Andai Kau Datang Kembali


Terlalu indah dilupakan;  Terlalu sedih dikenangkan; Setelah aku jauh berjalan; Dan Kau kutinggalkan.

Betapa hatiku bersedih; Mengenang kasih dan sayang-Mu; Setulus pesan-Mu kepadaku; Engkau kan menunggu;

Andaikan Kau datang kembali; Jawaban apa yang kan kuberi; Adakah jalan yang Kau temui, untuk kita kembali lagi;

Bersinarlah bulan purnama; Seindah serta tulus cinta-Nya; Bersinarlah terus sampai nanti; Lagu ini ku akhiri;

Melalui akun FB, Pakdhe Blontank beberapa malam silam sempat menuliskan statusnya mengenai seorang khotib yang dalam pidato khutbah nisfu sya’bannya menguraikan “tafsir bekal orang mati” terhadap salah satu lirik lagu Andaikan Kau Datang Kembali dari kelompok musik legendaris negeri ini, Koes Plus.

Kami sendiri sungguh beruntung karena pada suatu malam di salah satu acara Kenduri Cinta yang digelar rutin di Pelataran Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pernah turut mendengar uraian dari Mas Yok Koeswoyo perihal asal-usul maupun inti pesan dari lagu yang dimaksud. Menyimak kembali lirik atau syair lagu yang seolah sekedar mengisahkan kisah kerinduan dua insan dalam hubungan cinta kasih yang sungguh mendalam tersebut, samar-samar kami kembali diingatkan cerita Mas Yon yang merupakan salah satu pelaku sejarah di balik penciptaan lagu yang cukup populer tersebut.

Sengaja dalam cuplikan tulisan syair lagu di atas kami menggunakan beberapa huruf capital pada beberapa kata, seperti Kau, Engkau, dan Mu. Sama sekali bukan tanpa maksud kami menuliskan hal tersebut. Hubungan kasih memang tidak saja menyangkut dua insan anak manusia, bahkan hubungan tuus nan suci tersebut juga bisa menyangkut hubungan antara seorang hamba insan manusia dengan Tuhan Sang Khaliknya.

“Terlalu indah dilupakan;  Terlalu sedih dikenangkan; Setelah aku jauh berjalan; Dan Kau kutinggalkan.”

Ketika seorang hamba berada di jalan ketaatan kepada-Nya, semua menjadi indah. Sempurna. Namun ketika kemudian hamba tersebut berjalan menyimpang dari jalan ketaatan kepada-Nya, tetap ada secercah panggilan dalam jiwanya yang terdalam, dalam hati nuraninya yang paling suci. Keindahan dalam jalan ketaatan kepada-Nya senantiasa terkenang. Bahkan setelah semakin jalan yang menyimpang tersebut jauh ditapaki, jauh ditelusuri. Itulah kesadaran seseorang di penghujung jalan kesesatan yang pernah menjadi pilihan hidupnya.

Betapa hatiku bersedih; Mengenang kasih dan sayang-Mu; Setulus pesan-Mu kepadaku; Engkau kan menunggu;

Di penghujung kesesatan itupun, seorang hamba sejati begitu merasakan kesedihan yang mendalam di dalam hatinya. Terkenang kembali anugerah, nikmah, kasih bahkan rasa sayang yang telah dicurahkan Tuhan kepadanya. Bahkan dalam pilihan jalan sesat yang dilaluinya, hamba tersebut masih mendengar pesan bahwa Tuhan senantiasa terbuka menunggunya, senantiasa membuka pintu maafnya, senantiasa menerima taubat seorang hamba betatapun ia dalam kesesatan yang gelap nan kelam.

Perasaan hampa. Rasa nestapa. Rasa hina menggayut dalam jiwa dan raga, dalam lahir dan batin hamba tersebut. Tiada akan terbayangkan sama sekali kenapa kesadaran itu datang justru pada saat ia menapaki penghujung umurnya. Akhir dari masa kehidupan dunia yang serba fana. Akhir dari perjalanan yang telah panjang.

Andaikan Kau datang kembali; Jawaban apa yang kan kuberi; Adakah jalan yang Kau temui, untuk kita kembali lagi;

Di ujung jalan sesat itu, di penghujung perjalanan hidup itu,  kembali terngiang dan terkenang pesan-pesan kebaikan dari Tuhan. Hamba itupun termenung. Sangat dalam ia menanyakan sesuatu kepada hati nuraninya. Setelah sekian lama ia meninggalkan Tuhan, mencoba melupakan pesan-pesanNya, apakah yang akan ia lakukan dan berikan seandainya kemudian Tuhan menyapanya kembali. Menghampirinya, mendatanginya, bahkan memanggilnya melalui malaikat mautnya yang akan menjemput. Adakah jalan dan kesempatan bagi hamba yang berlumur dosa tersebut untuk kembali kepada jalan ketaatan sebagaimana dulu? Adakah? Akankah?

Bersinarlah bulan purnama; Seindah serta tulus cinta-Nya; Bersinarlah terus sampai nanti; Lagu ini ku akhiri;

Dengan seribu keraguan, dengan sejuta kekhawatiran, dengan selaksa ketakutan, hamba tersebut akhirnya memilih jalan untuk kembali. Kembali kepada kesadaran tentang Tuhan. Kesadaran bahwa dirinya hanyalah seorang hamba. Dirinya berlumur dosa namun ingin bertaubat. Dirinya berlumur nista tetapi ingin berpasrah kembali. Dirinya, ingin menjadi hamba kembali.

Tuhanpun sama sekali tidak diam. Ia senantiasa membuka selaksa pintu maaf bagi hamba-Nya yang khilaf. Memberikan kasih sayang betatapun seorang hamba datang dengan segunung, selautan, sejagad raya, bahkan sealam semesta noda dan dosa. Ia tetap melimpah curahan kasih dan sayangnya. Ialah sesungguh-sugguhnya, sejati-jatinya, sebenar-benar Yang Maha Kasih lagi Maha Penyayang.

Sekejap kemudian hamba yang telah kembali kepangkuan-Nya tersebut merasakan kelegaan yang sungguh luar biasa. Dunianya yang semula pepat, gelap nan sempit berubah sekejap menjadi lega, terang, dan ia sungguh-sungguh merasakan kedamaian dan ketentraman yang sungguh dirindunya semenjak di bawah alam sadarnya. Dunia terang oleh sinar bulan purnama. Kedamaian, ketentraman, cinta, kasih sayang, dan segala rasa keindahan memenuhi segenap alam semesta raya. Hamba itupun tenggelam dalam keabadian. Tanpa akhir.

Ngisor Blimbing, 2 Mei 2018

Sumber foto dari Kenduri Cinta.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s