Keluarga Klapaloro: Paseduluran Tanpa Batas


Pak Hadi Sularno dan ibu. Lelaki dan perempuan usia lebih dari paruh baya itu saya kenal hampir dua puluh tahun silam. Sekian lama waktu terentang dan sekian jauh jarak terbentang telah memisahkan kami. Namun demikian seolah rentangan waktu dan bentangan jarak tersebut tidak bisa memutus tali persaudaran yang terjalin. Hal ini terasa tatkala di pekan lalu, kami sekeluarga kembali menyambangi rumah asri di Klapaloro,wilayah Giripanggung, Tepus, Gunung Kidul. 

Pasangan suami istri dari wilayah Gunung Kidul Selatan tersebut nampak tidak terlalu berubah raut muka maupun perawakannya. Kebetulan ketika kami tiba, dua suami-istri tersebut sedang bersantai diri di teras rumah. Sedikit pangling sesaat dengan saya, namun sekejap kemudian ingatan mereka langsung pulih. Kamipun bersalaman. Sungguh sebuah pertemuan yang mengharu-biru. Bagaimanapun mereka berdua adalah sosok-sosok yang dekat selayaknya orang tua sendiri.

Pertemua sejenak setelah sekian lama tak jumpa ini menjadi saat bagi kami untuk kembali melepas kangen. Lebih dari itu, pada kesempatan kali ini terasa lebih istimewa karena saya datang dengan bergada pasukan lengkap. Ada istri, si Ponang, dan tentunya si Noni juga tidak ketinggalan. Misi Utama dolan ke Klapaloro kali ini adalah mempertautkan tali persaudaraan diantara kedua keluarga kami. Bagaimanapun anak-anak kami perlu mengetahui jejak sejarah bapaknya yang dulu pernah berkelana dan mengembara di bawah bayang-bayang tanah kapur wilayah Pegunungan Seribu.

Sejenak kemudian beberapa tetangga turut menimbrung pertemuan kami. Ada Pak Wagimin, Mbok Sugi, dan beberapa raut wajah sederhana yang sebagian diantara sudah samar namanya di ingatan. Kamipun saling bertukar kabar cerita. Setidaknya dalam kesempatan silaturahmi seperti momen saat itu, saya kembali mengetahui kabar Mbak Marsih anak semata wayang dari Pak dan Bu Sular. Mas Sulis, sang menantu. Maupun kabar Lisa dan Bagas, dua pasang cucu-cucu mereka.

Berkisahlah Ibu Sular tentang Mbak Marsih, anak semata wayang yang hidup di perantauan Tanah Cipanas. Ia Bersama Mas Sulis, suaminya, masih dipercaya untuk mengelola sebuah villa di depan Taman Bunga Nusantara. Beberapa kali kamipun pernah bermain dan menginap di sana. Mbak Marsih ternyata kini juga membuka usaha jasa laundry di sekitaran Plengkung Gading, Alun-alun Selatan Yogyakarta.

Adapun Lisa, sudah tumbuh kian dewasa. Gadis yang dimasa bocahnya sering saya gendong dan jika sedang ngambek sering menggigit tangan saya hingga pingget itu sedang menempuh tugas akhir guna menyusun skripsinya. Lebih takjub lagi ketika Ibu mengisahkan kegiatan Lisa yang memberikan pelajaran gratis Bahasa Inggris kepada anak-anak di Lereng Merbabu. Sungguh saya sangat terharu. Tidak jauh berbeda dengan Lisa, Bagas si bungsupun juga sudah menginjak bangku kuliah.

Kisahpun berganti soal Mbak Harti. Perempuan semata wayang dari Pak Wagimin tersebut kini sudah beranak tiga dan tinggal di Subang. Ia mengikuti Mas Aris, suaminya. Dulu ketika kami di Klapaloro, Mas Aris dan Mbak Harti masih merupakan pasangan suami-istri yang sangat muda. Kala itu Mas Aris masih kuliah, dan si Nur, anak mbarepnya juga masih bayi. Kini semua seolah telah berubah.

Kisah sedikit pilu berasal dari Mbok Sugi. Beberapa waktu silam suami dan anaknya tercinta meninggal dunia. Ia kini hidup sebatang kara. Saya sedikit mbrebes mili menyimak kisah sendu dari Mbok Sugi tersebut. Moga senantiasa sabar yo Mbok.

Obrolan terus mengalir mbanyu mili nan deras. Kabar tentang Pak Suman, Pak Piyo, si Basuki, Mas Paijo, Mas Rukis, Pak Dukuh Temuireng, Pak Mantan Lurah Sakim, Pak Heri Regedek, dan lain-lainnya. Obrolan seputaran pembangunan desa, dan jalan-jalannya yang telah beraspal. Utamanya jalan dari Regedek, Kropak, Ngampel, Gupakan, hingga tembus Gesing yang kini sudah mulus gilar-gilar.  Air ledheng PDAM yang kini sudah mengalir lancer dan rutin, tidak pernah telat dan ngadat. Tak lupa juga obrolan tenang rasulan. Sebuah tradisi merit desa atau peringatan ulang tahun dusun dengan berbagai pentas seni, wayang kulit, kethoprak, campur sari dan lainnya.

Semua kisah itu seolah hidup nyata dalam setiap desah nafas dan dalamnya alam pikiran kami masing-masing. Sejam, dua jam, bahkan sehari-dua haripun seolah kerinduan kami tidak akan pernah benar-benar tuntas terobati. Namun bagaimanapun perjalanan kami harus berlanjut. Menjelang waktu Ashar tiba giliran untuk mengakhiri perjumpaan yang sungguh bermakna tersebut. Seolah sungguh enggan untuk berpisah lagi setelah sekian lama tak bersua.

Ah Klapaloro. Ah, Bapak dan Ibu. Ah, Giripanggung. Hingga kapanpun dan dimanapun, kampung sederhana di sisi timur Tepus tersebut tiada akan pernah hilang dari ingatan. Keras dan tajamnya batu-batu kapur yang menghitam tidak akan pernah dapat menghapuskan ingatan di masa itu. Masa-masa pengelanaan dan pencarian jati diri, namun sekaligus menjadi masa merajut persaudaraan yang tiada tepi.

Tepi Merapi, 1 Oktober 2018 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s