Dongeng Gerhana Rembulan


Sambil berjalan menuju mushola petang ini si Noni bertanya, “Emang kenapa bulan dipangan raksasa¿“. Sayapun sekedar menimpali singkat, ”Dikirane onde onde!

Memang semenjak pemberitaan yang gencar akan adanya peristiwa gerhana bulan pada Sabtu dini hari ini si Noni memang turut menyimak melalui tivi. Namanya juga anak anak, gerhana bulan tentu sangat mengundang rasa ingin tahunya. Dari beberapa versi dongeng ataupun mitos, rupanya bocah saya tersebut mendengar cerita tentang dimakannya bulan oleh Betara Kala, saat terjadi gerhana bulan.

Selepas Maghrib yang biasanya kami isi dengan ngaji bersama, maka petang ini sengaja kami pause untuk sementara waktu. Pause atau breaking time kali ini kami sengaja isi dengan menyegarkan kembali dongeng tentang Betara Kala dan gerhana bulan.

Alkisah di Negeri Kahyangan, para dewa hidup dalam keabadian. Keabadian hidup tersebut didapatkan oleh para dewa setelah masing masing dari mereka meminum air suci tirta permata perwita sari. Air suci sumber keabadian.

Suatu ketika, Betara Kala yang jahat terpikir juga ingin hidup abadi. Ia meskipun bukan dari golongan para dewa teta ingin meminum air suci tirta perwita sari. Dengan tekad bulat, ia nekad mencuri pundi pundi yang berisi air suci tersebut yang disimpan dalam pengawasan Dewa Wisnu.

Tatkala Batara Kala mencuri air suci tirta perwita sari, Dewa Surya dan Dewi Candra memergoki tindakan Batara Kala. Kedua dewa dewi itu kemudian melaporkan peristiwa itu kepada Dewa Wisnu. Dewa Wisnu tentu sangat murka atas perbuatan Betara Kala. Ia sendiri segera mengejar untuk menangkap si pencuri air keabadian kahyangan milik para dewa.

Ketika dilihatnya Betara Kala tengah meneguk air suci perwita sari, Dewa Wisnu segera meluncurkan panah cakra senjata pamungkasnya. Panah pusaka sakti tersebut tepat mengenai leher Batara Kala. Hal tersebut menyebabkan kepala Batara Kala terpenggal, putus, dan terpisah dari badannya yang lain. Namun demikian, beberapa tetes tirta suci permata sari telah terminum, bahkan sampai di kerongkongan. Maka seketika itu pula bagian kepala Batara Kala hidup dalam keabadian.

Adapun badan Betara Kala yang lain bagaimana. Seluruh bagian tubuh di bawah leher yang terpenggal melayang layang dan terjatuh ke bumi dan seketika berubah menjadi lesung, alat penumbuk padi.

Semenjak saat itu, Batara Kala sangat dendam kepada Dewa Surya dan Dewi Candra. Merekalah yang telah melaporkan dirinya kepada Dewa Wisnu. Karena laporan keduanyalah Dewa Wisnu mengejar dan memenggal kepalanya. Setiap kali berhasil menemukan Dewa Surya maupun Dewa Candra, Kala langsung menelan matahari ataupun rembulan. Inilah yang menyebabkan hilangnya matahari atau rembulan yang menimbulkan terjadinya peristiwa gerhana. Bulan kehilangan cahanyanya. Bulan redup, bahkan gelap sehingga cahayanya seolah padam dan tidak dapat lagi menerangi bumi tepat di saat gerhana terjadi.

Pada saat rembulan tertelan ke dalam mulut Batara Kala terjadilah gerhana bulan. Masyarakat bumi sangat percaya dengan cerita ditelannya rembulan oleh Batara Kala pada saat terjadi gerhana bulan. Mereka juga meyakini bahwa tubuh Kala yang terenggal dan jatuh ke bumi berubah menjadi lesung. Oleh karena itu, masyarakat kemudian memukuli lesung alias tubuh Betara Kala pada saat Kala menelan rembulan. Kalapun sadar bahwa ia tidak akan dapat menelan rembulan selamanya. Setelah masuk ruang mulut, rembulan yang ditelannya akan menggelinding melewati kerongkongan. Namun karena leher Kala telah terputus, maka rembulan itupun tidak berlanjut masuk ke perut dan lambung namun justru keluar melalui leher dan bersinar kembali.

Dongeng sebab musabab gerhana rembulan itupun terulang kembali untuk dikisahkan kepada si Noni dan kakaknya. Namun demikian, di era kecanggihan informasi dan komunikasi saat ini mengharuskan orang tua untuk tidak semata mata terhenti pada dongengan untuk menjelaskan sebuah fenomena alam, sebagaimana peristiwa gerhana bulan malam ini. Kamipun kemudian menyempat bersama untuk melacak berbagai informasi mengenai gerhana bulan. Tentu saja mbah google dan youtube sangat membantu kami untuk memberikan gambaran dan pemahaman yang secukupnya kepada si Noni dan kakaknya.

Ngisor Blimbing, 27 Juli 21o8

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s