Anjangsana Asian Festival


Gegap gempita perhelatan Asian Games tentu sebuah sejarah yang tidak akan sering terulang. Sepanjang perjalanan negara merdeka Indonesia, faktanya memang baru dua kali ini pesta olah raga terakbar se-Asia tersebut digelar di tanah air. Tidak hanya khusus bagi waga Jakarta dan Palembang yang menjadi tuan rumah, seluruh masyarakat Indonesia nampaknya sungguh merasakan demam Asian Games. Olah raga memang sebuah magnet ampuh untuk mempersatukan sebuah bangsa, bahkan semua rupa manusia di dunia.

 

Bagi sebagian warga di tengah himpitan beban hidup yang semakin sulit, mengorbankan serratus ribu, dua ratus ribu untuk membeli tiket dan menyaksikan secara langsung pertandingan-pertandingan yang digelar tentu sesuatu yang dirasa mahal. Sayang-sayang bin eman-eman jika jatah uang untuk membeli bumbu dapur harus dialihkan untuk menonton pertandingan. Tentu semua dari kita sangat mencintai tim duta olah raga kita. Namun mendukung mereka tidak harus diwujudkan dengan men-support langsung di lapangan pertandingan. Setidaknya doa senantiasa dapat dipanjatkan untuk mendukung tim nasional, dari manapun dan dimanapun. Tokh sekedar ingin menonton,  beberapa pertandingan favorit juga ditayangkan oleh beberapa tivi nasional.

Meskipun tidak sama sekali ada niatan untuk menonton pertandigan secara langsung, sebagai warga yang tinggal bersebelahan dari ibukota, ada juga rasa sayang bin eman jika sama sekali tidak sekali-kali turut ngombyongi dan merasakan keramaian Asian Games di sekitar arena pertandingan. Setidaknya dalam event yang baru berulang sejak 56 tahun silam, sesekali mendekat ke lokasi Gelora Bung Karno tentu akan menjadi sejarah tersendiri bagi setiap orang. Jikapun tidak untuk menyaksikan pertandingan secara langsung, warga masyarakat umum dapat menikmati suguhan Asian Festival yang digelar di sekitar venue GBK Senayan.

Sungguh beruntung bagi kami yang ndilalahnya berkesempatan untuk beranjangsana ke Asian Festival di weekday dalam dua hari ini.  Berbeda dengan suasana di hari-hari weekend, dua hari ini benar-benar menambahkan wawasan dan pengalaman kami bertiga, saya, Noni Nadya, dan tentu si Ponang. Bahkan di hari ini, meskipun bersamaan dengan Hari Jum’at sama sekali tidak mengurangi niat dan semangat kami untuk ke area GBK.

Selepas Jum’atan, kami baru berangkat dari Tangerang melalui rest area Karang Tengah. Busway Transjakarta yang membawa kami mulus meluncur di jalanan tol yang lengang. Kebijakan pemberlakuan giliran kendaraan pribadi ganjil-genap selama gelaran Asian Games benar-benar memanjakan warga ibukota yang berlancar ria dan bebas dari kemacetan seperti hari-hari biasa sebelumnya. Karang Tengah hingga halte JCC tidak memerlukan waktu lebih dari tiga puluh menit.

Selepas turun dari Transjakarta, kami sengaja naik bus looping luar area Senayan. Bus-bus baru berpenampilan trendy dengan fasilitas layanan yang aduhai benar-benar memanjakan kami. Kursi-kursi penumpang yang lengang, AC bus yang suejuk, suspensi bus yang lembut, menghadirkan tingkat kenyamanan setara dengan bus-bus di Singapura, Tokyo, Seoul, Vienna, bahkan Amsterdam. Di samping itu, satu point yang terpenting adalah bus-bus itu melayani pengunjung Senayan dengan gratis alias tidak berbayar.

 

Dari halte JCC yang merupakan Gerbang 8, bus melaju mengelilingi area Senayan berlawanan arah jarum jam melintasi Jalan Gerbang Pemuda. Bagi pengunjung masyarakat umum dan tidak memiliki pass akses khusus ternyata tidak bisa sembarangan masuk ke dalam area Senayan sebagaimana hari-hari biasa. Satu-satunya akses masuk bagi pengunjung umum melewati Gerbang 7, gerbang yang berada di seberang Polda Metro Jaya (akses arah Parkir Timur). Jadilah kami numpang bus kinyis-kinyis tersebut dari Gerbang 8 melalui Gerbang 9, 10, 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Lumayan puas juga.

Khusus pada kesempatan weekday, pengunjung umum dikenakan tiket masuk area Senayan seharga Rp 10.000,- (untuk weekend seharga Rp 30.000,-). Setiap pengunjung yang telah membeli tiket akan diberikan sebuah gelang dengan barcode khusus yang akan dipindai dengan alat khusus di depan pintu masuk. Sebelum masuk, semua pengunjung dilewatkan petugas dengan detektor logam. Barang bawaan pengunjung harus dicek terlebih dahulu dengan fluoroskopi barang sebagaimana prosedur di setiap bandara.

Setelah masuk ke area Senayan, untuk mengakses dari satu spot ke spot olah raga yang lain, pengunjung sekali lagi mendapatkan layanan angkutan bus looping internal yang juga gratis. Jika hanya ingin berkeliling dab berputar-putar di sekitar area pertandingan, fasilitas gratis ini dapat dinikmati dan tentu saja sangat memanjakan pengunjung. Adapun bagi pengunjung yang ingin menonton pertandingan dan belum memiliki tiket masuk, pelayanan tiket menonton pertandingan dilayani pada sebuah boot di sisi selatan GBK tepat di sisi timur patung Bung Karno. Tentu saja ini bukan pilihan dan niatan kunjungan kami.

Informasi mengenai seluk-beluk lokasi dan jadwal pertandingan, ketentuan akses dan lain sebagainya nampaknya menjadi barang yang mahal bagi masyarakat awam seperti kami. Meskipun di berbagai sudut area luar dan dalam Senayan banyak panitia ataupun relawan berseragam dengan tanda pengenal khusus, namun banyak diantaranya yang ketika ditanya masyarakat tidak dapat memberikan informasi dengan tepat dan akurat. Bahkan tidak sedikit diantara yang tegas menyatakan tidak tahu.

Sebuah gelaran bertaraf internasional tentu melibatkan suatu kepanitiaan yang besar dan melibatkan banyak orang selaku relawan. Mungkin bisa dimaklumi jika koordinasi diantara mereka tidak berlangsung semulus rencana dan konsep yang sudah digagas. Mungkin banyak juga diantara mereka yang “menuntut” pengunjung sebagai kalangan yang telah melek sarana informasi online yang mungkin sudah memberikan berbagai penjelasan seputaran gelaran Asian Games kali ini. Namanya juga masih di Indonesia, masyarakat umum tentu dituntut untuk senantiasa maklum dan lebih mandiri.

Salam olah raga mas bro dan mbak sis.

Ngisor Blimbing, 24 Agustus 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s