya dimana bumi dan manusia ada tercipta jauh terlebih dahulu dari keduanya, sehingga alam semesta raya ibarat saudara sulung dari bumi dan manusia. Dari sudut pandang awal mula asal usul maupun dimensi ukuran fisik daripada alam semesta, bumi, dan manusia, tentu manusia hanyalah setitik debu kecil di tengah jagad raya. Manusia mikrokosmos terhadap bumi, terlebih terhadap alam semesta raya. Sebaliknya, alam semesta raya makrokosmos terhadap bumi, makrokosmos juga terhadap manusia.

Di sisi lain, apabila dilihat dari sisi keberadaan manusia sebagai pemimpin bumi dan alam semesta melalui titah kalifatullah fil ardzi Nya tadi, sesungguhnya manusia di atas kedudukan bumi dan alam semesta raya. Di samping diciptakan untuk mengkhalifahi bumi dan alam semesta, penciptaan manusia pada fase yang terakhir merupakan sebuah puncak penciptaan dimana seluruh unsur dan materi yang ada di segenap penjuru alam semesta disarikan dalam tubuh manusia. Setiap sari pati dan inti daripada setiap unsur pembentuk bintang dan galaksi ada dalam diri manusia. Oksigen, nitrogen, karbon, hydrogen, kalsium, dan segala rupanya ada di dalam diri manusia. Pada titik inilah manusia menjadi sentral atau pusat semesta raya. Dari sudut pandang inilah, manusia bersifat makrokosmos terhadap bumi, manusia juga makrokosmos terhadap alam semesta raya.

Lebih daripada itu semua, sebagai kalifatullah fil ardzi, sebagai mikrokosmos sekaligus makrokosmos dari bumi, juga sebagai saudara muda dari bumi, apakah yang telah dilakukan manusia di bumi tempatnya berpijak hingga hari ini. Persis sebagaimana dikhawatirkan oleh iblis pada saat Tuhan menitahkan rencana awalnya untuk  menciptakan manusia, manusia lebih banyak menumpahkan darah dan merusak di muka bumi!

Minyak bumi, gas alam, batubara, emas, perak, tembaga dan segala macam rupa bahan galian tambang, dikeruk dari dalam dan permukaan bumi secara semena-mena. Hutan dan pepohonan dibabat habis hingga menyisakan tanah gundul yang menimbulkan kekeringan, tanah longsor, dan banjir bandang di banyak tempat. Sungai, telaga, danau, hingga laut dan samudera dicemari dengan sampah dan limbah. Dari banyak kegiatan eksploitasi manusia terhadap bumi, manusia benar-benar telah menjadi sosok sentral yang justru merusak tata keseimbangan bumi itu sendiri. Manusia sendirilah yang mengancam kelestarian dan keberlanjutan alam, dan hal demikian jelas mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Semua itu sejatinya bersumber dari keserakahan manusia.

Ingatlah betapa nasehat dari para bijak telah menitahkan, “Satu bumi cukup untuk menghidupi milyaran manusia yang bersyukur, namun bumi bahkan segenap alam semesta yang tergelar tidak akan pernah cukup untuk menghidupi satu orang saja yang serakah.

Asap kendaraan hingga asap pabrik, debu jalanan hingga debu mesin-mesin berat, dan segala rupa polusi udara adalah akibat keserakahan manusia. Kotoran manusia, botol-botol bekas, plastik, bahan beracun sisa industri, limbah cair, dan segala rupa polusi air yang mengancam kelestarian sungai, telaga, danau, laut dan samudera kita adalah akibat keserakahan manusia. Hutan gundul, bukit dan gunung yang dikeruk, tidak diragukan lagi juga sebagai akibat keserakahan manusia.

Masihkah manusia akan terus mengeruk bumi dengan serakah? Masihkan manusia akan terus mengotori bumi dengan segala sampah dan limbah? Dapatkan kita lebih bijak untuk memerlakukan bumi dan alam sebagaimana mestinya, sebagai saudara tua dari manusia, sebagai amanah Tuhan untuk kita “khalifahi”? Monggo kita merenung kembali. Untuk kita, untuk bumi kita, dan terlebih untuk generasi anak cucu kita di masa depan.

Ngisor Blimbing, 14 Oktober 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s