Tragedi Empyak dan Uler Keket


Alkisah, kejadian dalam cerita ini sudah terjadi lebih dari 30 tahun silam. Sore itu kira-kira waktu selepas Ashar. Pakdhe Darmo, tetangga berjarak satu rumah di sisi barat tempat tinggal kami, beberapa hari sebelumnya, memulai renovasi rumahnya. Sebuah rumah bergaya omah kampung yang masih beralas tanah, berdinding gedheg anyaman bambu, dan beratap genteng tanah liat.  Meskipun rumah tersebut direhap secara total, namun beberapa bagian bahan rumah yang masih layak dipakai sengaja disisihkan untuk kelak dipergunakan kembali. Salah bagian tersebut adalah beberapa tangkep empyak.

Empyak merupakan kerangka atap sebuah rumah. Empyak merupakan rangkaian bilah bambu yang berguna sebagai dudukan untuk memasang dan menata genteng. Bagian utama rangkaian empyak terdiri atas bilahan usuk dan reng. Meskipun dapat memergunakan bilahan balok kayu berukuran kecil, namun di kampung kami usuk lebih umum dibuat dari bambu. Ada usuk yang berupa potongan bilah bambu utuh gelundungan yang biasanya terbuat dari bambu apus. Ada pula usuk dari bilahan bambu petung yang dibelah menyeruai balok kayu. Usuk berposisi membujur dari sebuah rangkaian empyak.

Lain usuk, lain pula dengan bagian lain dari empyak yang disebut reng. Reng umumnya terbuat dari bilah belahan bambu yang memanjang. Bilah reng biasa dipasang secara melintang di atas tatanan usuk-usuk. Jarak antar reng yang melintang tersebut selebar ukuran genteng yang akan dipasang. Pada reng inilah genteng-genteng tanah liat ditata dan dipasang secara rapi teratur.

Seumumnya empyak yang baru dibongkar dari atas rumah dan akan dipergunakan kembali karena dirasa masih layak, empyak tersebut biasanya ditempatkan di sisi halaman atau pekarangan samping rumah. Nah saat itu empyak dari rumah Pakdhe Darmo ditempatkan menyender pada pohon jeruk gulung, tepat di sisi pinggir jalanan. Rangkain empyak yang lebih mirip sebagai jajaran tangga bambu tersebut sering menjadi sarana para bocah untuk bermain. Paling tidak sekedar memanjat dengan menapaki deretan rengreng, seorang bocah dapat menikmati pemandangan sekeliling dari ketinggian sebuah empyak.

Demikian halnya apa yang saya lakukan di kala sore itu. Ingin menikmati pemandangan dan suasana sekitar dari ketinggian saya sengaja memanjat empyak tetangga yang tengah parkir tersebut. Tanpa seorang kawanpun, saya memanjat empyak seorang diri. Tanpa memerlukan waktu lama, sayapun sudah bertengger di sisi atas puncak empyak. Tidak tinggi-tinggi amat, hanya sekitar tiga atau empat meter dari permukaan tanah jalanan.

Berdiri dengan kedua belah kaki menapaki reng, tangan kami berpegangan erat kepada bagian usuk. Di samping menyender pada dua batang pohon jeruk gulung yang tinggi, empyak yang saya naiki juga bersentuhan dengan beberapa batang dan dedaunan ketela pohong. Nah tanpa dinyana-nyana tanpa diduga-duga, pada rerimbunan daun ketela pohong yang ijo royo-royo itu sekonyong-konyong muncul seekor ulat keket yang sungguh mengejutkan.

Ulat, atau kami biasa menyebutnya sebagai uler itu sebenarnya tidak terlalu besar. Ukurannya mungkin tidak lebih dari seukuran ibu jari dan panjangnya tidak lebih dari lima centi meter. Namun yang namanya uler keket, ketika ia tersentuh makhluk lain dan merasa terkejut apalagi terancam, maka uler keket akan langsung menggeliat, njingkrung, bahkan bisa juga berdiri dengan berkaki pada sisi bagian tubuh belakangnya. Reaksi tersebut mungkin menjadi sebuah shock teraphy bagi makhluk lain yang dianggapnya mengusik ketenangannya.

Dengan shock teraphy ala nguletnya uler keket tersebut, pihak lain yang telah menyentuhnya biasanya akan langsung terkejut, kaget, dan bahka ketakutan bin methotholen. Itulah yang terjadi dengan diri saya di sore yang naas itu. Cilakanya ketika saya tengah terkejut bukan kepalang karena kehadiran uler keket yang ngolet tersebut, pijakan reng yang saya tumpu mendadak patah. Mungkin bilah reng tersebut sudah sedemikian getas sehingga ketika dalam keadaan terkejut saya membuat gerakan yang memberikan beban impak mengejutkan yang membuatnya patah. Seketika itu pula tubuh saya melorot turun ke bawah.

Jika sekedar melorot dan terjatuh dari ketinggian yang tidak seberapa tersebut, mungkin saya tidak akan begitu kesakitan. Namun dalam kejadian naas tersebut justru bagian paha sisi dalam dari kaki kiri saya justru sempat tergores sebuah paku usuk yang sudah sedikit berkarat. Perih dan pedih yang terasa pada saat itu. Darahpun menetes dan saya meringis penuh kesakitan.

Meskipun sakit, tentu sebagai bocah lelaki tulen saya pantang untuk menangis. Sayapun berjalan pulang ke rumah meski harus berjalan terseok. Sampai di rumah, luka gores cukup panjang dan menganga tersebut langsung saya olesi dengan obat merah. Kami mengenalnya sebagai obat yodium. Untuk beberaa saat, bara panas dari obat merah yang saya oleskan mampu meredam rasa perih yang sebelumnya muncul.

Dalam beberapa hari berselang justru lukan gores yang saya alami bukannya semakin kering dan sembuh. Luka tersebut justru bengkak dan memunculkan nanah yang semakin banyak. Hari ke tiga dari kejadiaan naas, luka yang saya alami baru diperiksakan ke Puskesmas di kecamatan. Luka tersebut berkembang menjadi infeksi yang semakin menyiksa. Bu Bidan di Puskesmas yang memeriksa dan merawat luka saya masih mengucap syukur karena saya belum terlambat untuk memeriksakannya. Terlambat beberapa saat saja, luka tersebut dikhawatirkan berkembang menjadi tetanus yang serius. Setelah dibersihka lukanya, disuntik, dan diberi obat, sayapun pulang ke rumah.

Selama beberapa hari setelahnya saya terpaksa tidak bisa bermain apalagi berangkat ke sekolah. Setelah melalui masa istirahat dan perawatan, luka sayapun berangsur membaik dan sembuh. Meskipun sembuh, namun kejadiaan tragedi empyak dan uler keket tersebut telah meninggalkan bekas luka yang hingga hari ini menjadi “ciri” di paha kaki kiri saya. Moga hal yang demikian tidak lagi menjadi bagian dari kisah hidup anak-anak dan para bocah jaman now.

Ngisor Blimbing, 30 Juli 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s