Racun Kalajengking


Sejak beberapa hari silam memang turut menyimak kabar perihal racun kalajengking. Dalam kabar yang menurut saya cukup kabur hingga menjadi kabar-kabur tersebut dinyatakan bahwa komoditas termahal di dunia saat ini, termasuk racun kalajengking. Saya sendiri sempat turut heran, kenapa orang tiba-tiba bicara tentang racun kalajengking. Ketika dikatakan satu liter kalajengking dihargai hingga 145 miliar rupiah per liter, semua orang seolah sedang secara sengaja diajak kemecer turut kepingin.

Hingga beberapa hari saya tidak cukup paham dan ngeh dengan apa yang tengah terjadi. Saya sempat berpikir apakah ini semacam revolusioner serangan bom bisnis semacam gelombang cinta yang dulu itu? Atau bias jadi fenomena serupa dengan booming batu akik? Ah, lagi-lagi saya hanya bias geleng-geleng kepala. Tidak tahu apa yang dibicarakan orang. Tidak tahu apa yang sebenar-benarnya sedang terjadi. Apakah kabar tersebut sekedar isu. Ataukah kabar tersebut memang benar-benar sebuah fakta baru? 

Untuk kebingungan dan ketidaktahuan saya perihal racun kalajengking tersebut segera mendapatkan jawaban. Sembari leyeh-leyeh menunggu waktu sholat Jumat, tanpa sengaja menyaksikan sebuah tayangan acara kenegaraan di stasiun tivi milik pemerintah. Acara yang komplit dihadiri para pejabat negara tersebut bertajuk Musrenbang Nasional 2018.  Pertemuan yang digelar mulai 30 April 2018 tersebut bertujuan untuk mengkoordinasikan rencana kerja dan program untuk tahun anggaran 2019.

Nah ini dia rupanya awal mula kisah kontroversi racun kalajengking yang viral di media social. Di kala Presiden Joko Widodo dalam awal sambutan pidatonya melemparkan pertanyaan kepada hadirin, ” Tahukah komoditas perdagangan yang paling mahal di dunia saat ini? Orang mengatakan emas komoditas termahal. Bukan! Saat ini komoditas dagang yang paling mahal adalah racun kalajengking. Satu liter racun kalajengking berharga hingga 145 miliar rupiah.”

Setelah itu Presiden melanjutkan pidatonya. Ia menyinggung masalah dibandingkan beberapa komoditas dagang termahal di dunia, waktu jualah yang sesungguhnya merupakan komoditas paling mahal. Berapa banyak potensi percepatan pembangunan terbuang sia-sia karena manajemen waktu yang amburadul. “Jangan buang-buang waktu!”demikian Jokowi memberi penekanan.

Apa yang dimaksudkan dengan buang-buang waktu? Perizinan berbelit itu buang-buang waktu. Birokrasi bertele-tele itu buang-buang waktu. Prosedur njlimet itu buang-buang waktu. Intinya kita tidak akan pernah bias maju apalagi mengejar ketertinggalan dari bangsa lain jika kita masih buang-buang waktu.

Di titik ini, saya sepakat dan sepaham dengan ungkapan Presiden Jokowi. Namun saya masih tetap tidak paham hubungannya apa dengan racun kalajengking? Mungkin ada sedulur sekalian yang bias memberikan pencerahan kepada saya? Monggo…..

Ngisor Blimbing, 5 Mei 2018

Sumber foto dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Racun Kalajengking

  1. rumahpintar256 berkata:

    Saya juga sepaham ttg prosedur yg jilimet dll yg negatif. Saya juga ga nangkep hubungannya dengan Racun itu..apa hanya istilah/ungkapan Pak Presiden aja kali? Klo mnrut analisa saya ttg perpolitikan saat ini: bisa saja racun kalajengking yg dimaksud adalah klik https://youtu.be/JVC1Zh5ImbU

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s