Masjid Saka Tunggal Taman Sari Yogyakarta


Matahari memang menjelang lingsir sore. Pengunjung Taman Sari yang selesai berkeliling komplek yang dulunya merupakan tempat pemandian kerabat Keraton sore itu, sebagian besar sudah beranjak keluar. Para petugas pengelola taman wisata yang selalu ramai itupun nampak sibuk untuk berkemas. Hari memang menjelang sore. Sudah menjadi standar layanan wisata Taman Sari hanya buka sampai pukul 15.00. Nuansa bertambah sibuk dengan adanya kumandang adzan Ashar yang menggema.

Kumandang adzan itu rupanya berasal dari sebuah bangunan masjid yang berada tepat di samping pintu utama akses masuk ke area Taman Sari. Beberapa pengunjung maupun masyarakat setempat nampak bergegas menuju masjid untuk memenuhi panggilan sholat. Kamipun kemudian bergabung dengan barisan orang-orang tersebut.

Setelah sebelumya mengambil air wudhu untuk bersuci, kamipun bergegas masuk ke ruang utama masjid. Begitu kaki menginjakkan lantai di ruang utama, langsung terpampang sebuah wujud penampakan yang sungguh unik dan istimewa. Memangnya ada jin? Tentu saja bukan! Masakan di siang jelang sore yang masih terang benderang ada jin gentayangan. Kalaupun iya, mungkin ya jin baik yang mau turut sholat jamaah. Lalu apa yang unik dan istimewa tersebut?

Saka guru! Saka guru merupakan tiang penopang utama bangunan berbentuk tajuk maupun rumah joglo. Saka guru di masjid tersebut memang unik dan istimewa. Unik dan istimewanya saka guru di masjid itu rupanya berkaitan langsung dengan nama masjid yang digagas dan dibangun oleh Sultan HB IX tersebut. Masjid Saka Tunggal Taman Sari Keraton Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat.

Dinamakan Masjid Saka Tunggal memang karena jumlah saka guru pada masjid tersebut hanya ada satu, alias tunggal. Inilah yang membedakan Masjid Saka Tunggal dengan jenis masjid berbentuk tajuk atau joglo yang tersebar luas di Tanah Jawa. Saka guru pada kebanyakan bangunan Jawa, termasuk pada masjid-masjid, biasanya berjumlah empat. Bahkan saka guru di Masjid Agung Demak sebagai masjid raya pertama di Tanah Jawa juga berjummlah empat dan dibuat oleh empat wali utama, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunang Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati.

Keberadaan saka tunggal memberikan penampilan tiang utama yang sungguh unik dan menakjubkan. Kayu pilihan yang kokoh dan kuat itu nampak lurus dengan ukir-ukiran hiasan yang semakin memperindahnya. Di ujung atas terdapat empat buah batang pendukung yang menyebar ke empat penjuru dan menopang gabungan kayu yang membentuk sebuah persegi. Kemudian di ujungnya tepian setiap sisi bentuk persegi tersebut nampak berderet-deret garis-garis konsentris yang memusat ada satu titik tujuan. Garis-garis memusat pada satu titik tersebut merupakan usuk yang menjadi bagian dari atap masjid.

Tentu sang penggagas maupun arsitek Masjid Saka Tunggal tidak membuat asal-asalan kenapa saka gurunya hanya satu. Tentu juga bukan karena tidak ada kayu ulet yang sesuai. Pun pasti juga bukan karena panitia pembangunan masjid kekurangan dana sehingga harus menghemat saka guru, dari yang seumumnya empat hanya dibeli satu buah saja.

Saka tunggal, saka satu, dapat dimaknai bahwa penyangga keberlangsungan seluruh jagad raya alam semesta ini adalah Yang Maha Satu. Yang Maha Esa. Yang Maha Tunggal, Dialah Allah SWT. Dia yang satu, Dia yang esa, dan dia yang tunggal itu pulalah yang menjadi satu-satunya asal-usul dan tujuan hidup, menjadi sangkan paraning dumadi bagi seluruh ummat manusia. Dialah Allah yang menjadi ujung dna pangkal siklus hidup manusia. Menjadi titik awal sekaligus titik akhir mata rantai innalillah wa inna ilaihi rojiún.

Di samping keistimewaan berkenaan dengan makna simbolis dan pesan yang sangat, saka guru tunggal di dalam Masjid Saka Tunggal Taman Sari tersebut berdiri tegak pada sebuah batu landasan yang disebut oleh masyarakat Jawa sebagai umpak. Uniknya bahwa umpak tersebut merupakan peninggalan dari Sultan Agung Hanyokrokusumo yang merupakan sisa-sia petilasan Keraton di Kerta. Sebagaimana diketahui, Keraton Kerta merupakan istana ke dua yang dibangun Dinasti Mataram Islam yang merupakan perpindahan dari Keraton Kotagede.

Sebagaimana masjid-masjid tua peninggalan kaum kerabat utama pemeluk agama Islam yang pertama, Masjid Saka Tunggal Taman Sari juga memancarkan aura keanggunan yang menentramkan setiap muslim yang turut sholat berjamaah di dalamnya. Bahkan dari hawa udara yang bias langsung kita rasakanpun, kesejukan akan langsung terasa mendinginkan tubuh yang baru saja kepanasan ataupun berkeringat setelah berpanas ria di luar area masjid.

Begitu memasuki Ramadhan hari ke dua ini yang juga bertepatan dengan hari Jumát, entah mengapa hati dan pikiran ini terbawa kepada Masjid Saka Tunggal. Rasanya ingin sekali kembali ke dalamnya untuk menyelami kesejukan, kedamaian, dan tentunya ketentraman suasana masjid sebagaimana kesegaran bening air kolam Taman Sari di masa-maa yang lalu.

Tepi Merapi, 18 Mei 2018

Gambar utama saka tunggal bersumber dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s