Ibrahim Kecil Mencari Tuhan


Islam sejatinya bukan sekedar predikat yang tersemat selepas seseorang mengucapkan dua kalimat shahadat semata. Lebih dari itu, Islam adalah sebuah kata kerja aktif. Ada banyak ketentuan dan kewajiban yang harus dilakukan, dipatuhi, dan diamalkan oleh seorang muslim. Bahkan ada perbuatan-perbuatan terlarang yang dapat menggugurkan shahadat dan keislaman seseorang, sehingga ia keluar ke lingkaran kekafiran. Inilah kunci kenapa di setiap kesempatan menunaikan ibadah sholat, setiap muslim senantiasa kembali mengucapkan dan meneguhkan kembali ikrar shahadatnya.

Ada hal yang sungguh menarik dari khutbah Idul Adha yang disampaikan khatib yang turut kami simak pagi tadi. Jamaah kembali diingat dengan kisah teladan dari Nabi Ibrahim. Sedari masa Raja Namrudz yang berkuasa di kala Ibrahim terlahir. Raja besar dari negeri Babylonia Raya dan penyembah berhala itu telah menetapkan hukum dimana setiap bayi laki-laki yang terlahir harus dibunuh. Maka menjelang hari kelahirannya, orang tua Ibrahim sengaja menyembunyikan ibu Ibrahim di sebuah gua pada sebuah hutan di pinggiran negeri. Kemudian lahirlah Ibrahim yang terselamatkan dari pembunuhan bala tentara Namrudz.

Singkat cerita terkisahkanlah Ibrahim kecil yang mulai tumbuh menjadi kanak-kanak. Dengan bimbingan langsung dari Allah, Ibrahim dipandu menemukan siapa Tuhannya. Di suatu malam gelap pekat, Ibrahim Kecil keluar dari dalam mulut gua. Ia memandang langit malam yang hitam. Di tengah kegelapan itu kemudian terbitlah bintang gemintang. Bintang gemintang tersebut nampak berkelip kedip memancarkan cahaya gemilangnya. Ibrahim Kecil sangat terpesona dan takjub. Dalam hati ia berucap, “Inilah Tuhan yang patut disembah.”

Ketika kemudian pagi menjelang, gugusan bintang gemintang tuhan Ibrahim itupun tenggelam. Ibrahim Kecil menjadi kecewa karenanya. Iapun mempertanyakan kembali keyakinannya tentang Tuhan. “Masak Tuhan bisa tenggelam dan hilang? Ini pasti bukan Tuhan yang abadi,” demikian pertanyaan mendalam dalam hati Ibrahim.

Di malam yang lain, Ibrahim Kecil menyaksikan malam yang tidak lagi temaram. Malam itu demikian terang benderangnya. Di angkasa raya nampak sebuah bulatan besar berwarna kuning emas. Bulatan itu memancarkan cahaya nan terang benderang. Sungguh sebuah keanehan. Cahaya yang terang benderang itu tidak menimbulkan hawa panas. Justru cahaya terang itu memancarkan kelembutan dan ketenangan malam. Rupanya malam itu adalah malam bulan purnama. Ibrahim Kecilpun kemudian berpikir, “Inilah Tuhanku. Tuhan Maha Terang Cahaya yang menerangi malam. Malam gelap hitam legam yang berubah bermandi cahaya indah luar biasa. Akhirya aku menemukan Tuhanku.”

Ketika malam tiba di penghujung waktunya, perlahan namun pasti bulatan besar terang benderang itupun turun ke ufuk cakrawala. Tak seberapa lama kemudian, bulan purnama itupun tenggelam dan hilang dari pandangan mata. Ibrahim Kecil kembali merenung. “Kok Tuhan kembali hilang? Kenapa Tuhan bisa tenggelam. Ini pasti bukan Tuhan yang sebenarnya. Siapakah Tuhanku?”

Ketika di saat yang lain Ibrahim Kecil keluar dari dalam gua tatkala hari telah siang, ia mendapatkan benda bulat besar terang benderang dan menimbulkan hawa panas tergantung di langit. Benda itulah yang disebut sebagai matahari. “Ini bukan bintang. Ini bukan bulan. Ini lebih besar dari bintang dan bulan. Pasti inilah Tuhan yang lebih hebat daripada bintang dan bulan. Inilah Tuhanku,” Ibrahim Kecil kembali menyimpulkan.

Namun sebagaimana bintang, sebagaimana pula bulan, ketika senja menjelang matahari itupun turun untuk kemudian tenggelam. Hari yang terang benderang digantikan kembali oleh kegelapan malam nan pekat. Ibrahim Kecil kembali geleng-geleng. “Inipun tentu bukan Tuhan yang sejati. Tidak ada Tuhan sejati yang tenggelam. Tidak ada Tuhan yang hilang,” Ibrahim kembali mempertanyakan hakikat Tuhan.

Demikianlah antara lain penggalan kisah Ibrahim Kecil untuk menemukan Tuhannya. Adakah diantara kita yang dalam berkeyakinan dan beragama ini dimulai dari sebuah pencarian tentang hakekat Tuhan? Kebanyakan dari kita mendapati agama sebagai suatu warisan dari nenek moyang dan orang tua kita. Kakek kita Islam, bapak-ibu kita Islam, tentu sayapun Islam. Demikian barangkali latar belakang kita memeluk sebuah agama.

Jika kita dapat dengan sungguh-sungguh menyelami dan mengambil hikmah dari kisah pencarian Ibrahim Kecil tentang Tuhannya, kita mungkin harusnya berpikir bahwa agama adalah sebuah jalan, sebuah perjalanan untuk menemukan dengan sebenar-benarnya hakekat Tuhan. Dari mana kita berasal, dimana kita berada saat kini, dan akan kemanakah kita berjalan sejatinya merupakan hakekat keberagamaan kita. Setiap hari, setiap saat, setiap waktu kita dalam perjalanan itu dipertemukan kebenaran-kebenaran yang bisa jadi senantiasa berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Di suatu waktu kita mungkin menganggap sholat lima waktu sehari semalam pada waktu yang telah ditentukan sebagai sebuah kebenaran. Di waktu selanjutnya kita menjadi berpikir sholat lima waktu di awal waktu adalah kebenaran yang lebih benar. Selanjutnya kitapun sampai pada suatu kebenaran bahwa sholat lima waktu di awal waktu dan dikerjakan secara berjamaah adalah kebenaran yang lebih besar lagi. Demikian seterusnya sebuah hakekat kebenaran yang senantiasai bergeser dan berdinamikan seiring dengan tataran perjalanan peningkatan keimanan dan ketaatan kita kepada Tuhan.

Iblis dan malaikat adalah makhluk serba pasti. Iblis pasti kufur dan ingkar kepada Tuhan. Malaikat pasti senantiasa taat dan patuh kepada Tuhan. Adapun manusia, ia berbeda dari iblis dan malaikat. Manusia adalah makhluk ketidakpastian. Manusia adalah makhluk kemungkinan. Manusia mungkin ingkar dan kufur tatkala ia lebih dekat kepada iblis dan setan. Manusia mungkin taat dan taqwa tatkala ia lebih mendengarkan bisikan kebaikan dari para malaikat. Demikian pula dengan agama Islam yang kita yakini. Satu hari mungkin iman kita menipis sehingga kita tergelincir untuk berbuat tercela dan penuh dosa. Di kala lain, mungkin kita tengah berada di puncak keimanan sehingga kita sangat taat dan patuh dalam amalan-amalan kesholehan kepada Tuhan.

Jika demikian dinamisnya hati kita terkait keimanan kepada Tuhan sesungguhnya satu-satu untuk tetap perpegang teguh kepada tali agamanya adalah dengan senantiasa memperbarui syahadat kita setiap saat, dengan berdzikir setiap waktu, dengan mengingat Tuhan dan senantiasa meyakini bahwa Dia ada di setiap nadi dan tarikan nafas kita. Gusti Allah tidak pernah tidur.

Ngisor Blimbing, 22 Agustus 2018

Gambar  dipinjam dari sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s