Keluarga Mutiara Tiada Tara


Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga.

Mungkin penggalan baris bait syair yang pernah ditembangkan dengan sangat apik oleh Mbak Via Kolopaking dan merupakan soundtrack sinetron Keluarga Cemara karya Arswendo A, begitu menyentuh dan sangat mewakili siapapun yang mendapatkan anugerah keluarga yang bahagia. Bahagia tidak harus kaya dan serba ada. Bahagia tidak harus serba mewah dan serba wah. Bahagia hanyalah soal bagiamana hati berpadu, hati bersatu, hati yang saling berkasih saying. Hati yang mampu dan sanggup untuk saling asah, saling asih, dan asuh diantara sesame anggota keluarga.

Foto di atas bias jadi gambaran kebagahiaan keluarga besar kami di waktu itu. Waktu dimana kami sebagai anak-anak dari kedua orang tua kami maupun sebagai para cucu dari para simbah-simbah kami masih kecil. Masih seumur jagung. Masih unyu-unyu. Masih belum terkontaminasi oleh urusan hidup yang semakin riwet dan mbulet. Masih lepas, bebas. Masih belum memiliki masalah-masalah sehingga yang ada hanyalah keceriaan dan kebahagiaan.

Mungkin kala itu tahun 1985. Seingat saya, saya masih duduk di bangku kelas satu SD. Bagi kami keluarga besar yang tinggal di dusun, piknik atau tamasya merupakan sebuah kejadian yang teramat langka dilakukan. Hampir sepanjang waktu orang tua kami disibukkan dengan kegiatan mencari penghidupan dan mengasuh kami sebagai anak-anaknya. Walhasil yang namanya piknik belum tentu bias dilakukan 3-5 tahun sekali. Itupun sekedar piknik di tempat wisata yang masih sedaerah dengan tempat tinggal kami.

Borobudur. Borobudur sedari jaman dahulu sudah dikenal orang se-Nusantara. Tidak hanya sampai di situ, bahkan orang-orang mancanegara ramai-ramai berbondong-bondong mengunjungi candi budha terbesar yang kita miliki tersebut. Terlebih di waktu itu semua orang mengetahui bahwasanya Borobudur merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang sangat kita banggakan.

Borobudur di masa sebagaimana foto di atas tentu belum semegah Borobudur di masa kini. Alih-alih taman yang rapi, sejuk, nan asri, Borobudur masih dikelilingi semak belukar yang didominasi tumbuhan rumput alang-alang. Sebagai batas antara area dalam dan luar candi, terbentang kawat berduri yang demikian mudah dislusupi kambing gembalaan maupun pengunjung yang sengaja ingin masuk area candi tanpa mau membayar tiket.

Keluarga saya dan keluarga pakde di acara piknik itu merupakan dua keluarga inti yang menginisiasi adanya piknik. Kerabat terdekat seperti simbah atau kakek-nenek kami tentu turut bergabung. Adapula adik dari simbah dan para paklik serta bulik kami. Kemudian turut serta pula beberapa tetangga dekat dan para anak-cucu yang sebaya dengan kami.

Dengan menyewa sebuah colt, kendaraan yang biasa digunakan mengangkut hasil bumi ke pasar dan berpintu di sisi belakang, menjadi pengantar kepergian piknik kami. Jarak antara dusun tempat tinggal kami dengan Borobudur mungkin tidak lebih dari 20 km, namun di kala itu jarak yang terbentang terasa sedemikian jauh. Karena terasa berpiknik ke tempat yang jauh, sudah pasti segala bekal menjadi bawaan wajib kami. Mulai tikar untuk alas kaki. Termos berisi air putih mendidih maupun teh sebagai bekal minum kami. Termos nasi dengan sayur dan lauk-mauk untuk bekal makan siang bersama. Benar-benar sebuah piknik yang teristimewa.

Piknik Borobudur merupakan momentum dan kenangan paling istimewa yang paling indah bagi keluarga besar kami. Justru karena kami masih bocah di kala itulah yang menjadikan peristiwa tersebut menjadi kenangan abadi yang tidak akan pernah dapat diulang maupun dilupakan. Kini, seiring perjalanan waktu yang panjang kamipun masih terngiang untuk senantiasa mengenangkan piknik tersebut. Bagaimana dengan Sampeyan? Apakah juga memiliki momentum piknik istimewa Bersama keluarga sebagaimana kami?

Tepi Merapi, 31 Mei 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Raya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s