Renungan Sekarung Kantong Kresek


Sekarung plastik kresek. Bayangkan tradisi nyamah kita sehari hari dengan kantong kresek. Dikali sekian orang, sekian keluarga, sekian RT, sekian RW, sekian desa atau kelurahan, sekian kecamatan, sekian kabuaten, sekian provinsi, sekian negara, sekian hari, sekian minggu, bulan, tahun? Itu baru plastik kresek. Monggo dipikirkan kembali!

Istri beli beras, pulang bawa sekantong plastik beras. Suami pulang dari toko bangunan, bawa sekantong plastik belanjaan. Kakak beli buku di toko buku, pulang juga bawa kantong plastik. Adik beli jajanan di warung tetangga, pulang juga membawa kantong plastik. Hampir bisa dipastikan setiap hari tidak kurang dari satu kantong plastik masuk ke rumah kita.

Demikian halnya di rumah kami. Tidak kurang satu atau dua plastik masuk ke dalam rumah kami setiap harinya. Ndilalahnya, istri termasuk sosok perempuan yang primpen. Dengan pemikiran alangkah sayangnya sebuah kantong plastik yang lumayan kuat hanya dipakai untuk sekali keperluan saja, kantong kantong plastic itupun satu per satu dikumpulkannya. Hari demi hari, waktu demi waktu, kantong kantong plastik itupun semakin rupanya semakin menumpuk, bahkan menggunung. Ketika hari ini kami semat bongkar bongkar gudang, rupanya kumpulan kantong kresek plastik tersebut telah mencapai sekarung.

Sampah, terutama plastik, merupakan masalah sehari hari yang dihadapi masyarakat modern saat ini. Tidak di kota, bahkan di desapun plastik menjadi masalah lingkungan yang semakin serius. Sebut saja soal plastic kresek. Plastik kresek memang menjadi pilihan aling praktis bagi masyarakat untuk keperluan bungkus membungkus. Orang belanja, belanjaannya dibawa dengan kantong kresek. Orang membawa makanan, makanannya diwadahi dengan kantong kresek. Orang membungkus makananpun juga menggunakan kantong kresek.

Kenapa hampir dalam setiap aktivitas kita cenderung menggunakan kantong kresek. Dulu sebelum manusia mengenal kantong kresek, manusia tradisional menggunakan aneka dedauan untuk urusan bungkus membungkus. Daun pisang, daun jati, daun kelapa mungkin menjadi pilihan utama. Penggunaan berbagai macam daun tersebut kini dipandang tidak praktis lagi. Di samping karena aneka daun tersebut semakin susah didapatkan, kemampuan, daya tahan, keawetan, maupun umur pakainya jauh kalah dibandingkan dengan bahan plastik.

Permasalahannya justru ada pada keawetan dan umur plastik terlalu panjang itu. Plastik berumur sangat panjang. Diperlukan masa hingga jutaan tahun untuk mengurai bahan plastik. Bahkan bahan plastik sering dikatakan sebagai bahan yang tidak dapat terdegradasi. Disimpulkanlah bahan plastik sebagai bahan yang tidak ramah lingkungan. Plastik bekas merupakan sampah berumur panjang yang mencemari lingkungan kita.

Jika demikian kenyataannya, akankah kita terus menerus dan tidak berpikir untuk membatasi ataupun mengurangi penggunaan kantong plastik kresek kita. Demi kelestarian lingkungan hidup kita dan masa depan anak cucu kita, monggo kita renungkan kembali kebiasan sehari hari kita dalam penggunaan kantong plastik kresek. Mudah mudahan kita mampu untuk membatasinya. Semoga…..

Ngisor Blimbing, 14 Juli 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s