Roda Bahagia Roda Derita


Di sela-sela kemeriahan acara closing ceremony Asian Games XVIII di televisi, mendadak beberapa baris kata bermaka muncul. “ Tidak ada derita yang abadi. Tidak ada bahagia yang abadi,” demikian tulisan itu menyampaikan pesan. Dalam konteks kehidupan di alam fana saat ini, tentu hal tersebut sangat benar dan masuk akal. Hidup ibarat roda yang berputar. Kadang bahagia menyapa. Kadang derita melanda. Itulah warna-warni hidupnya kehidupan.


Tanpa bermaksud mencocok-cocoknya ataupun anthuk-gathuk, apalagi gothak-gathik-gathuk, namun kata-kata penuh makna tersebut seolah mampu mewakili suasana hati yang melanda hari ini. Sepekan silam di hari kepulangan di kampung halaman, demikian dhok sampai di rumah, salah satu cerita yang terbagi adalah cerita yang pilu. Dua orang, kakak beradik, kebetulan juga tetangga dan masih termasuk saudara keluarga besar terbaring sakit dii rumah sakit.
Memang semenjak beberapa waktu silam, keduanya sering keluar-masuk rumah sakit untuk menjalani perawatan. Si Kakak terbaring akibat sakit asma kronis yang menghinggapinya semenjak kecil. Seiring usia bertambah rupanya gejala asma tersebut semakin rewel bin bawel. Kambuh-sembuh, kambuh-sembuh, demikian seolah perjalanan keseharian yang tidak lagi hadir sebagai pilihan namun justru telah menjadi bagian keseharian yang mau tidak mau ataupun suka tidak suka harus dihadapi da dijalani. Untuk perawatan kali ini, terpaksa si sakit harus menjalani pengobatan hingga ke rumah sakit di provinsi tetangga.
Lain kakak, lain lagi sakit si Adik. Anak bungsu dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara itu sudah hampir setahun ini menjanda karena suaminya meninggal beberapa waktu silam. Semenjak itu, tubuhnya seolah semakin ringkih. Tekanan pada saluran pembuluh darah yang menyempit menghantarkannya kepada gejala terkena stroke. Sedihnya lagi tatkala si Kakak masuk rumah sakit untuk menjalani sakitnya yang kambuh, si Adikpun menyusul tak berselang. Hanya saja ia dirawat di rumah sakit kota dekat tempat tinggal kami.
Meskipun baru sama-sama menjalani perawatan masing-masing, namun demi menjaga perasaan dan untuk menghindarkan dari kecemasan-kecemasan maka anak-anak beserta para kaum kerabat sengaja merahasiakan perihal sakitnya dua bersaudara tersebut masing-masing.
Magrib menjelang, petangpun datang. Ada suatu suasana yang terasa berbeda senja itu. Tidak sebagaimana hari-hari biasanya, masjid kami sedikit terlambat mengumandangkan adzan. Hingga qomat dilantunkan dan sholat dilaksanakan, ada beberapa dan justru sebagian besar jamaah yang biasanya memakmurkan jamaah Maghrib kami absen dari sembahyang di masjid kami. Demikian itu juga berlangsung pada saat sholat Isya setelahnya. Sungguh sangat terasa ada suasana yang berbeda. Ada nuansa yang tak sama. Entah apa, sayapun tidak bisa secara persis memastikannya.
Suasana aneh nan mencekam itu bagaikan sebuah misteri maha besar. Suatu teka-teki yang seolah terbatas tabir tebal dengan jawabannya. Apakah gerangan yang terjadi?
Selepas beberapa jamaah tersisa turun dari sholat Isya, baru ada sedikit titik terang perihal perasaan aneh yang tengah saya rasakan. Beberapa tetangga telah mendapatkan pesan dari rumah sakit nun di seberang provinsi. Pesan tersebut mengabarkan berita duka, berita derita, berita nestapa. Sebuah berita lelayu yang mengabarkan warta bahwa si Kakak telah dipanggil keharibaanNya.
Desa kami seolah mendadak ditikam suasana nan mencekam. Ibu-ibu bergerombol-gerombol di teras saling berharap cemas sambil menantikan kepulangan layon yang konon sudah diberangkatkan dengan sebuah mobil ambulan dari rumah sakit. Bapak-bapakpun sigap untuk mempersiapka pangruktinng jenazah, mulai dari persiapan untuk menerima, mensucikan, mengkafankan, hingga mensholatkan jenazah dilakukan penuh sigap. Sekelompok anak muda segera cancut tali wanda untuk mempersiapkan tempat, tratag, kursi-kursi, meja-meja, gelas-gelas, piring dan semua uba rambe yang diperlukan bagi shohibul musibah.
Kabar lelayu memang selalu mendayu. Berpangku tangan menyesali kesedihan tentu tiada guna. Segala hal yang menjadi haknya si mayit dan sekaligus menjadi kewajiban kerabat saudara yang ditinggal harus segera dilaksanakan. Memandikan, mengkafankan, mensholatkan, untuk kemudian menguburkan si jenazah.
Lalu bagaimana dengan si Adik? Dia memang sudah beberapa hari berada di rumah kemabli selepas menjalani perawatan di rumah sakit. Tentu tidak mudah bagi anak-anaknya untuk ngereh-reh dan menyampaikan kabar duka tentang kepergian si Kakak. Mungkin ia kembali akan terkenang duka mendalam tentang kepergiaan para kakak-kakaknya yang lain. Si sulung, si nomer dua, nomer tiga juga pergi dalam usia muda, karena sakit. Kini kedukaan itu ditambah lagi dengan kepergian kakak satu-satunya yang masih tersisa. Tidak mudah itu pasti. Tetapi keyakinan harus ditanamkan, bahwa ia bisa. Bahwa kita bersama dan pasti kita bisa.
Hari ini mungkin keluarga dan kerabat shohibul musibah tentu sangat berduka. Duka itu mungkin berat dan terasa sebagai derita. Sebagaimana pesan awal dari tulisan ini, tiada derita yang abadi dan tiada bahagia yang abadi maka duka dan bahagia adalah warna hari-hari kita. Derita dan bahagia akan senantiasa datang silih berganti. Di saat berduka, di saat menderita, rasakanlah sewajarnya dan jangan terlalu di bawa ke perasaan yang mendalam. Gandakan sabar, lipatkan iman. Serahkan semua hal yang telah terjadi sebagai takdir dan kuasan-Nya. Masih ada anak-anak, cucu, keponan, prunan, para sepupu, dan tetangga yang setia menemani. Masih ada hari-hari di masa depan yang akan penuh dengan bahagia. Masih akan senantiasa hadir kemungkinan-kemungkian untu ceria sebagaimana optimisme bulan September bulan nan penuh ceria. September ceria.

Tepi Merapi, 3 September 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s