Pesan Nilai di Balik Drama Tari Barong


Masyarakat Nusantaran dalam pencapaian peradaban dan budaya senantiasa mengutamakan keluhuran budi pekerti. Budi pekerti, atau nilai-nilai kebaikan dan kebijakan secara umum, dengan demikian senantiasa ditanamkan, ditumbuhkembangkan, dipelihara, disebarluaskan, hingga diharapkan menjadi pengamalan perilaku dalam kehidupan sehar i-hari. Langkah untuk menanam, menumbuhkembangkan, memelihara, menyebarluaskan budi bekerti luhur, kebaikan, dan kebajikan tersebut dilakukan melalui berbagai cara dan simbolisasi. Salah satu simbolisasinya melalui seni tari.

Jika negeri tirai bambu memiliki seni tari barongsai, masyarakat di Jawa memiliki barongan, maka masyarakat di Pulau Bali memiliki tari Barong. Ketiga sosok barongsai, barongan,dan barong dapat dikatakan memiliki banyak keserupaan, bahkan kesamaan. Barongsai, barongan, maupun barong diperagakan oleh dua orang yang masing-masing memerankan kepala dan bagian ekor. Lalui seperti apakah  Barong dari Pulau Dewata menjadi cara dan sarana untuk menebarkan nilai-nilai kebajikan dan kebaikan?

Tari Barong tidaklah sekedar gerak lincah penari yang diiringi dengan kemerincingnya bunyi gamelan perkusi yang dinamik. Gerak tari Barong menampilkan sebuah kisah drama yang sebenarnya sangat mengharu biru. Dikisahkan pada saat terdapat dua hewan bersahabat di tengah hutan. Binatang tersebut adalah seekor monyet dan Barong. Mereka tengah bercanda ria, bersenda gurau sambil mencari kutu dan saling menyuapi buah pisang.

Tak lama berselang datang di hutan tersebut tiga orang laki-laki pembuat tuak. Mereka bertopeng dengan raut muka yang sangat menyeramkan. Mereka marah karena anak salah satu dari mereka baru saja di mangsa oleh harimau. Melihat sosok Barong yang mirip harimau, mereka langsung menyerang dan ingin membinasakan Barong. Terjadi perkelahian antara Barong yang dibantu si monyet dengan tiga lelaki tersebut. Si monyet berhasil melukai hidung salah seorang diantara penyerang tersebut, hingga akhirnya mereka kabur melarikan diri.

Babak selanjutnya memunculka dua sosok pengikut Rangda, sang setan roh jahat. Mereka sedang mencari pengikut Dewi Kunti yang ingin mencari sang Patih dan akan menghadap Dewi Kunti. Kedua pengikut Rangda merasuki para pengikut Dewi Kunti. Bahkan ketika bertemu dengan Patih, patih itupun dapat dipengaruhi oleh pengikut Rangda tadi. Akhirnya mereka menghadap Dewi Kunti.

Dewi Kunti sebelumnya memang terikat janji untuk mengorbankan putranya kepada Rangda. Betapa hati seorang ibu tidak tega menyerahkan anaknya, namun kekuatan Rangda yang menyusup kepada para pengikut dan patihnya telah menutup nuraninya. Dengan amarah yang tiba-tiba membara, Dewi Kunti menginginkan agar yang dijadikan banten dalam upacara persembahan yang akan dilakukan adalah putranya sendiri, Raden Sahadewa atau Raden Sadewa. Ia adalah putera terakhir dari lima Pandawa bersaudara yang saat itu bersamanya.

Raden Sadewa kemudian dibuang ke tengah hutan belantara. Tubuhnya diikat pada sebuah pokok pohon yang besar. Dalam keadaan tubuh terikat nantinya Rangda akan datang untuk membunuh Sadewa, mengambil darah untuk menambah kesaktiannya. Namun sebelum Ranga sempat melakuan niat jahatnya, Sadewa didatangi oleh Dewa Siwa. Tanpa sepengetahuan Rangda dan para pengikutnya, Dewa Siwa memberikan kesaktian kepada Sadewa. Bahkan atas anugerah dari Dewa Siwa, Sadewa di samping sakti madraguna juga kekal dalam keabadian. Ia tidak akan bisa dibunuh oleh siapapun.

Akhirnya Rangda datang ke tempat Sadewa diikat. Dengan sesumbar dan sikap congkak ia menghampiri Sadewa. Dengan penuh ketidaksabaran ia segera menyerang Sadewa. Namun di luar perkiraannya, Sadewa tiba-tiba menjelma menjadi sosok yang sakti mandraguna dan tak bisa dikalahkan. Maka terjadilah pertarungan yang sangat dahsyat anatara Barong dan Rangda. Dua-duanya sama-sama saktinya. Dua-duanya memiliki ilmu kekebalan dan dapat hidup kekal abadi.

Akhirnya Rangda menyerah takhluk kepada Sadewa. Ia ingin bertobat dan diberi jalan untuk dapat masuk surga. Atas pertolongan Sadewa akhirnya Rangda dapat moksa dan ruhnya terbang masuk ke dalam surga.

Adalah Kalika, salah seorang pengikut Rangda, juga ingin masuk surga sebagaimana Rangda. Ia juga ingin meminta bantuan kepada Sadewa untuk membantunya. Namun demikian Sadewa menolak. Ia menjadi marah luar biasa dan menjelma menjadi seekor babi hutan. Sadewa menjelma menjadi burung garuda dan melawan babi tersebut. Pertempuran terjadi sangat sengit. Akhirnya Kalika mengerahkan kekuatan terdahsyatnya sehingga ia berubah wujud menjadi Rangda. Sadewapun merubah wujud menjadi Barong untuk menghadapi Rangda.

Pertempuran Barong dan Rangda merupakan gambaran perang abadi antara kebaikan dan kebatilan, antara putih dan hitam, antara manusia dan setan penggodanya. Perang abadi di dalam nurani manusia. Perang tersebut akan terus berlangsung selama dunia masih dipergelarkan. Kelak ketika kiamat datang, perang tersebut baru akan berakhir.

Demikian kira-kira ringkasan synopsis kisah perseteruan abadi antara Barong dan Rangda yang setiap hari dipentaskan sebagai tari Barong di Pulau Dewata. Seru bukan? Itulah cara leluhur kita mewariskan nilai-nilai kebajikan dan kebaikan. Salah satunya melalui pertunjukan seni tari yang cantik memukau hati.

Tepi Merapi, 15 Mei 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s