Sosok Veteran Tanpa Lencana Kehormatan


Dia memang bukan sosok Pangeran Diponegoro. Tidak bisa menunggang kuda ketika berperang. Dia tidak pernah mengacungkan keris dan pedang di medan juang. Diapun pernah memimpin pasukan segelar sepapan. Tidak pernah lantang memekikkan takbir jihad akbar. Tak pernah berpindah dari Selarong, Bagelen, Suralaya, Tepian Kali Progo hingga Kedu. Tentu iapun tidak pernah menjadi pengawal sang pangeran tatkala datang berunding dan diringkus dengan penuh kelicikan oleh Jenderal de Kock. Dia hanyalah sosok biasa nan sederhana.

Dia juga bukan tokoh pergerakan nasional setenar Soetomo, Wahidin, Tjokroaminoto, Soewardi Soeryaningrat, Douwes Dekker. Bukan, diapun bukan sosok sekelas Malaka, Syahrir, Hatta, terlebih Soekarno. Dia bukan sosok yang banyak bicara, jago berdebat dan ahli berorasi. Dia tidak pernah berpidato menggelora di depan massa untuk meneriakkan kata merdeka. Dia hanyalah sosok biasa nan sederhana.

Dia memang bukan Panglima Besar Sudirman. Bukan Urip Soemohardjo, Gatot Subroto, Slamet Riyadi, Bung Tomo, dan lainnya. Diapun tentu tidak pernah memegang tongkat kepemimpinan di satuan militer manapun. Dia tidak pernah menjadi tamtama, bintara, apalagi perwira. Dia hanyalah sosok biasa nan sederhana.

Dia memang sosok biasa nan sederhana. Dia sosok biasa nan sederhana yang senantiasa berbangga dengan selembar gambar bintang kuning emas berlingkar padi dan kapas berwarna emas pula. Gambar itu terbingkai rapi dan berkaca, dan senantiasa terpajang di dinding ruangan yang kini menjadi tahta kediamannya. Dia memang seorang mantan veteran Perang Kemerdekaan.

Di masa pendudukan Jepang, di masa itu pula dia tengah mekar sebagai sosok pemuda yang gagah perkasa. Sebagaimana kebanyakan rekan seumurannya, dia tergabung dalam laskar keprajuritan yang digembleng untuk membentengi Perang Asia Timur Raya. Diapun terdidik untuk meneriakkan kata-kata revolusioner. Gemblengan demi gemblengan turut menempa dan membekalinya dengan jiwa semangat patriotisme.

Demikian negara ini diproklamasikan, dia tentu termasuk barisan pemuda yang langsung lantang memekikkan kata merdeka. Bung Karno, Bung Hatta, dan Soedirman adalah sosok-sosok yang langsung menjadi idola dan panutannya. Ketika Belanda enggan hengkang dan justru ingin datang kembali untuk menguasai negeri kita, diapun dengan tekad bulat langsung bergabung dengan laskar perjuangan di selingkaran Tanah Kedu. Sekedar bersenjata bambu runcing di tangan, tidak pernah menyurutkan tekad untuk turut membela dan mempertahankan anugerah kemerdekaan bagi bangsa yang sangat dicintainya.

Meski tidak menduduki kepemimpinan di kesatuan laskar, dia memiliki tugas yang sangat penting sekaligus berbahaya. Meskipun tidak secara langsung berada di garis depan pertempuran namun peran yang dilakoninya sangat menentukan keberhasilan gerak perjuangan laskar dan keseluruhan pejuang sebangsa setanah air. Dia adalah seorang kurir sekaligus seorang telik sandi.

Sebagai kurir, sosoknya harus berpindah-pindah untuk menyampaikan warta ataupun surat-surat penting dan rahasia. Dia memang seorang mata-mata. Dia menjadi penghubung antar kesatuan laskar di berbagai wilayah kantong-kantong perjuangan yang tersebar berpagar Merapi, Merbabu, Andong, Ungaran, Sumbing, Sindoro, hingga jajaran punggung Menoreh. Dari dusun ke dusun, dari barak ke barak, dari markas ke markas, dari dapur umur ke dapur umur, dari hutan ke hutan adalah medan tugas perjuangannya. Tentu diapun tak kalah sering juga berpindah dari satu pertempuran ke pertempuran yang lain.

Di kala penjajah sudah hengkang, di kala pergesekan-pergesekan pasca perang dan negara kita benar-benar menghirup alam kemerdekaan, dia masih tetap setia dengan pengabdiannya. Jika banyak diantara rekan seperjuangannya yang beruntung untuk bergabung resmi di kesatuan ketentaraan, dia lebih memilih untuk tetap berada di tengah-tengah masyarakat dusun. Bertani adalah pekerjaan yang ditekuninya hingga kini di usia senjanya.

Satu-satunya tanda penghargaan dari pemerintah baginya sebagai seorang bekas veteran perang adalah seperangkat seragam hijau tua lengkap dengan peci coklat. Ya, dia memang tergabung di kesatuan Legium Veteran Kemerdekaan Republik Indonesia. Selembar kertas piagam penghargaan bergambar bintang kuning emas berlingkar padi dan kapas berwarna emas pula.  Piagam itulah kebanggaan patriotismenya kepada tanah air pusaka Indonesia.

Mbah Kodir, demikianlah dia dikenal di lingkungan tempat tinggalnya. Melampaui usia lebih dari satu abad menjadikan segenap tubuhnya kian lemah dan renta. Tulang tentu tidak sekeras dulu lagi, tetapi Mbah Kodir sosok pekerja keras demi menghidupi keluarga dan putera-puterinya. Dengan tenaga lemah yang tersisa dia tidak pernah meninggalka segala kewajiban kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Hari-hari kini dijalaninya dengan banyak berdzikir dan mengenangkan segala jerih payah perjuangannya.

Dia Mbah Kodir. Dia memang hanyalah sosok biasa nan sederhana. Tetapi dia adalah pejuang perang yang tersisa. Dia sosok panutan yang senantiasa rame ing gawe lan sepi ing pamrih dalam pengabdian kepada nusa bangsa. Dia adalah sosok teladan dalam mencintai tanah airnya. Diapun tentu seorang pahlawan. Salam merdeka! Salam merdesa!

Ngisor Blimbing, 16 Agustus 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s