Keraton Media Pendidikan Anak-anak Kita


Kehidupan para bocah adalah kehidupan yang murni, belum banyak diwarnai oleh prasangka-prasangka pikiran yang tidak baik. Naluri para bocah memang masih lugu, masih suci, masih sepi ing pamrih. Maka seringkali pikiran para bocah menerima apa saja. Mereka belum merasa perlu untuk membedakan mana yang beneran, mana yang bohongan. Mana yang nyata dan mana yang maya. Mana yang ada dan mana yang tidak ada. Mereka tidak ambil pusing. Dan itulah hebatnya dunia anak. Masa-masa yang tidak akan pernah tergantikan. Pun demikian dengan dengan dongeng dan kisah-kisah tentang para putri, para pangeran, permaisuri, serta raja-raja dengan kerajaannya.

IMG_20180410_131727_HDR

Siapa sih anak kecil yang tidak menyukai dunia fantasi? Dunia dongeng yang mengharu-biru itu? Bahkan para orang tua yang kini sudah lanjut usia sering masih mengenangkan masa-masa sekolah dimana mereka lebh banyak menerima dongengn dari para guru di kelas daripada pelajaran yang ruwet-ruwet. Ala guru jaman dulu memang banyak yang menerapkan pola ajar dengan mengkombinasikan dongeng dengan materi pelajaran. Walhasil, si siswa tanpa terasa berat telah belajar dan menyerap pelajaran yang diajarkan guru-gurunya. Hari-hari saat ini semakin jarang, bahkan mungkin tidak ada, guru yang bisa berdongeng panjang lebar untuk menyampaikan materi belajar.

Saya masih ingat seorang guru sejarah yang mengajar kisah-kisah kerajaan di Nusantara dengan hafalan di luar kepala yang sungguh luar biasa. Ceritanya selalu runut dan lancar, seolah bukan lagi sebuah hafalan tetapi sudah menjadi ungkapan dari dalam hati yang terdalam. Saya sungguh terpikat dengan pengetahuan sejarah guru tersebut. Bukan mengada-ada jika sayapun hingga saat ini masih bisa juga bercerita tentang raja-raja dan kerajaan di Nusantara mulai era Kutai, Tarumanegara, Mataram Kuno, Medang, Kediri, Kahuripan, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram Islam, bahkan hingga Kasultanan Ngayojakarta Dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

IMG_20180410_131340_HDR

Tentu saja kisah-kisah dari pelajaran sejarah tersebut sedikit banyak menjadi bumbu dongengan maupun obrolan-obrolan ringan dengan anak-anak kami, si Ponang dan si Noni. Tidak hanya sampai pada cerita-cerita mengenai para putri, para pengeran, raja-raja, dan istananya, dalam beberapa kesempatan kami sengaja mengajak mereka berdua berkunjung ke keraton.

Adalah sebuah kebetulan yang memang direncanakan, pada akhir bulan lalu si Ponang dan si Noni berkunjung ke Keraton Kasultanan Yogyakarta. Bagi si Noni, kunjungan tersebut merupakan pertama kalinya. Berbeda dengan kakaknya yang sudah dua kali ke Keraton Yogyakarta.

IMG_20180410_131349_HDR

Melihat pelataran alun-alun utara yang luas dengan ringin kembarnya, mengamati bangunan-bangunan bergaya klasik yang megah nan besar, tentu saja menumbuhkan banyak pertanyaan bagi si Noni. Tentu saja ia ingin tahu dimana para putri-putri raja, dimana para pengeran tinggal, sang raja sedang apakah gerangan? Bahkan pertanyaan yang sungguh tida terduga, sang raja pekerjaannya apa sekarang?

Mendengar pertanyaan yang terakhir tersebut, spontan batin saya njenggirat. Kaget bercampur kagum, ada ya model pertanyaan menanyakan pekerjaan raja? Dikarenakan Sultan Yogya sekaligus memangku jabatan sebagai Gubernur DIY, tentu jawabannya sungguh mudah. Tentu kepada si Noni saya katakan bahwa Sultan saat ini sedang ngantor di Gedung Kepatihan. Saya tidak tahu jawaban yang harus saya berikan seandainya kami saat itu sedang berkunjung ke keraton-keraton lain yang hingga saat ini juga masih ada.

IMG_20180410_131536_HDR  IMG_20180410_130447_HDR

Namun atas pertanyaan anak saya tersebut, sungguh saya jadi teringat pernyataan Kanjeng Sultan sendiri ketika suatu saat ditanya oleh seorang reporter, “Pekerjaan apakah yang dicantumkan di dalam KTP seorang Sultan Yogyakarta?” Sebuah jawaban yang tidak terduga meluncur dari Sultan, “Swasta!” Nah lho! Surprise memang!

Mengelilingi pelataran bangunan terbuka pagelaran, menapaki anak tangga di depan bangunan utama Siti Hinggil, menyambangi beberapa ruang foto-foto para sultan, menghampiri sangkar ayam jago, melihat pohon sawo kecik dan lain sebagainya adalah seribu satu bahan cerita dan dongengan yang sangat menarik bagi anak-anak kita. Daripada keseringan mengunjungi wahana-wahana game modern di mall-mall, anak pasti akan mendapatkan pengalaman batin yang juga membahagiakan dengan berkunjung ke sebuh keraton.

Secara terbatas, keraton memang membuka diri untuk menerima kunjungan. Bahkan keraton telah menjadi salah satu obyek tujuan wisata yang telah berlangsung sekian dekade. Di masa kemerdekaan ini, keraton lebih memposisikan diri sebagai lembaga pelestari adat dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dari para pendahulunya. Dengan mencermati peran dan fungsi keraton tersebut, sejatinya keraton juga menjadi wahana pembelajaran bagi anak-anak kita. Dengan mengenal keraton, anak-anak kita bisa tahu sejarah, bisa paham dengan kebudayaan, seni, tradisi, tatanan pergaulan, bahasa dan lain sebagainya. Ah, betapa kayanya warisan leluhur kita yang kita abaikan untuk pendidikan anak-anak kita.

Tepi Merapi, 25 April 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya, Uncategorized. Tandai permalink.

4 Balasan ke Keraton Media Pendidikan Anak-anak Kita

  1. layangseta berkata:

    arsitektur nya mirip dengan keraton Solo

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s