Estafet Ngebis Trans Sumatera-Java


Pagaralam? Selintas saya ingat Pagaruyung. Rupanya Pagaralam berada di Sumatera Selatan. Saya menjadi ingat Gunung Dempo. Nama sebuah gunung yang turut tersebut di dalam novel Perawan di Sarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisyahbana. Ketika seorang rekan penumpang seperjalanan saya tanyakan dari mana dan hendak kemanakah, saya begitu terkejut mendengar jawaban Pagaralam. Terang saja, bus malam yang kami tumpangi tersebut rutenya Tangerang-Temanggung-Jogja-Wonosari. Bagaimana ada penumpang dari Pagaralam naik bus tersebut?

Begini kisahnya! Rekan penumpang seperjalanan tersebut kira-kira seumuran dengan saya. Ia bepergian bersama dengan istri dan dua orang anaknya. Si Sulung kira-kira berusia 9 tahun. Adapun adiknya masih sekitar 2 tahun dan senantiasai tidak lepas dari gendongan ibunya. Rekan tersebut bersama keluarganya baru saja mengunjungi mertuanya, orang tua dari istrinya, dan sekaligus kakek-nenek dari anak-anaknya tersebut yang tinggal di Pagaralam. Lalu bagaimana bias dari Pagaralam kok naik bus yang start dari Tangerang?

Pagaralam, daerah pinggiran Sumatera Selatan yang berbatasan dengan Bengkulu berjarak 300-an km dari Palembang. Letaknya yang terpencil membuat akses transportasi ke luar daerah tentu masih susah. Dari daerah tersebut bus AKAP tujuan Jogja hanya ada dua kali dalam sepekan. Dengan pilihan bus yang tidak begitu banyak, keluarga yang saya kisahkan ini kemudian lebih memilih untuk naik bus secara estafet. Dari Pagaralam mereka naik bus arah Jakarta, tepatnya Terminal Kalideres. Turun di Terminal Poris mereka baru melanjutkan perjalanan menuju Magelang.

Perjalanan jarak jauh menggunakan bus umum bersama keluarga dan anak-anak yang masih kecil tentu bukan perjalanan yang main-main. Mereka berangkat dari Pagaralam pada Selasa pagi hari pukul 09.00. Setelah melintasi rimba raya di sisi selatan daratan Sumatera, bus mereka menyeberangi Selat Sunda. Rabu pagi kapal ferry membawa mereka dari Bakauheuni hingga Merak. Setelah perjalanan dilanjutkan, turunlah mereka di Terminal Poris tepat Rabu pukul 12.00.

Perjalanan Panjang dengan jalanan yang masih bergelombang keras di Sumatera tentu membuat keluarga kecil tersebut kelelahan. Merekapun beristirahat sejenak sambil menunggu bus malam menuju Magelang yang biasa berangkat di waktu sore.

Mendengar kisah perjalanan keluarga kecil tersebut secara berestafet ganti bus, saya hanya mbatin alangkah luar biasanya niat, semangat, tekad, dan juga stamina mereka. Mereka adalah gambaran manusia dan rakyat negara kita yang sesungguhnya. Masyarakat kecil yang tidak sempat untuk berkeluh-kesah terhadap permasalahan yang dihadapi di depan mata. Mareka lebih memilih untuk menghadapi dan menjalani segala kesusahan yang ada. Tokh susah dan senang mungkin hanya soal perasaan. Hal sesusah apapun kalua dijalani dengan rasa senang, ya tidak akan terasa susahnya. Demikian barangkali etos berpikir manusia Nusantara yang selalu memunculkan seribu satu alasan untuk tetap bersyukur atas segala karunia Sang Maha Pencipta. Apapun yang diberi, ya dinikmati wae….

Bayangkan jika mereka keluarga manja yang serba ribet dengan kenyamanan perjalanan? Yang pusing berpikir AC-nya dingin tidak. Kursinya empuk apa nggak. Toiletnya wangi apa bau. Restoran tempat istirahatnya sedap apa seadanya. Jika mereka menggunakan cara piker tersebut, mungkin mereka tidak akan nekad menempuh perjalanan antar pulau naik bus secara berestafet dengan membawa serta anak-anak. Nekad? Mungkin demikian! Nekad dan tekad bulat, barangkali hanya itulah modal yang dimiliki oleh orang-orang kebanyakan yang semakin tida memiliki banyak pilihan di tengah cepatnya roda pembangunan yang justru semakin meninggalkan mereka di belakang kemajuan jaman.

Hampir di sepanjang perjalanan malam yang remang, si sulung hamper tidak bias lelap dalam tidur yang nyenyak. Ia bahkan sangat antusias memperhatikan sisi depan dan sesekali menanyakan bus sudah sampai dimana. Ia bahkan seolah sangat menikmati setiap tarikan gas Pak Sopir dan sesekali mendesis-desis saat bus direm gas.

Ketika gerbang Kota Magelang kami masuki di pagi dini hari sekitar pukul 03.00 keluarga kecil nan sederhana itupun Nampak antusias turun dari bus. Ketika mereka menurunkan barang bawaan dari bagasi di sisi samping bus, saya melihat kardus besar, karung, dan beberapa barang yang tidak ringan untuk ditenteng. Saya hanya bisa membayangkan betapa luar biasanya rasa kegembiraan mereka melebihi bayangan rasa kesusahan yang harus dijalani. Sungguh dari orang-orang semacam merekalah saya banyak belajar tentang nilai kehidupan.

Tepi Merapi, 19 Juli 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s