Ngaji Kepada Merapi di Bulan Suci


Aji, ngaji, dan pengajian. Tiga kata yang satu sama lain saling berkait itu boleh jadi harusnya sangat diamalkan oleh ummat muslim. Terlebih di bulan suci Ramadhan seperti saat ini. Aji berarti luhur, mulia, bernilai, atau berharga. Aji juga bermakna raja, penguasa wakil Tuhan yang kita akui ketinggian derajatnya.

Adapun ngaji dari nga-aji. Ungkapan yang menyatakan proses menuju aji. Proses penempaan diri untuk meraih keluhuran dan kemuliaan, khususnya berkaitan dengan akal dan budi, dan selanjutnya akhlak manusia. Maka orang yang sedang belajar ataupun mendalami disebut juga sedang mengaji. Orang yang membaca atau nderes Qurán juga dikatakan ngaji. Demikian halnya orang yang terlibat dalam suatu majlis yang mempelajari, mendalami, mengajarkan, menguraikan, ayat-ayat Allah SWT juga sedang ngaji. Prose ngaji itupun selanjutnya melahirkan istilah pengajian.

Hakekat pengajian adalah menelaah ayat-ayat Allah. Ayat Allah yang ternukil di dalam kitab suci-Nya disebut sebagai kalam. Al Qur’an merupakan kalamullah, yaitu ayat-ayat Allah yang terfirmankan dalam bentuk tulisan di kitab suci. Lainnya lagi ada pula ayat-ayat Allah yang tercipta. Ayat inilah yang disebut sebagai alam. Jadi ngaji dan pengajian yang berkaitan erat dengan ayat Allah tentu bahan sumbernya berupa kalam dan alam Allah.

Berkenaan dengan Ramadhan kali ini, sebagai bagian dari masyarakat Tepi Merapi kami tahun ini selain ngaji dan pengajian seperti biasanya juga ditugaskan secara khusus untuk juga ngaji kepada Gunung Merapi. Gunung Merapi, sebagai gunung berapi paling aktif di dunia dalam beberapa hari belakang ini justru bangun beraktivitas. Kalau diamnya Merapi dianggap sebagai kondisi puasa, maka Ramadhan kali ini Merapi justru tengah berbuka puasa.

Meskipun eskalasi peningatan aktivitas Gunung Merapi lebih disebabkan oleh letusan-letusan freatik (runtuhnya material lahar di puncak ke dalam kawah) tidaklah sebesar ataupun segawat kondisi erupsi 2010, namun hal tersebut tetap harus dimaknai sebagai peringatan ataupun teguran dari Allah SWT. Alam adalah representasi dari Tuhan. Maka jika alam sudah memperlihatkan tanda-tanda akumulasi aktivitasnya, segeralah tanggap akan peringatan tersebut.

Merapi dengan tebaran abunya. Merapi dengan muntahan laharnya, Merapi dengan batu dan pasirnya, semuanya adalah anugerah terindah dari-Nya. Jika alam yang tenang dan damai telah bangun, ambillah pelajaran, ngajilah kepadanya bahwasanya Tuhan tengah mengingatkan perbuatan manusia yang semakin lalai akan tuntunan dan ajaran-Nya. Ngaji kepada Merapi dapat kita maknai untuk lebih legowo dengan mendengar secara lebih jernih pesan-pesan kebajikan sebagaimana banyak diceramahkan di bulan Ramadhan yang suci ini.

Ngaji kepada Merapi di bulan suci. Kembalilah kepada Allah. Bertaqwalah! Laksanakan dengan baik segala titah dan perintahnya. Jauhilah segala larangan-Nya. Sempurnakanlah tingkah laku dan akhlak kita. Menuju pencapaian manusia utama. Sosok-sosok insan kamil yang teguh dalam amanah sebagai kalifatullah fil ardzi. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiún.

Tepi Merapi, 24 Mei 2018 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s