Latar: Ruang Eksplorasi dan Ekspresi Anak-anak Kita


Main, bermain, dan permainan. Dolan dan dolanan yang semakna dengan kata main dan bermain, memang identik serta tidak bisa terpisahkan dari dunia anak-anak. Anak harus bermain. Anak ya kudu dolanan. Dunia anak adalah dunia permainan. Pola pengenalan seorang anak untuk mengekplorasi lingkungan sekitarnya, bahkan dunia yang jauh lebih luas, lebih sering dilakukan dengan cara bermain dan memainkan suatu permainan. Dalam pertumbuhan dan perkembangan jiwa-raga, fisik-psikis, lahir-batinnya, dari tindakan-tindakan eploratif seorang anak muncullah berbagai ekspresi dalam rangka pembentukan mental, jati diri dan karakternya sebagai persiapan untuk menjadi manusia yang lebih dewasa.


Terkait proses eksplorasi dan ekspresi seorang anak, sesungguhnya dibutuhkan ruang-ruang eksplorasi dan ekspresi yang menunjang. Ruang tersebut tidak hanya dalam pengertian fisik, namun tentunya juga ruang-ruang psikis yang turut mendukung.


Berkenaan dengan keberadaan ruang eksplorasi dan ekspresi anak-anak, anak-anak di masa lalu mungkin jauh lebih beruntung dibandingkan dengan anak jaman now. Terutama bagi anak-anak di pedesaaan lebih lagi. Masih ada teras di depan rumah. Masih ada halaman atau pelataran rumah yang luas. Masih ada kebun dan tanah kosong di sudut dusun. Masih ada lapangan di pinggiran desa. Masih ada sungai, sawah, ladang, tegalan, bukit, bahkan hutan-hutan. Bandingkan dengan anak sekarang?
Latar atau pelataran merupakan bagian dari rumah tempat tinggal berupa tanah kosong di luar batas teras dan sisi pinggirn rumah. Pelataran rumah di bagian depan diistilahkan sebagai halaman rumah. Dengan semakin padatnya penduduk, bahkan di lingkungan pedesaanpun, semakin sulit dijumpai rumah yang lengkap dengan pelatarannya. Rumah-rumah semakin jejel riyel, berhimpit-himpitan, dan berdesak-desakan. Jangan menyisakan pelataran yang jembar nan luas, sekedar untuk akses jalananpun hanya tersisa gang-gang kampung yang sempit.


Pelataran rumah dalam konsep arsitektur dan tata ruang lingkungan rumah Jawa sebenarnya merupakan sebuah kelengkapan yang hadir sebagai penghubung dunia luar dengan dunia di dalam rumah. Antara bagian njobo lan njero. Siapapun tamu baik yang ingin berkunjung dengan baik-baik pula, pasti akan datang melalui pelataran. Tidak hanya sampai di situ, pelataran yang luas dapat difungsikan untuk berbagai keperluan, mulai dari momentum hajatan, sripahan, menjemur hasil bumi, termasuk untuk tempat berkumpul dan bermainnya anak-anak.
Dunia anak dengan beragam permainannya sangat terkait dengan keberadaan suatu pelataran rumah. Aneka rupa jenis permainan anak-anak tradisional merupakan permaian “berbasis latar”. Sebut saja ada sudamanda, betengan, petak umpet, gobag sodor, benthik, semua biasa dilakukan pada suatu pelataran rumah ataupun lapangan kosong. Pelataran dengan berbagai permainan tradisionalnya seolah merupakan wasiat ampuh yang megajarkan tentang keluasan, kelapangan, keterbukaan, yang apabila dieksplorasi lebih lanjut akan sengat erat kaitanya dengan persaudaraan, pergaulan luas, kemasyarakatan, bahkan hingga dimensi kemanusian, alam semesta, dan Tuhan.
Lalu ketika pelataran-pelataran rumah kini semakin menyempit bahkan sirna ditelan perkembangan jaman yang telah memperanakkan manusia secara berlipat ganda dan tiada kendali, kemanakah anak-anak kita hendak bermain? Tidak ada lagi teras rumah yang teduh. Tidak ada lagi pelataran rumah yang lapang. Tidak ada lagi lapangan desa yang terbentang. Sawah dan ladangpun sudah banyak yang tersulap menjadi permukiman manusia. Sungai dan kali yang kini semakin keruh dan penuh dengan sampah ataupun limbah. Hutan yang kian gundul, gersang, nan meradang. Kemana anak-anak kita?
Dengan keterhimpitan ruang ekplorasi dan ekspresi, dengan hilangnya latar dan pelatara rumah-rumah kita, anak-anakpun kini terhimpit di sudut-sudut dalam rumah-rumah yang sempit.
Jaman memang telah menghadirkan segala rupa produk modernitas. Tivi, handphone, gadget, tablet, internet semua menjadi barang kebutuhan wajib yang menggusur kebutuhan manusia modern akan latar dan pelataran rumah. Keterbatasan ruang ekplorasi dan ekspresi di dalam rumah, di pelataran rumah, di ranah lingkungan desa dan kota telah menggiring manusia menjelajah, menjajah, dan mengekspansikan diri ke ranah dunia maya. Kemudian apa yang selanjutnya terjadi dengan anak-anak kita?
Modernitas jaman dengan kecanggihan teknologinya memang dapat semakin memudahkan dan memajukan kehidupan manusia. Namun untuk menggunakan teknologi dan mendayagunakan kemajuan jaman juga dituntut adanya prasyarat kesiapan pola pikir, kecerdasan, bahkan tingkat kedewasaan agar manusia tidak menjadi kebliger dan luntur karakter jati dirinya. Tanpa prasyarat-prasyarat tersebut, justru manusia akan terjebak sekedar menjadi obyek dan bulan-bulan dari bangsa lain yang gencar melancarkan penjajahan pikiran, ideologi, budaya, bahkan sosial ekonomi. Bagaimana dengan anak-anak kita?
Anak-anak adalah anak zaman. Dengan hiruk-pikuk tivi, handphone, gadget, tablet, dan internet tadi, anak-anak kita terjebak dalam untuk turut masuk, bahkan hanyut di dalam derasnya arus dunia maya. Anak-anak itupun kemudian tenggelam dalam candu yang bernama game online, yang bergelar media sosial, youtube, facebook, instagram, tik-tok, dan segudang thethek bengek ruang-ruang dunia maya. Sungguh fenomena ini akan sangat mengguncang kehidupan bangsa kita di masa depan. Semua sama sekali tidak terlepas dari menyempit, bahkan sirnanya pelataran-pelatarandi muka rumah kita.
Maka sudah semestinyalah keluarga-keluarga yang masih memiliki rumah lengkap dengan pelatarannya. Meskipun tidak seberapa luas, pertahankanlah pelataran tersebut sebagai tempat untuk anak-anak kita berkumpul. Tempat anak-anak kita bermain. Tempat dimana anak-anak kita mengekplorasi nilai hidup dari permainan-pemermainan dengan teman-teman sebayanya. Tempat dimana anak-anak juga dapat mengekspresikan perasaan, jati diri, mimpi-mimpi, bahkan cita-citanya tentang masa depann yang masih akan teramat panjang untuk mereka jalani. Semua berawal dari latar, dari pelataran, dari halaman rumah kita.
Latar sebagai ruang eksplorasi anak-anak kita. Latar sebagai ruang ekspresi para bocah kita. Akankah latar benar-benar sirna dan sekedar menjadi kenangan?

Tepi Merapi, 19 September 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s