Berguru Kepada Sang Ombak


Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Bukankah demikian kira-kira pesan dari Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional kita. Pesan itu menggambarkan betapa proses pendidikan itu dapat dilakukan dimanapun dan dengan siapapun. Pendidikan tidak terbatas sebagai pendidikan formal di bangku sekolah. Tidak harus dalam kelas di sekolah, tidak harus didampingi seorang guru kelas, proses pendidikan tetap dapat dilangsungkan. Di luar sekolah, di rumah, di lingkungan masyarakat, di jalan, di pasar, di mushola, dan di semua tempat tidak terlepas dari sebuah proses untuk membentuk sosok pribadi setiap orang. Bukankah pendidikan berlangsung sepanjang waktu, dari lahir hingga menuju liang kubur?

Ada lagi orang Minang berpegang bahwa alam terkembang menjadi guru. Alam adalah maha guru yang maha luas. Jika ilmu Tuhan yang tertulis di dalam kitab-kitab disebut sebagai kalam, maka ilmu-ilmu Tuhan yang tercipta dan tergelar di semesta raya disebut sebagai alam. Alam dengan anak, alam dengan pendidikan adalah sebuah kesatuan utuh yang tidak data saling dipisahkan. Kita manusia modern menggagas untuk kembali lagi ke alam, back to nature, maka demikian halnya pendidikan juga kembali ke alam. Kita mungkin kini akrab dengan istilah sekolah alam.

Sekolah alam bukan berarti sekolah yang sama sekali tanpa ruang ataupun kelas. Tidak harus pada suatu sekolah alam proses pembelajaran sepenuhnya di lakukan di alam terbuka. Konsep sekolah alam sejati sebuah penegasan bahwa konsep dan teori ilmu sama sekali tidak boleh dipisahkan dengan realitas di lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar, di halaman sekolah, di kebun sekolah, di  masyarakat sekitar, di taman, di jalanan, di pasar, semua teori dan konsep ilmu menemukan penerapannya. Ada tumbuhan dan binatang, air, udara, angin, matahari, rembulan, gunung, sungai yang kesemuanya merupakan realitas alam yang dipelajari sebagai ilmu pengetahuan.

Sekolah alam adalah konsep keterpaduan antara teori dan konsep ilmu pengetahuan di satu sisi dengan realitas kenyataan di sisi yang lain. Keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya adalah sebuah paduan bagaimana ilmu pengetahuan dapat mendukung pencapaian cita-cita manusia. Ingin hidup lebih baik. Ingin hidup lebih serba mudah. Ingin hidup lebih terarah. Ingin, ingin, dan seribu satu keinginan yang pernah terpikirkan di benak manusia dimana ilmu pengetahuan dengan teknologi sebagai anak kandungnya diharapkan mampu untuk mewujudkannya.

Sekolah alam. Sebuah sekolah yang tidak memiliki batas ruang, halaman, dan pagar. Sebuah sekolah terbuka dimana seorang peserta didik menceburkan diri langsung bersentuhan dengan alam. Merasakan semilirnya angin. Mendengarkan desah ranting dan dedaunan. Meresapi kicauan burung nan riang terbang. Merasakan kejernihan bulir embun bagi yang bening. Menghitung kerlap-kerlip bintang di langit di waktu malam. Berkecipak mandi di air kali yang jernih. Bahkan berdecak dengan deburan ombak.

 

Ombak adalah irama kehidupan yang sungguh dinamis. Setiap saat, setiap waktu ia senantiasa bergerak. Melalui dorongan angina ia menyusun sebuah kekuatan. Dalam sebuah kebersamaan ia menyatukan setiap buih membentuk kekuatan yang lebih besar. Ia bergerak. Searah. Seirama. Menuju darat. Dan akhirnya menghempaskan diri di batu-batu karang ataupun pada hamparan pasir yang luas dan datar. Ombak selalu bergerak. Bergurulah kepada sang ombak yang selalu bergerak.

Satukan kembali anak dengan alam. Biarkan ia mendengar desah alam. Biarkan ia melihat keindahan alam. Biarkan ia meresapi suasana dan nuansa alam. Biarkan ia merasakan panas-dingin, terang-gelap, cerah-mendung, hitam-putih, siang-malamnya alam. Biarkan ia menghimpun setiap energinya. Biarkan ia merasakan kemerdekaaan. Biarkan ia mengekspresikan setiap perasaannya, pikirannya, khayalannya, impiannya, angan-angannya, bahkan gelak tawa keceriaannya. Anak-anak adalah anak alam. Anak-anak adalah harapan setiap zaman.

Ngisor Blimbing, 10 Mei 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s