Opar-oper Penumpang ala PO Santosa


Santosa, armada bus yang satu ini memang telah melegenda dari jaman ke jaman. Dengan dukungan kru pengemudi yang trengginas nan berpengalaman, armada ini membranding diri sebagai bus malam cepat. Dalam beberapa dekade konon tidak ada armada bus lain yang mampu menyamai ketepatan waktu bus yang selalu lebih gasik tiba di kota tujuan. Dengan layanan jalur Wonosari, Yogyakarta, Magelang, Temanggung, hingga Jakarta, bus ini menjadi favorit perantau ibukota yang hilir mudik ke kampung halaman. Ada yang langganan mingguan, bulanan, ataupu sekedar tahunan saat mudik lebaran.

Seiring waktu tidak bisa dipungkuri adanya penuaan di dalam tubuh armada bus yang berpangkalan di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Magelang ini. Bus-bus dengan mesin dan bodi yang semakin tua masih jarang mendapatkan sentuhan peremajaan. Demikian halnya kru angkut, baik pengemudi dan para kenek, juga semakin senja dimakan usia. Meskipun dari sisi pengalaman yang tua tentu syarat dengan pengalaman dan jam terbang yang tinggi, namun ketrampilan dan ketrengginasannya dalam mengemudikan bus tentu menurun. Jarak pandang, konsentrasi, daya tahan tak data dielak tentu beda dengan saat-saat mereka masih muda.

Kondisi armada bus yang semakin usang disertai dengan menuanya kru angkut tidak ayal sangat berpengaruh terhadap kualitas layanan perjalanan. Waktu tempuh yang semakin lama seiring semakin padatnya jalanan raya tidak dapat lagi dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Lebih-lebih lagi kondisi bus yang tua sering mengalami kerusakan da mogok di tengah perjalanan. Yang rusak rem kampasnyalah. Yang masti ACnya lah. Yang kulit gatal karena digigit tinggi lah. Bahkan saya pernah mengalami mur roda bus yang terlepas dan hilang dalam perjalanan. Saking terpaksanya karena kenaasan tersebut terjadi di daerah terpencil, terpaksa peleg roda dilas untuk melanjutkan perjalanan. 

Meskipun layanan dan tingkat kenyamanan armada bus tidak seprima dulu, nyatanya armada ini masih tergolong selalu ramai, terutama di akhir pekan dan hari-hari liburan. Kondisi ini mungkin yang menjadikan pihak managemen PO seolah senantiasa enggan untuk meremajakan armadanya sebagaimana telah banyak masukan dari kalangan pelanggan setia menyampaikan hal tersebut. Namun apakah kejadian bus rusak ataupun mogok akan senantiasa menjadi cerita dan legenda yang tidak mengenakkan bagi bus Santosa.

Sebagaimana keapesan pernah beberapa kali saya alami ketika naik bus Santosa, kejadian itupun terulang semalam. Menaiki bus dari Kebon Nanas, saya bermaksud pulang kampung ke Tepi Merapi di jalur Muntilan Jogja. Selepas makan malam di Restoran Uun yang menjadi langganan setia, bus baru memasuki wilayah Indramayu.  Tiba tiba AC bus padam dan penumpang yang hanya separo bus itupun menjadi kegerahan. Bus kemudian menepi dan kedua kru langsung melakukan perbaikan. Namun demikian, hingga beberapa saat perbaikan dilakukan tidak membuahkan hasil. Akhirnya diputuskan untuk mengoper penumpang ke bus Santosa yang lain.

Tidak berselang memang ada bus Santosa lain yang melintas. penumpangpun berbondong turun untuk ganti bus. Sungguh lumayan beruntung, ternyata bus penyambung perjalanan tersebut merupakan bus baru yang memang baru beberapa bulan beroperasi. Kursi masih baru, bantal, selimut, AC, semuanya serba baru. Bahkan tivi yang ada juga baru, model slimmy yang lagi trendi. Ketika kami naik, penumpang lain yang ikut bus baru tersebut sedang asyik asyiknya menonton pentas ndangdut dari kelompok palapa.

Buspun melaju. Kami sejenak lupa dengan kejadian bus yang mati AC dan kerepotan kami beroper bus. Sepanjang perjalanan kami seolah dimanjakan oleh bus baru Santosa tersebut. Memang rata rata penumpang setia Santosa menikmati bus baru. Seiring masih panjangnya jarak tempuh ke kota tujuan, para penumpangpun terlelap. Berbeda dengan armada bus lain yang teng krengket kari berisik bunyi besi besi tuanya, bus yang baru ini tentu angles seolah tidak ingin menganggu para penumpangnya yang terlelap dalam perjalanan.

Namun sungguh saying seribu saying. Kenikmatan dan kemanjaan menikmati perjalanan dengan bus baru itu tidak dapat dinikmati hingga tempat tujuan. Sesaat sebelum bus memasuki Kota Magelang, sebagaimana biasa buspun masuk ke pom bensin di Sambung. Seiring dengan itu justru sang kenek berteriak membangunkan semua penumpang. Usut punya usut, ternyata semua penumpang diminta pindah dan berganti bus. Sayapun pasrah turun dengan perasaan sedikit gondok. Oper lagi oper lagi. Inilah kedua kalinya dalam semalam bergonta ganti bus.

Olah. Moga tidak kejadian lagi dan bus barunya ditambah banyak.

Tepi Merapi, 13 September 2o18

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Opar-oper Penumpang ala PO Santosa

  1. abu4faqih berkata:

    Dulu keluarga saya pelanggan setia PO ini, terlebih karena beberapa saudara bekerja di situ. Tapi memang kondisinya sekarang kurang nyaman lagi, karena berbagai kejadian tentunya. Setiap kali saya harus kembali ke pool PO ini, saat itu pula saya kembali berfikir mengapa manajemen tidak mengikuti perkembangan zaman ya….? Saya ragu PO ini bertahan dengan persaiangan yang semakin ketat ke depan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s