Martabak Simpang Sawah Dalam, Martabak Istimewa


Kesan pertama begitu mendalam. Demikian barangkali banyak orang mengatakan mengenai sebuah perkenalan yang demikian berkesan. Berkenalan dengan orang baru, tempat baru, bahkan suatu makanan baru. Kesan mendalam demikianlah yang mendera si ponang terhadaerp menu makanan yang bernama martabak. Kok bisa! Bagaimana awal mula kisah fanatisme martabak ini bisa terjadi.

Martabak. Tulisan ini sengaja hanya ingin membatasi cerita tentang martabak telor. Menjalani ibadah puasan Ramadhan yang sehari penuh selama sebulan tentu bukan hal yang ringan bagi seorang bocah seumuran sekolah dasar. Hari hari biasa yang senantiasa lekat dengan sarapan pagi sebelum sekolah, jajan di penjaja di gerbang sekolah jelang masuk kelas, ataupun jajan di kantin di waktu istirahat adalah sunatullah keseharian bocah sekolah. Tiba tiba semua tersebut harus ditinggalkan di masa Ramadhan. Memang seumumnya orang yang beribadah puasa di bulan suci, para bocahpun bersantap saur sebelum Subuh. Namun bagi anak-anak, puasa tetap merupakan ritual ibadah yang maha berat.

Seharian berpuasa penuh tentu membuat anak-anak kita lemah, letih, lesu, lemas, loyo, lungkrah, dan tak berdaya. Maka jikapun anak-anak itu sempat sekolah di pagi hari, maka setengah hari sesudahnya lebih banyak dihabiskan dengan santai-santai bahkan tidur siang yang kadang berkepanjangan. Dan biasanya hati dan perasaan para ibu-ibu akan langsung trenyuh dan tersentuh melihat pemandangan demikian. Walhasil demi menggembirakan anak anak yang berpuasa, ibu-ibupun kemudian bertekad menyajikan sajian buka puasa istimewa untuk mengaresiasi puasanya si kecil. Hal ini pulalah yang sering dilakukan ibunya anak anak di bulan Ramadhan.

Ada banyak cara untuk menghadirkan sajian buka puasa isitimewa. Ada ibu ibu yang sengaja memasak menu masakan istimewa. Hal ini tentu sangat umum dilakukan oleh ibu ibu yang memang pandai memasak sekaligus memiliki keluangan waktu untuk melakukannya. Beda halnya dengan ibu-ibu yang tidak memiliki kecukupan waktu untuk mengolah masakan sendiri. Pilihannya yang pada umumnya langsung saja menuju pasar kaget Ramadhan yang biasanya menjamur di sepanjang pinggiran jalan-jalan strategis. Daripada pusing tujuh keliling, tentu lebih praktis jika beli makanan siap santap.

Ada banyak sekali menu makanan dan masakan yang biasa dijajakan di pasar kaget Ramadhan. Salah satu diantaranya ya martabak telor itu. Dari sinilah kisah berawal.

Pada suatu senja, ibunya anak-anak sengaja membawakan sebuah kerdus kecil beris martabak telor. Makanan berbahan dasar tepung dan telor itu sengaja dibeli di pasar kaget Ramadhan simpang jalan Sawah Dalam. Tanpa mengurangi kenikmatan menu martabak telor, sebenarnya penjaja dan tempat jualan martabak yang disambangi ibunya anak-anak tersebut bukanlah seorang penjaja ternama, bukan pula dari sebuah gerai modern nan ternama. Semuanya biasa saja. Penjajanya yang orang biasa yang bersahaja. Tempat jualnyapun hanya sebuah gerobak kaki lima yang diparkir di trotoar pinggiran jalan.

Mungkin dikarenakan seharian lapar tanpa makanan pengganjal perut, setiap makanan yang disantap pada saat berbuka puasa bagi orang yang berpuasa akan senantiasa terasa nikmat dan lezat. Begitupun dengn martabak telor oleh-oleh istri saya di sore itu. Begitu bedug ditabuh dan adzan maghrib berkumandang, selepas meneguk beberapa tegukan air putih dan es cendol, si Ponang langsung  menjumput seiris martabak yang dibelikan ibunya sore itu.

“Hmmm, uenak bangat rasanya!” demikian kira-kira komentar pertama yang terlontar dari mulut si Ponang sambil mengunyah martabak.

Sore itu memang perkenalan pertama kali dengan martabak bagi si Ponang. Melalui kesan pertama perkenalan yang sangat berkesan, maka di hari-hari selanjutnya si Ponang selalu request ibunya untuk menghadirkan martabak Simpang Sawah Dalam sebagai menu wajib buka puasanya. Dan kebiasaan itupun senantiasa berulang di masa-masa Ramadhan selanjutnya, bahkan hingga bulan puasa tahun ini.

Tresno mungkin memang jalaran seko kulino. Kesan enak dengan martabak pada saat pertama kali menyantap membuat si Ponang jatuh hati dengan martabak. Anehnya bagi si Ponang martabak yang paling enak bin nikmat hanyalah martabak Simpang Sawah Dalam. Martabak yang lain? No way! Enggak enak! Mau martabak bermerk terkenal, martabak terang bulan, martabak sejuta pelanggan, martabak dari pulau lascar pelangi? Semuanya enggak enak! Yang paling enak, paling jempol, paling nomor wahid, soal martabak ya hanya martabak Simpamg Sawah Dalam. La martabak illa martabak Simpang Sawah Dalam. Demikian barangkali perumpamaan ketauhidan si Ponang perihal martabak telor.

Puasa berlalu, penjaja martabak kekaremannya si Ponangpun mudik ke kampung halamannya untuk berlebaran. Selepasa masa lebaran dan orang-orang rantau kembali menjalani aktivitas di tanah rantau, lha kok gerobak kaki lima penjaja martabak Simpang Sawah Dalam itu teronggok diam tak bertuan. Hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan terlewat hampir dua bulan belum juga ada tanda-tanda gerobak martabak telor itu kembali menjalankan rutinitasnya. Walhasil selama itu pula si Ponang yang dalam beberapa kesempatan senja melewati Simpang Sawah Dalam harus menelan ludah dalam-dalam dari keinginan untuk menikmati kembali martabak telor ala Ramadhan yang sangat digandrunginya.

Sore kemarin ketika lewat, kami sempat melirik ke gerobak martabak. Bapak setengah baya yang biasa menjajakan martabaknya nampak bebersih gerobak. Kamipun menyimpulkan rutinitas gerobak martabak Simpang Sawah Dalam itu akan diputar kembali. Nyatanya memang demikian. Sore ini ketika kami kembali lewat, nampak penjaja itu sudah siaga. Dengan segala uba rampe dan bahan-bahan dasar martabak ia sudah kembali siap untuk melayani pelangganya. Tidak hanya bersiap untuk melayani pelanggan, merekapun sejatinya tengah menggeliat untuk kembali mengais rejeki, memutar roda ekonomi keluarga, mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, menghidupi anak-anak beserta sanak kerabatnya.

Tentu kabar ini kabar baik bagi si Ponang. Tentu kamipun turut bergembira. Dan sebagai wujud kegembiraan itu kamipun membawakan seporsi kerdus kecil martabak telor kesukaan si Ponang. Alhamdulillah si Ponang happy. Adiknya happy. Kamipun bersyukur atas kenikmatan indah di senja ini.

Kesan pertama memang begitu menggoda. Selanjutnya, terserah Anda.

Ngisor Blimbing, 3 Agustus 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s