Batu Penyu Penunggu Laut Kidul


Karang dan ombak adalah satu kesatuan perjodohan. Karang simbolisasi darat, sementara ombak menjadi simbolisasi laut. Karang berpijak di atas tanah, sementara ombak menjadi teman karib sang air. Karang mewakili kekerasan dan kekakuan, sementara ombak  mewakili kelembutan dan kelenturan. Darat dan laut. Tanah dan air. Keras dan lembut. Kaku dan lentur. Semua senantiasa berpasangan. Ibarat langit dan bumi. Ibarat siang dan malam. Demikianlah sabda alam telah menautkan antara karang dan ombak.

 

Karang dengan tebing-tebing curamnya di Pantai Selatan sisi timur wilayah Yogyakarta memang senantiasa menghadirkan keistimewaaan yang beraneka ragam. Demikian halnya dengan hempasan ombak yang menerjang karang-karang tersebut. Bergulung-gulung senantiasa tiada pernah ada habisnya. Mereka adalah kesatuan pagar alam yang membentengi wilayah darat di sisi belakangnya.

Salah satu karang istimewa dengan bentu uniknya bias kita temukan di Pantai Drini. Pantai Drini merupakan salah satu penggalan ruas pantai yang menjadi satu kesatuan deretan Pantai Krakal, Indrayanti, Drini, Kukup, hingga Baron. Batu karang yang dijuluki sebagai Pulau Drini tersebut seolah sebuah onggokan bukit batu karang raksasa yang terpenggal dan terpisah dari kesatuan kawan-kawannya. Ia seperli hanyut bahkan terlarut oleh seretan ombak Pantai Selatan yang mengajaknya menyelami Palung Jawa yang begitu dalam.

Di samping besar, perkasa, dan tegar, ada satu lagi yang istimewa dari batu karang Pulau Drini. Bentuk! Ya, jika berkesempatan melihat secara langsung kita tentu sepakat menafsirkannya sebagai seekor penyu ataupun kura-kura raksasa. Dengan bagian kepala mencungul mungil di sisi barat dan punggung raksasanya, penyu raksasa itu seolah benar-benar hidup dan nyata. Saya sendiri tidak paham bagaimana asal-usul keberadaan batu karang penyu raksasa tersebut. Mungkin ada kisah dongeng legendanya, saya tidak tahu secara persis. Ah, mungkin justru kelak bias menjadi sebuah dongengan baru.

Tidak hanya sekedar memandang dan mengagumi dari kejauhan, pulau batu karang penyu raksasa itupun bias dinaiki oleh pengunjung. Sebagai sebuah bukit karang yang terpenggal sebagai sebuah onggokan pulau, punggung penyu tersebut cukup luas untuk menjadi ajang penjelajahan. Dari atas punggung sang penyu, tepat di pucak bukit batu karang kita dapat memandang jauh terbentang. Di sisi lautan, betap ombak senantiasa bergulung-gulung nan tiada lelahnya untu meraiah daratan. Sementara di sisi daratan, nan jauh mata memandang juga terbentang bebukitan karang dan batu kars khas Pegunungan Sewu yang konon dulunya merupakan dasar lautan yang terangkat menjadi daratan. Sungguh perpaduan dua pemandangan yang sungguh luar biasa.

Tidak perlu membayangkan bahkan khawatir untuk menaiki bukit batu karang tersebut akan sulit dan berbahaya. Pengelola wisata setempat telah membuat jalur atau track khusus dari dasar pantai ke atas bukit. Ribuan anak tangga melingkar bagaikan ular naga nan panjang dapat ditelusuri dan ditapaki. Di sisi tepi anak tangga anak tangga itupun telah dilengkapi dengan pagar pengamanan. Di beberapa sudut juga telah tersedia gazebo untuk beristirahat dan menikmati suasana panorama yang ada. Tidaklah rugi bagi pengunjung untuk memberikan dua ribu perak sebaga imbalan untuk menikmati sensai punggung bukit batu karang penyu raksasa satu-satunya di Pantai Selatan tersebut.

Di samping latar pemandangan darat dan laut, saat menjelang senja di atas puncak punggung penyu batu karang tersebut juga menghadirkan nuansa, suasana, dan tentunya panorama yang sungguh elok jelita. Matahari yang sinar temaramnya seolah lembut menyapa. Tidak seterik di kala siang harinya, temaram mentari senjata adalah sebuah kelembutan dan ketenangan sak makhluk raksasa yang menuju peraduan malam. Menyaksikan sang matahari turun tahta untuk kemudian tenggelam dan masuk ke dasar Samudra adalah sebuah ketakjuban yang sungguh luar biasa.

Bagaimana mungkin sang bagaspati ditelan Samudra? Bagaimana mungkin inti kekuatan sang api mampu berdamai dan berdampingi mesra dalam tidur di peraduan malam? Inilah hidup dan kehidupan. Inilah gambaran Tuhan yang kuasa atas segala makhluk-Nya. Tiada yang lebih hebat, apalagi paling hebat! Tidak ada yang lebih unggul, apalagi paling unggul. Tuhan benar-benar menciptakan dan menghadirkan setiap makhluk-Nya dalam posisi dan komposisi untuk saling melengkapi satu sama lain. Satu sama lain adalah kesatuan. Satu sama lain adalah teman. Satu sama lain adalah bagian-bagian yang berperan untuk melukis dan menghadirkan keutuhan itu sendiri. Satu sama lain saling sama-sama pentinya dalam menghadirkan kedamaian. Dalam memadukan diri untuk mewujudkan keharmonisan.

Tiadakah manusia bisa kembali menyelaminya? Tiadakah manusia bisa belajar banyak hal dari karang dan ombak? Dari daratan dan lautan. Dari bumi dan dari matahari. Dari Pulau Penyu Penunggung Laut Kidul? Atau dari apapun ciptaan Tuhan? Atau dari Tuhan itu sendiri?

Tepi Merapi, 4 Oktober 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s