Tak Perlu Pakai Stuntchild Ataupun Stuntman Berlatih Sepeda


Namanya juga tayangan video, yang kemudian menjadi fokus perhatian bagi penonton ya pesan yang ingin disampaikan melalui tayangan tersebut. Perkara bahwa mau semua adegan dilakukan oleh sang aktor utama ataupun diwakilkan kepada pemeran tertentu pastinya  pastinya tidak begitu menjadi persoalan bagi kebanyakan orang. Perkara begini saja masih gaduh di negeri ini. Tidak terlalu urgen untuk dibahas pastinya.

Namun begitu melihat si Noni latihan sepeda siang hari ini, sayapun mau tidak mau jadi teringat video Pak Jokowi yang berakrobatik dengan yang tayang perdana semalam ketika pembukaa Asian Games XVII. Tayangan video tersebut terus terang membuat banyak orang ngeh dengan istiah stuntman. Istilah bagi pemeran pengganti untuk melakukan adegan-adegan atraktif maupun berbahaya dalam film-film. Apa ya jadinya bisa naik sepeda, seandainya si Noni ketika latihan pertama kali digantikan oleh seorang stuntchild?

Ya sudahlah! Apa pentingnya stuntman ataupun stuntchild? Belajar sepeda biasanya menjadi sejarah yang amat penting dalam fase kehidupan seseorang. Bagaimana menyeimbangkan tubuh agar sepeda bisa melaju dengan seimbang merupakan problematika yang rumit untuk diurai dengan segala macam teori. Satu-satunya cara untuk bisa naik sepeda ya learning by doing. Belajar dengan cara melakukan! Tentu tidak akan bisa dilakukan dengn stuntchild bukan?

Belajar naik sepeda mungkin suatu peristiwa yang mengajarkan bahwa perjalanan hidup tidak selamanya berkutat dengan teori-teori ilmu pengetahuan, bahkan yang mbulet-mbulet bin ruwet. Para winasis di Tanah Jawa bahkan telah merumuskan semenjak dulu bahwa ngelmu iku klakone kanthi laku. Suatu ilmu itu terlaksana ya dengan menerapkannya, mempraktekkannya, melakukannya. Bahkan dalam agamapun diajarkan kesatuan antara ilmu dan amal. Ilmu diamalkan, dan pengamalan suatu perbuatan harus dilandasi dengan ilmu.

Kembali ke persoalan latihan sepeda untuk pertama kalinya bagi seorang bocah. Anak-anak jaman now tentu sangat lebih berutung dalam hal latihan bersepeda. Sepeda jaman now diproduksi dengan berbagai ukura untuk berbagai umur pemakainya. Ada sepede ukurn untuk anak satu tahun, dua tahun, tiga tahun, dan seterusnya. Khusus untuk kalangan anak-anak balita selazimnya sepeda itupun dilengkapi dengan roda pembantu yang bisa menopang keseimbangan sepeda. Jadinya seorang anak umumnya sudah terbiasa bersepeda semenjak kecil. Pelan-pelan seiring dengan usia “rasa” keseimbangan itu akan “ditemukan” dengan sendirinya. Dan biasanya ketika menjelang usia TK, apabila roda bantu dilepas satu ataupu keduanya, si bocah sudah bisa melenggang naik sepeda.

Hal serupa tentu tidak dijumpai oleh anak-anak di masa lalu. Setidaknya dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu. Ketika itu tidak semua keluarga memiliki sepeda, apalagi sepeda anak-anak. Sepeda yang ada kebanyakan sepeda jenis sepeda jengki ataupun sepeda onta. Sepeda onta, bagi kalangan masyarakat di pedesaan lebih tenar dengan sebutan pit lanang dan pit wedok. Satu-satunya varian sepeda untuk anak ya sepeda mini. Tetapi sepeda mini masih merupakan kemewahan yang belum terbeli bagi kebanyakan keluarga di desa pada waktu itu. Sepeda pada sebuah keluarga benar-benar berfungsi sebagai sarana transprortasi yang mendukung kegiatan sehari-hari. Tentu sepeda yang ada berukuran besar dan memang sebenarnya khusus untuk digunakan orang dewasa. Lalu bagaimana anak-anak jaman itu belajar naik sepeda?

Anak-anak yang di keluarganya memiliki sepeda tergolong sebagai anak yang beruntung. Jika anak-anak tersebut ingin belajar naik sepeda tentu tidak ada pilihan lain kecuali yang belajar menggunakan sepeda besar milik keluarganya. Bayangkan si tubuh mungil anak-anak harus menyangga beban sepeda yang demikian besar dibandingkan ukuran tubuhnya sendiri. Eloknya lagi tidak pernah ada orang dewasa yang mendampingi, terlebih mengajari mereka.

Belajar naik sepeda menjadi benar-benar membutuhkan nyali, keberanian, dan juga kenekatan. Memang tidak ada teori yang baku dan muluk-muluk bagi seorang bocah untuk dapat naik sepeda. Namun setidaknya ada beberapa tahan yang biasanya dilakukan secara berurutan. Tahap pertama biasanya belajar menuntun sepeda. Menuntun sepeda dilakukan untuk mendapatkan “persenyawaan” dengan batang besi beroda dua tersebut. Hal ini juga dilakukan untuk mengukur kekuatan fisik agar ketika belajar anak-anak dapat menahan sepeda untuk tidak jatuh ataupun kalau terjatuh sudah siap mental untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang fatal.

Tahap kedua diitilah sebagai fase “oglek-oglek”. Pada tahap ini si bocah sudah mulai berani untuk memancal pedal sepeda dengan satu kaki sementara satu kaki yang lainnya tetap menumpu di tanah untuk menopang sepeda maupun menjaga keseimbangan. Ketika pedal dikayuh ke depan satu ayunan, terdengarlah bunyi oglek dari rantai yang mengitari gir atau as roda. Pada saat oglek-oglek inilah mau tidak mau sisi dalam betis kaki kanan biasanya sering tergesek kateng penutup rantai hingga menimbulkan memar hingga lecet. Lecet akan lebih mudah timbul jika sepeda yang digunakan tidak memiliki kateng penutup rantai, betis langsung bergesekan dengan rantai bahkan gigi rantai. Tentu hal ini menjadi suatu bentuk pengorbanan yang luar biasa.

Tahap selanjutnya ketika oglek-oglek sudah sering dilakukan, si bocah akan sedikit demi sedikit menemukan keseimbangan tubuhnya sehingga kaki penopang yang semula tidak turut menggenjot pedal dapat pula turut menggenjot pedal sisi kiri. Jika hal ini sudah dapat dilakukan, berhasillah bocah tersebut untuk bersepeda. Tinggal untuk waktu selanjutnya “nglanyahke” alias melincahkannya saja.

Meskipun berlatih sepeda tidak ada pilihan kecuali menggunakan sepeda berukuran besar, namun anak-anak yang  berlatih dengan sepeda jengki atau pit wedok masih jauh beruntung dibandingkang dengan anak-anak yang harus berlatih menggunakan sepeda lanang. Sepeda lanang merupakan sebutan untuk sepeda besar yang memiliki planthangan, besi palang yang menopang stang dengan dudukan sadel. Dikatakan sebagai pit lanang karena memang karena ukuran yang besar dan planthangannya tadi menjadikannya pit lanang lebih umum digunakan oleh bapak-bapak atau kaum lelaki. Nah faktor planthangan inilah yang menjadi titik utama kesulitan yang harus dihadapi.

Seorang bocah yang belajar bersepeda dengan pit lanang berplanthangan tentu belum bisa naik di atas planthangannya karena kakinya tidak akan sampai untuk menopang sampai tanah. Tahu apa yang dilakukan? Sungguh suatu posisi badan yang ampun rangudubilah dan sangat menyengsarakan. Mau tidak mau, suka tidak suka, si bocah harus memiringkan badang di bawah besi planthangan dengan kedua tangan di atas memegang stang kanan-kiri, dan kaki kanan-kiri masing-masing pada pedal. Membayangkannya saja sudah terasa amat sulit, bagaimana melakukannya. Tetapi itulah keajaiban dan kegigihan anak-anak jaman dulu.

Saya memiliki teman tetangga yang anak seorang Hansip bernama Syukur. Saking jengkelnya saat belajar naik sepeda dengan pit lanang, sampai-sampai ia akan nekad menggergaji besi planthangan yang menyusahkannya. Tentu saja sang bapak tidak membiarkannya. Walhasil, hingga saat ini Syukur tidak bisa naik sepeda. Hal yang berbeda justru dilakukan Suroto, adik dari Syukur. Ia sangat gigih untuk berlatih sepeda dengan pit lanang milik bapaknya. Meskipun harus menekuk pinggang dan punggung sedemikian rupa, toh ia akhirnya bisa naik sepeda.

Itulah seni anak-anak belajar naik sepeda di jaman dulu. Baik belajar sepeda bagi anak-anak di jaman dulu maupun jaman now, yang jelas keduanya tidak akan pernah bisa benar-benar bisa naik sepeda seandainya saat berlatih mereka menggunakan stuntchild. Tentu Anda semua sepakat bukan?

Ngisor Blimbing, 19 Agutus 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s