Pengemudi Taksi dan Cobaan Ramadhan


Ramadhan tidak saja menjadi bulan latihan. Ramadhan sekaligus menjadi bulan ujian dan cobaan. Di saat seorang pengemudi taksi yang akan mengantar Anda mencoba mencari-cari alasan untuk mengulur jalur agar tarikan argo bertambah besar, apa yang akan Anda lakukan. Padahal di saat itu adalah malam Jumat keramat di awal bulan Ramadhan. Bulan suci dimana setan dan iblis dibelenggu untuk tidak menggoda manusia. Adakah celah-celah hikmah dari kejadian yang mengarah kepada aksi ketidakjujuran tersebut?

Malam itu kira-kira baru lepas adzan Isya’. Ketika menuju pulang dari bandara, demi mengharap perjalanan yang lebih cepat dan lebih singkat sayapun memesan sebuah taksi yang kebetulan mangkal. Seketika masuk ke dalam taksi, si pengemudi langsung menanyakan kemana tujuan perjalanan saya. Tentu saja hal semacam ini adalah sebuah kewajaran, bahkan standar layanan setiap taksi. Sayapun kemudian memberikan keterangan mengenai arah tujuan perjalanan kepada si pengemudi tersebut.

Adalah menjadi hak bagi penumpang untuk menentukan jalur perjalanan yang akan ditempuh. Sudah tentu seorang penumpang akan lebih memilih untuk menempuh jalur perjalanan yang terpendek. Di samping lebih cepat, tentu penumpang juga mengharap jalur yang pendek dan cepat akan lebih menghemat ongkos taksi yang nantinya harus ia bayarkan. Sayapun pada kesempatan tersebut menyampaikan keinginan untuk melalui jalur perjalanan yang lebih pendek.

Alih-alih langsung mengiyakan permintaan saya, si pengemudi taksi malah memberikan keterangan bahwasanya jalur yang saya maksudkan rusak. Ia lebih menyarankan saya untuk melingkar melewati jalan tol yang menurutnya akan lebih lancar dan cepat. Saya tetap pada pendirian semula, “ Rusak bagaimana? Dimana yang rusak? Sudah lewat jalur itu saja nggak papa!”

Si pengemudi nampak mendongkol. Sesaat menjelang jalan simpang yang membelah jalur ke arah jalur terpendek yang saya pilih dan jalur arah jalan tol, si pengemudi kembali bertanya dengan nada yang sedikit meninggi, “ Alamat tujuan tepatnya kemana? Apakah tidak bisa dicapai melalui jaur jalan tol?”

“ Sudah! Lewat jalur pintas sebagaimana permintaan saya saja,” saya kembali menegaskan.

Akhirnya dengan raut muka yang memancarkan rasa berat hati, si pengemudi membelokkan taksinya menuju jalur lingkar bandara yang saya maksudkan. Dengan sedikit ragu ia memberanikan diri untuk sedikit bercerita. “ Kalau lewat jalur ini argonya sedikit Pak! Nanti saya dapat ongkosnya juga kecil. Sedari tadi mangkal lama belum dapat sewa. Kalau lewat tol kan lumayan argonya bisa gede,” ungkapnya.

“Oooo………,” saya sedikit menahan mangkel. Rasanya di saat itu saya ingin langsung mengeluarkan segala rasa marah yang ada. Lha wong jelas-jelas si pengemudi berniat untuk berulah. Tidak jujur dalam melayani pelanggan. Hanya demi argo gede, ia ingin membawa penumpangnya berputar-putar melalui jalur yang lebih jauh. Dalam puncak kemarahan saya hanya bisa terdiam.

Dalam diam, suasana menjadi sedikit mencekam. Dalam perjalanan menggunakan taksii sebagaimana yang sudah-sudah, saya biasanya bercakap dan berbincang dengan pengemudi mengenai berbagai hal. Mungkin hanya demi mengisi waktu dengan obrolan, ataupun demi mencairkan suasana agar perjalanan tidak terasa membosankan. Tetapi malam itu demi mendapatkan pengemudi taksi tak jujur itu saya terbawa kepada suasana males untuk berbincang. Kamipun akhirnya diam dalam masing-masing angan dan pikiran.

Bersama diam, saya mencoba menyelami keadaan. Saat itu adalah bulan Ramadhan. Tidak hanya satu momentum di bulan suci, saat itu kebetulan juga malam Jumat. Hari agung yang teristimewa di setiap minggunya. Kalau menuruti emosi dan amarah, saya rasanya ingin mengumpat ataupun memarahi pengemudi taksi yang berniat tidak jujur tersebut. Kata menipu mungkin terlalu kejam untuk diberikan kepadanya.

Dalam diam, saya mencoba merenung. Kalaulah saya marah, apakah pengemudi yang telah berniat tida jujur tersebut akan menyedari kekeliruannya. Apakah ia akan insyaf dan kelak tidak akan mengulangi perbuatan tersebut, termasuk kepada penumpang-penumpang dan pelanggan-pelanggan taksinya yang lain? Saya justru mendapati diri saya tengah tenggelam dalam sebuah dilema. Ingin melampiaskan amarah, namun ada rasa kasihan juga. Ingin mendiamkan saja, tetapi dimana rasa tanggung jawab kepada sesama untuk saling mengingatkan perihal kebajikan.

Suasana menjadi demikian kaku. Saya diam. Pengemudi taksi tersbeut juga diam. Kami sama-sama diam. Entah apa yang kami pikirkan masing-masing. Mungkin ada rasa penyesalan di hati pengemudi taksi tersebut. Namun sejauh yang saya amati dan rasakan, ia mengemudikan taksinya penuh hati-hati. Cara mengemudikan kendaraannya nampak cermat. Ia ngegas dan ngerem dengan cara yang halus nan rapi. Di beberapa persimpangan, ia fokus memilih jalur terpendek yang tidak membawa taksi berputar dan melingkar.

Menjelang penghujung perjalanan, seolah-olah para malaikat membisikkan nasehat-nasehat kebajikan. Jangan turuti amarah dan dendam. Jangan niat jahat dibalas dengan kejahatan pula. Hari ini hari rahmah. Hari kasih sayang pada sepertiga awal bulan Ramadhan. Maafkanlah! Maafkanlah!

Akhirnya saya justru mendapatkan wisik untuk memberikan rasa iba dan kasihan kepada pengemudi taksi yang berniat tidak jujur tersebut. Saya memantapkan niat justru untuk memberinya sodakoh jariyah. Katakanlah uang lebih atau uang tips yang biasanya diberikan oleh para penumpang akan saya berikan kepada pengemudi yang berniat tidak jujur tersebut sebagai sodakoh jariyah di bulan Ramadhan. Di saat nanti akan turun, sambil memberikan uang lebih tersebut saya berniat untuk sedikit memberikan nasehat kepadanya agar di lain waktu tidak perlu berniat tidak jujur.

Di saat saya sampai di tempat tujuan dan menjelang turun dari taksi, sayapun menyerahkan sejumlah uang kepada pengemudi taksi yang saya tumpangi. Uang sejumlah tariff resmi sebagaimana tercantum di argo daya tambahi dengan separo dari jumlah tersebut. Alih-alih berkata panjang lebar untuk menasehati pengemudi tersebut, saya hanya menyodorkan uang tersebut ke tangan kanannya. Sejurus kemudian saya menepuk bahu pengemudi tersebut. Saya mencoba tersenyum dan iapun membalas dengan senyum yang lebih lebar sambil menganggukkan kepala.

Seolah tak ingin berpanjang lebar kata, saya berharap kami sama-sama dalam satu pengertian. Jika sebuah niat ketidakjujuran tidak jadi dilakukan, alangkah indahnya jika kita saling memaafkan. Yang berniat tidak jujur sadar akan kekhilafannya. Yang sempat akan menjadi korban ketidakjujuran juga tidak semena-mena menyalahkan dan merasa paling benar. Semoga hikmah kebaikan dan energi positif mengalir ke dalam jiwa sanubari masing-masing dari kami.

Sedikit uang lebih yang kita berikan kepada orang yang berniat tidak baik kepada kita, bisa jadi menjadi sebuah pintu hikmah dan petunjuk kepada yang bersangkutan untuk memperbaiki diri. Semoga dengan kita tidak memarahinya dan justru “membaikinya” akan membangun keyakinan di salam nuraninya bahwasanya seandainya ia bersabar akan sebuah persoalan, mau senantiasa jujur dalam kesempitan rejeki yang tengah dihadapinya, Tuhan pasti akan mengirimkan orang-orang baik untuk menolongnya, untuk menitipkan rejekinya melalui pintu-pintu yang tidak pernah dapat diduganya.

Mungkin inilah salah satu hikmah di balik kesucian bulan Ramadhan. Wallahualam bi showab.

Ngisor Blimbing, 29 Mei 2018

Sumber gambar dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s