Gugur Gunung Gotong Royong


Gugur gunung. Apa yang terbayang atau terpikirkan ketika kita mendengar kata gugur gunung? Gugur gunung, sebuah ungkapan peninggalan para leluhur yang kini semakin jarang disebut orang. Gugur gunung, semakin terpinggirkan. Ke desa-desa, ke hutan-hutan di pedalaman, dan akhirnya ke puncak-puncak gunung yang sepi dan sunyi. Tidak sekedar terpinggirkan, bahkan spirit gugur gunung juga semakin terlupakan, Terseok-seok di sudut roda jaman. Semakin dilupakan, tentu semakin sedikit pula manusia yang bersedia untuk berendah hati guna memahami, meresapi, terlebih mengamalkan semangat gugur gunung.

Pencapaian pengembangan bahasa dan sastra bagi masyarakat Jawa menurut kami memang sungguh luar biasa. Betapa kaya rayanya Bahasa Jawa dengan kosa kata. Belum lagi mengenai ungkapan ataupun perumpamaan-perumpamaan yang sungguh kaya makna akan nilai-nilai kearifan lokal yang sungguh luhur. Sebut saja salah satu kata tersebut adalah gugur gunung. Gugur gunung?

Gunung secara fisik adalah sesuatu yang sungguh besar, sungguh tinggi, sungguh kuat. Gunung menggambarkan kekuatan, keperkasaan, kebesaran, keagungan. Tidak berlebihan jika dalam alam pikiran keyakinan dan kepercayaan nenek moyang gunung menempati kedudukan yang sangat penting. Sebagian dari kepercayaan tersebut bahkan menganggap gunung sebagai tempat persemayaman roh-roh luhur nenek moyang. Sebuah jagad parahyangan dimana segala macam kekuatan supranatural bersemayam.

Jika demikian halnya bahwa gunung adalah simbol kekuatan tiada tara, lalu makna nilai seperti apakah yang terkandung di dalam kata gugur gunung? Gugur berarti runtuh.  Bisa juga diartikan jugrug, alias longsor. Gugur gunung merupakan sebuah artikulasi dari niat, itikad, tekad, semangat, spirit, elan, kekuatan, keinginan, cita-cita untuk meruntuhkan gunung. Mengancurkan gunung, menggugurkan gunung, meratakan gunung. Bagaimana bisa?

Namanya juga sekedar ungkapan sebuah ungkapan lebih merepresentasikan makna simbolis alias makna kiasan atau konotatif. Tentu ungkapan gugur gunung tidak dimaknai sebagai meruntuhkan, menghancurkan, bahkan meratakan gunung dalam artian fisik. Gugur gunung sebagai spirit kekuatan merupakan suatu gabungan kekuatan ketika setiap rakyat, setiap warga masyarakat, setiap manusia mau bersatu padu dan kompak untuk menggapai sebuah tujuan bersama.

Satu orang bergabung dengan satu orang lain akan bersatu kekuatan dua orang. Semakin banyak kekuatan yang disatukan dan dipadukan, maka akan menjelma menjadi kekuatan super dahsyat yang luar biasa. Jangankan merobohkan gedung, menghancurkan bukit, menggugurkan gunung hingga ratapun akan dapat dilakukan. Ibarat ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul, itulah kekuatan yang tumbuh dari sebuah kebersamaan dan persatuan. Gugur gunung semakna dengan kata gotong royong.

Gugur gunung alias gotong royong merupakan jati diri paling murni dari manusia Jawa, maupun manusia Nusantara pada umumnya. Kepentingan bersama, cita-cita bersama, kehidupan bersama, bahkan kebersamaan itu sendiri merupakan sendi kehidupan yang harus senantiasa dijunjung tinggi melebihi kepentingan diri pribadi, kelompok, maupun golongan apapun. Gugur gunung ini pulalah yang oleh masyarakat desa biasa disebut juga sebagai kerja bakti.

Kerja bakti merupakan kerja untuk berbakti. Berbakti kepada kepentingan desa, kepada kepentingan negara, kepada kepentingan agama, bahkan kepada kepentingan  kemanusiaan yang lebih luas lagi. Desa, negara, agama, dan kemanusiaan adalah perwujudan atau manifestasi dari keberadan Tuhan. Kerja bakti adalah kerja sosial. Kerja tanpa imbalan bayaran apapun. Kerja suka rela tanpa upah karena dalam kerangka pengabdian kepada Tuhan, kerja bakti adalah ibadah. Kerja bakti adalah bukti nyata dari kekuatan rame ing gawe lan sepi ing pamrih. Sebuah kesadaran dan keikhlasan tingkat tinggi manusia-manusia sederhana namun berjiwa sufi.

Gugur gunung. Gotong royong. Inilah spirit kebersamaan, spirit persatuan, spirit golong gilig. Bersatu padunya cita-cita dan keinginan. Manunggaling cipta, rasa, dan karsa manusia orang per orang. Manunggaling kawula lan gusti.

Negeri ini adalah negeri yang dibangun dari spirit dan semangat pengorbanan para pahlawan pendahulu kita. Modal sosial dan spirit bagi kemerdakaan kita adalah jiwa kebersamaan, persatuan, golonggiling, bersatu padu untuk gugur gunung. Maka di tengah kondisi negeri yang kian terpuruk ini, bisa jadi hal ini terjadi karena kita semakin lupa dengan identitas dan jati diri gugur gunung tersebut. Monggo kita renungkan kembali untuk kebangkitan negeri yang sama-sama kita cintai ini.

Selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-110, 20 Mei 2018. Salam sebangsa setanah air. Merdeka!

Tepi Merapi, 21 Mei 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s