Ramadhan dan Tradisi Selikuran


Satu lagi tradisi di bulan Ramadhan yang hingga kini masih tetap lestari di kalangan muslim Jawa, khususnya di lingkungan pedesaan, adalah selikuran. Selikur berarti dua puluh satu. Tradisi ini memang berkaitan erat dengan tanggal-tanggal likuran, selepas tanggal dua puluh satu Ramadhan ke atas. Istilah selikuran sendiri data dimaknai sebagai tanggal awal dimulainya tradisi selikuran.

Bulan Suci Ramadhan merupukan bulan yang penuh dengan keberkahan dan kemurahan pahala kebaikan dari Allah. Setiap amalan wajib dilipatgandakan pahalanya.  Amalan-amalan sunnah dinilai setara pahalanya dengan amalan wajib di bulan-bulan biasa. Hal inilah yang mendorong ummat muslim untuk melipatgandakan intensitas amalan ibadahnya di bulan Ramadhan. Salah satu amalan yang tiada akan putus pahalanya adalah beramal jariyah ataupun bersedekah.

Salah satu bentuk sedekah yang dilaksanakan pada bulann Ramadhan adalah bersedekah dengan membagi-bagikan makanan kepada jamaah yang selesai melaksanakan sholat tarawih pada setiap malam pada sepertiga akhir bulan Ramadhan. Sedekah di akhir Ramadhan inilah yang dikenal sebagai tradisi selikuran. Selain itu banyak juga masyarakat yang mengistilahkannya sebagai prosesi sedekahan. Setiap malam, secara bergiliran, setiap keluarga membuat makanan nasi tumpeng atau ambeng lengkap dengan segala uba rampenya. Ada sayur dan lauk ingkung. Ada thontho, keper, peyek, tahu-tempe bacem, mie, hingga krupuk.

Selepas rangkaian sholat tarawih usai dilaksanakan, banyak jamaah lelaki maupun perempuan masing-masing duduk melingkar. Uba rampe sedekahan berupa nasi tumpeng-ambeng dan kelengkapannya tadi ditempatkan di tepat tengah kalangan. Pak kaum atau modin kemudian memimpin doa. Sebelum doa-doa dipanjatkan dan diaminkan, terlebih dahulu diikrarkan niat dan maksud shohibul sodaqoh untuk berderma melalui makanan yang akan dibagi-bagikan dan disantap bersama-sama. Di samping sekedar bersedekah, dengan berbagi makanan diharapkan pula akan teraihnya kemuliaan malam lailatul qodar.

Uniknya tradisi selikuran adalah keutamaan kebersamaan menyantap makanan secara berjamaah. Usai didoakan, makan yang disedekahkan dibagikan secara merata kepada semua jamaah yang hadir, dari yang paling kecil, anak-anak, para remaja-remaji, pemuda-pemudi, bapak-ibu, hingga para sesepuh sekalipun. Makanan dibagikan secara merata. Seringkali banyaknya makanan yang ada membuat para jamaah terpaksa membawa pulang sebagaian jatah berkatannya. Uniknya lagi sarana untuk mewadahi ubo rampe makanan digunakan daun pisang. Jadilah sangat umum jika para jamaah pulang dari masjid dengan membawa berkatan berupa makanan yang dibungkus dnegan daun pisang.

Bagaimana dengan tradisi selikuran di tempat Anda?

BSD, 7 Juni 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s