Ramadhan dan Tradisi Petasan


Ramadhan memang bulan istimewa. Keistimewaan Ramadhan menumbuhkan banyak tradisi di kalangan kaum muslimin. Ibarat pepatah desa mawa acara lan negara mawa tata, setiap daerah memiliki tradisi Ramadhan yang beragam sebagai buah karya kearifan lokal masing-masing. Namun diantara tradisi-tradisi tersebut, ada satu kebiasaan Ramadhan yang sebagian masyarakat menyukainya namun sebagian yang lainnya kurang berkenan dengannya. Kebiasaan yang satu ini mungkin justru memiliki keseragaman di berbagai daerah. Kebiasaan yang saya maksudkan adalah “petasan”.

Petasan atau mercon oleh sebagian besar masyarakat di selingkaran Gunung Merapi dikenal juga dengan sebutan long. Ramadhan tanpa petasan adalah sebuah kesunyian tersendiri. Petasan biasanya memang hadir hanya di hari-hari Ramadhan yang dipuncaki saat Idul Fitri tiba. Pagi remang selepas kuliah subuh dikala para remaja berjalan-jalan santai di jalanan desa, di situ akan banyak terdengar ledakan petasan. Di kala senja sambil menunggu bedug maghrib, petasan juga menjadi rerungon yang senantiasa ngangeni.

Anak-anak lelaki, remaja lelaki dan para pemuda merupakan kalangan yang paling menggandrungi petasan. Ada semacam pameo belum dikatakan anak lelaki jika belum berani menyulut sumbu petasan. Dengan demikian petasan menjadi ajang pembuktian diri berkenaan dengan keberanian, bahkan harga diri seorang anak laki-laki.

Dikarenakan kalangan anak-anak, remaja, hingga para pemuda yang biasa membunyikan petasan, maka jenis petasan yang ada juga beragam seolah menyesuaikan segmen umur dari para penggunanya masing-masing. Ada yang namanya long ipret yang mengeluarkan bunyi sekedar “pret-pret-pret-tepret-tepret” untuk bocah kanak-kanak. Ada long banting yang akan mengeluarkan bunyi kala dibanting atau dibenturkan ke lantai, batu, rembok, atau bende keras lainnya. Ada lagi long sesdor, jenis petasan yang dilengkapi peluncur semacam roket yang dapat menerbangkan petasan ke angkasa dan biasanya baru akan meletus di ketiggian udara. Ada pula long bumbung. Untuk yang terakhir ini merupakan kreativitas anak-anak jaman dulu menirukan bebunyian yang keluar dari meriam-meriam Belanda.

Petasan, mercon, atau long merupakan salah satu bentuk kreativitas para bocah dan remaja. Kertas-kertas tak terpakai digulung rapi dan rapat dalam diameter dua centimeter hingga ukuran diameter gelas, bahkan ada yang sebesar ember. Tepat di pusat ruang tabung yang terbentuk ditanamkanah “obat” sebagai sumber tenaga untuk membangkitkan ledakan. Obat tersebut ditanam rapat di dalam ruang yang diselimuti dengan lembar demi lembar kertas dengan tingkat kerapatan yang luar biasa. Satu-satunya penghubung dari ruang obat tersebut ke dunia luar hanyalah seutas tali sumbu yang nantinya berfungsi untuk merambatkan api dari luar yang disulut.

Yang disebut sebagai “obat” petasan di atas sebenarnya merupakan suatu jenis zat kimia. Ada campuran belerang dan zat lain yang jika dipicu api akan membangkitkan reaksi kimia eksotermis dimana pada reaksi yang terjadi disertai pelepasan panas ke luar sistem. Berkenaan dengan panas yang terjadi maka seketika di ruang “obat” yang terbakar timbul tekanan yang sangat tinggi tatkala ada sulutan api. Tekanan tinggi dalam ruang yang kedap nan rapat inilah yang muncul sebagai ledakan dan bunyi yang sungguh keras. Ketika Ramadhan menjelang tiba, bermunculanlah para penjual “obat” petasan di berbagai penjuru desa.

Sebagai sebuah permainan kreativitas, di masa lalu tentu anak-anak membuat petasannya sendiri. Unsur yang dibeli karena tidak sembarangan orang dapat membuatnya ya hanyalah “obat” petasan tadi. Selebihnya anak-anak membuat petasan di rumah masing-masing.

Petasan sejatinya tergolong sebagai “permainan” yang berbahaya. Petasan dapat diistilahkan sebagai bom mini, bom skala kecil. Semakin banyak “obat” yang disulut maka daya tekanan atau ledakan dan juga suaranya akan semakin dahsyat. Ledakan yang terjadi dapat saja merontokkan kaca ataupun genteng rumah. Bahkan tidak sedikit bunyi ledakan petasan yang merontokkan jantung manusia.

Banyak kejadian anak-anak yang terkena ledakan petasan. Ada kisah anak yang jarinya terluka, bahkan kehilangan beberapa jari. Ada pula kisah ledakan petasan yang menyebabkan pemainnya harus kehilangan tangan karena diamputasi. Tidak sedikit pula bangunan satu rumah yang ludes terbakar si jago merah gara-gara menyimpan petasan dan meledak di dalam rumah. Bahkan ada septi tank di sebuah kantor kepolisian yang digunakan untuk menyimpan sitaan petasan juga turut meledak. Intinya telah banyak korban berjatuhan sepanjang tradisi petasan di tanah air kita.

Petasan bagaimanapun telah menjadi satu kesatuan dengan tradisi kita. Menimbangkan bahayanya maka sangatlah tepat jika pemerintah melalui kepolisian yang aparatur yang lain membatasi, mengawasi, bahkan melarang peredaran petasan di tengah masyarakat. Bermain-main boleh, namun alangkah bijaksana jika permaian yang dipilih dan dimainkan adalah permaian yang aman bagi keselamatan semua pihak. Kalaulah sekedar long ipret, long banting, long bumbung, ataupun kembang api mugkin masih aman-aman saja. Namun untuk petasan yang lebih besar daya ledaknya, setidaknya berhati-hatilah ketika memainkannya dan senantiasa hormati hak orang lain atas ketenagan lingkungan. Semua tentu demi kebaikan dan kemashlahatan bersama. Monggo.

Ngisor Blimbing, 3 Juni 2018

Gambar-gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s