Gonjang Ganjing ES KA TE EM


Setelah masyarakat diributkan dengan isu susu kental manis tanpa susu, kini masyarakat ribut lagi soal SKTM. Susu kental tanpa madu. Bukan masbro dan mbaksis! SKTM tidak ada hubungannya lagi dengan isu susu kental manis tanpa susu yang tempo hari. SKTM konon merupakan kependekan dari Surat Keterangan Tidak Mampu.

Isu SKTM sangat berkaitan dengan musim pendaftaran siswa baru pada berbagai jenjang sekolah. Menurut Permendikbud terbaru yang mengatur tentang penerimaan siswa baru pada suatu sekolah negeri, diinstruksikan untuk setiap sekolah menyediakan 2O% bangkunya untuk siswa dari keluarga tidak mampu. Untuk mendukung kondisi tidak mampu tersebut, calon siswa dari keluarga tidak mampu dipersyaratkan melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu, alias SKTM, yang diterbitkan oleh pemerintah desa atau kelurahan tempat tinggal.

Hebohnya, demi memuluskan agar buah hatinya dapat diterima pada alokasi 2O% bangku untuk siswa dari keluarga tidak mampu, sangat banyak orang tua calon siswa dari keluarga mampu yang turut memburu SKTM. Dengan demikian, SKTM telah disalahgunakan oleh pihak yang tidak semestinya. Di wilayah Provinsi Jawa Tengah saja konon Gubernur setempat mengungkap fakta lebih dari 72.000 SKTM telah disalahgunakan. Bayangkan coba! Betapa masifnya kasus ini.

Kalau sudah kejadian seperti ini, apakah hanya pihak orang tua atau keluarga si calon siswa mampu saja yang telah melanggar aturan? Apakah adil jika kasus tersebut hanya mempersalahkan orang tua saja. Bagaimana dengan aparatur pemerintah yang menerbitkan SKTM. Apakah mereka sama sekali bersih dari kontribusi kesalahan. Bagaimana pula dengan pemerintah selaku pemegang kebijakan sistem pendidikan kita.

Bagaimana hal ini bisa terjadi. Suatu pelanggaran terbitnya suatu surat keputusan tata usaha negara (KTUN), tentu bukan semata-mata kesalahan dari pemohon. Dalam hal SKTM, pemohon yang dianggap paling bersalah. Bagaimanapun pemohon hanya sekedar memohon. Seharusnya pihak penerbit SKTM pada saat melakukan evaluasi terhadap permohonan SKTM benar-benar memverikasi data yang diajukan. Tidak hanya pihak penerbit SKTM di tingkat pemerintahan desa atau kelurahan, bahkan pihak aparatur pemerintah tingkat terendah, seperti RT dan RW untuk benar-benar jujur dan obyektif ketika menerbitkan surat pengantar atau rekomendasi.

Dengan kejujuran dan obyektivitas apparat RT dan RW, kemudian dengan validitas proses evaluasi dengan verifikasi secara langsung ke lapangan, SKTM yang terbit benar-benar menerangkan kondisi kemampuan ekonomi sebuah keluarga yang akan mendaftarkan putra-putrinya untuk bersekolah di sekolah negeri. Apabila kondisi ini terjadi, tidak perlu ada lagi verifikasi lapangan oleh pihak sekolah yang justru akan semakin memperpanjang proses administrasi dan birokrasi yang terjadi. Sebagai pihak pengguna, sekolah juga tidak terbebani pekerjaan tambahan yang diluar tugas pokoknya dalam penerimaan siswa baru

Bayangkan saja apabila pihak pengguna selalu terbebani tentang keaslian, keabsahan, penyalahgunaan oleh mitra kerjanya, apakah seorang pasien juga harus melakukan verifikasi terhadap izin praktek dari dokter yang akan mengobatinya. Bahkan seorang siswa harus memverifikasi sertifikat sertifikasi dari guru yang akan mengajarnya di depan kelas. Apakah demikian.

Di sisi lain, apakah memang sudah tepat rumusan kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menetapkan salah satu mekanisme penerimaan siswa negeri dengan SKTM. Apakah tidak lebih baik bahwasanya setiap siswa, apakah miskin ataupun kaya diperlakukan secara sama dan sederajat, memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk bersekolah di sekolah negeri. Kenapa persyaratan untuk bersekolah tidak mengacu dan menitikberatkan kepada prestasi atau kemampuan si calon siswa itu sendiri. Bahwa jikaun nantinya ada siswa dari keluarga tidak mampu diterima di bangku sekolah negeri, barulah diterapkan mekanisme bantuan dalam rangka meringankan beban dari keluarga tersebut. Saya rasa mekanisme tersebut lebih masuk akal untuk diterapkan daripada kebijakan SKTM yang menimbulkan gonjang-ganjing dan polemik di tengah masyarakat saat ini.

Dipikir-pikir hanya untuk menyekolahkan anak saja, kok semakin ruwet di negeri yang katanya semakin maju ini! Entahlah…..

Ngisor Blimbing, 12 Juli 2O18

Gambar dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Gonjang Ganjing ES KA TE EM

  1. layangseta berkata:

    Bikin aturan penting enggak penyumbatan😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s