Tari dan Sandal Berserakan


Sandal berserakan bukannya di depan masjid. Sandal berserakan juga bukan ditinggal para pemiliknya among-among atau kendurian. Bukan pula karena yang punya sedang pesta hajat sunatan massal. Apalagi sandal itu milik para penonton tivi yang rela numpang nonton bareng tivi tetangga sebagaimana era tahun 80-an dulu. Lalu sandal-sandal berserakan itu milik siapa? Lalu pemilik sandal-sandal berserakan itu sudah melakukan apa?

Usut punya usut, pemandangan sandal berserakan di depan pintu samping rumah kami tersebut memang sedang menjadi pemandangan sehari-hari. Selepas Maghrib, para bocah tetangga kanan-kiri kami memang kini tengah gentur-genturnya gladhen alias berlatih menari. 

impel saja cerita. Di setiap tahun, berkenaan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI pada setiap tanggal 17 Agustus, desa kami secara rutin mengadakan perlombaan gerak jalan dan pentas seni. Puji syukur jika bocah-bocah di dusun kami senantiasa semangat untuk turut memeriahkan perhelatan tersebut dengan turut menyumbangkan tari-tarian anak di panggung Utama.

Bisa jadi kita kini lebih sering menemukan bocah-bocah kita sehari-hari di luar jam sekolah sibuk dengan permainan game online melalui handphone di tangannya. Tidak sedulurku! Tidak semuanya demikian. Ternyata masih banyak anak-anak yang antusias dan semangat untuk turut belajar menari. Menari ternyata bisa juga mendatangkan sebuah sensasi dan kegembiraan tersendir bagi mereka. Mungkin jumlah mereka minoritas, namun yang sedikit tersebut justru memberikan harapan munculnya generasi penerus yang peduli dan merasa handarbeni terhadap seni budaya warisan leluhur kita.

Perihal tari apa yang mereka tekuni, mungkin tidaklah terlalu penting. Dengan segala keterbatasan, mereka sekedar mendonwload suatu tarian kreasi baru beriring gendhing klasik yang dapat diunduh secara mudah di youtube. Perkembangan kemajuan dunia internet saat ini sejatinya juga disemarakkan dengan konten-konten budaya dan tradisi klask dari nenek moyang kita. Selalu ada saja pihak-pihak pemerhati maupu pelaku seni tradisi yang mengunggah video penampilan mereka ke internet. Dan hal tersebut sesungguhnya merupakan potensi asset dalam rangka penyebarluasan dan pelestarian budaya kita.

Mungkin ada diantara pembaca yang pernah menyimak kabar ataupun berita mengenai pengaruh tarian leak dari Pulau Dewata yang Nampak jelas dalam gerak dan gagrak tarian kreasi baru yang lahir dari para seniman tani di lereng Merapi-Merbabu. Sebagaimana cerita saya sebelumnya, mereka tidak secara khusus dating ke Bali untuk berguru. Merekapun tidak serta-merta mendatangkan guru atau maestro tari bali ke dusun tempat tinggalnya. Ya, mereka sekedar menonton video di youtube dan menirukan gerak-gerik tariannya untuk kemudian menggabungkan serta mengkolaborasikannya dengan unsur-unsur gerakan tarian setempat yang kemudian melahirkan jenis tarian kreasi baru yang aduhai.

Dari kisah ini mungkin kita bisa memetic hikmah Bersama bahwa dalam setiap proses perubahan, termasuk derasnya kemajuan teknologi internet pada saat ini selalu menyertakan sisi positif dan negative sekaligus. Sebuah keniscayaan bahwasanya kebaikan akan senantiasa bersanding ataupun berhadapan dengan kebatilan. Sesuatu menjadi bermanfaat atau merugikan manusia, sesungguhnya kembali kepada niat, itikad, cara pandang, sudut Panjang, jaarak pandang, hingga resolusi dan revolusi pandang kita masing-masing. Sesuatu yang dimaknai secara positif, insya Allah akan menumbuhkan sesuatu yang positif pula. Sebalik jika sesuatu kita pandang secara negatif, sangat besar kemungkinan akan menghadirkan sesuatu yang negatif pula. Semua kembali ke diri kita masing-masing. Teknologi hadir secara netral dan bebas nilai. Kitalah, manusialah yang selanjutnya mewarnainya dengan kebaikan ataukah dengan kebatilan. Semoga.

Tepi Merapi, 23 Juli 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s