Begawan Nuklir BAPETEN Itu Telah Mangkat


Pertama kali kami bergabung dengan institusi BAPETEN, lelaki sepuh itu sudah menyandang gelar Begawan. Tidak berlebihan gelar tersebut disandangnya. Ia termasuk salah seorang sesepuh, tetua, pendahulu, dan pendiri BAPETEN. Sebuah institusi yang memilki tugas utama untuk melaksanakan pengawasan terhadap semua kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir di tanah air. Pak Moendi, demikianlah lelaki bernama lengkap Moendi Poernomo itu biasa disapa.

Meskipun dituakan sebagai Begawan, dalam keseharian Pak Moendi merupakan sosok yang murah senyum dan gapyak kepada siapapun. Tidak terkecuali kepada kami yang masih baru bergabung dengan BAPETEN. Karena kebetulan seketika kantor kami pindah dari Jalan M.H. Thamrin ke Jalan Gajah Mada kami disatukan di ruangan yang sama, kami menjadi sangat intens berinteraksi.

Di sela-sela kesibukan kerja, Pak Moendi termasuk sosok yang suka bercerita dan berdiskusi. Kami pernah terlibat asyik berdikusi mengenai sunan ground di wilayah Klaten yang kala itu banyak ditanami tembakau kualitas satu untuk bahan cerutu ekspor. Di lain waktu beliau berkisah tentang asal-usul pasal hukuman mati yang ada di Undang-undang Tenaga Atom serta kebijakan rejim Soekarno untuk mengimbangi blok barat dan timur dengan proyek-proyek rahasianya, termuk terkait nuklir. Menurut kami, Pak Moendi benar-benar berperan selayaknya seorang Begawan yang banyak memberikan wejangan kepada para satria muda dengan kisah-kisah yang sungguh menginspirasi.

Dalam buku Satu Dasa Warsa BAPETEN yang dituliskan oleh Dr. Muhammad Ridwan, Kepala BAPETEN I, banyak diungkapkan peran dan kiprah Pak Moendi yang turut menggagas dan merumuskan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran yang menjadi pengganti Undang-undang Nomor 31 Tahun 1964 tentang Ketentuan-ketuan Pokok Tenaga Atom. Melalui amanat Undang-undang Ketenaganukliran itulah lahir BAPETEN, Badan Pengawas Tenaga Nuklir.

Sudah semenjak masa pemerintahan Presiden Soekarno, Indonesia menggagas pemanfaatan tenaga nuklir untuk tujuan damai dalam rangka mendayagunakannya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Lembaga Tenaga Atom sebagai kelanjutan Panitia Penyelidik Radioaktivitet yang diketuai dr. G.A. Siwabessy terbentuk pada 5 Desember 1957. Lembaga tersebut kini dikenal sebagai Badan Tenaga Nuklir Nasional, BATAN.

Salah satu gagasan besar pemanfaatan tenaga nuklir untuk tujuan damai adalah penggunaan tenaga inti atom tersebut untuk membangkitkan listrik pada suatu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Pada awal dekade 70-an, pemerintah membentuk Komisi Persiapan Pembangunan PLTN. Gagasan itu terus bergulir dan menuai pro-kontra dari berbagai kalangan masyarakat.

Salah satu prasyarat kesiapan pembangunan dan pengoperasian PLTN adalah adanya badan pengawas tenaga nuklir yang terpisah dan independen dari badan yang bertugas melaksanakan promosi teknologi dalam wujud penelitian, pengembangan dan rekayasa. Peran badan promosi dan pengawasan pada saat itu dilaksanakan oleh satu institusi, yaitu BATAN. Peran pengawasan tenaga nuklir di bawah BATAN dilaksanakan oleh Biro Pengawas Tenaga Atom yang terakhir kali dipimpin oleh Moendo Poernomo, S.H.

Menyadari pentingnya pemisahan peran promosi dan pengawasan sebagaimana diuraikan di atas, Menristek B.J. Habibie pada pertengahan dekade 90-an menugaskan Dr. Muhammad Ridwan, selaku staf ahlinya untuk mempersiapkan dan menyusun Undang-undang Ketenaganukliran yang baru untuk menggantikan Undang-undang Pokok Tenaga Atom. Di samping memiliki tujuan utama untuk memisahkan tugas pengawasan dari badan promosi, undang-undang tersebut juga diharapkan menjadi dasar hukum yang lebih kuat dalam rangka mempercepat pemanfaatan tenaga nuklir untuk tujuan damai di berbagai bidang. Dalam proses-proses yang maha penting inilah seorang Moendi Poernomo turut aktif terlibat secara langsung.

Demikian Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran diundangkan, dibentuklah Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Para pelaku sejarah penyusun Undang-undang Ketenaganukliran banyak yang ditugaskan untuk turut menahkodai lembaga pemerintah non kementerian yang baru terbentuk tersebut. Di bawah Dr. Muhammad Ridwan selaku Kepala BAPETEN yang pertama, Pak Moendi diamanatkan untuk mendampinginya sebagai Deputi Kepala BAPETEN bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir.

Pada masa kepemimpinan selanjutnya, Pak Moendi yang masih berdinas aktif lebih memerankan posisi sebagai salah seorang sesepuh yang tetap memberikan sumbangsih pikiran dan tenaganya untuk BAPETEN. Bersama dengan Drs. Heryudo Kusumo, Drs. Arifin S. Kustiono, dan Dra. Hendaryah, para sesepuh tersebut mendapat julukan para Begawan BAPETEN.

Dini hari, Sabtu, 5 Mei 2018, kami mendapatkan kabar duka bahwa Pak Moendi tutup usia di RSUP dr. Tjipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Pak Moendi yang setelah purna tugas dari BAPETEN masih sesekali turut memberikan sumbang saran dalam rangka peran dan tugas besar BAPETEN, semenjak beberapa waktu sebelumnya menderita sakit. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada Jumát, 4 Mei 2018 kurang lebih pukul 23.00 WIB.

Sebagai generasi penerus di BAPETEN, berita duka tersebut tentu cukup mengguncangkan hati kami di tengah perjalanan lembaga yang terus menghadapi berbagai ombak dan gelombang cobaan yang kian menantang. Menjelang dua dasa warsa BAPETEN, kami justru kehilangan salah seorang begawan yang menjadi teladan kami. 

Pak Moendi, sugeng kondur ing kelanggengan. Nama, jasa dan pengabdian Bapak selalu menjadi penyuluh dan pelita bagi generasi penerus BAPETEN. Jejak langkah, bahkan senyum teduh Bapak akan abadi di sanubari kami. Semoga segala amal ibadah dan kebaikan Bapak diterima di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih. Segala dosa, kekhilafan, dan kekurangan yang ada diampuni oleh Allah Yang Maha Pengampun. Mugi tentrem ing kasedan jati. Moga damai di dalam keabadian. Amien ya rabbal álamin.

Kami menjadi saksi, Pak Moendi Begawan nuklir dari BAPETEN adalah orang baik, adalah manusia baik. Semoga…..

Cengkareng, 5 Mei 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s