Antara Akhlak dan Ilmu


Ketinggian akhlak sejatinya jauh lebih tinggi daripada ketinggian ilmu pengetahuan. Konon era saat ini adalah jaman ilmu pengetahuan, jaman teknologi serba canggih. Istilah kerennya jaman kemajuan. Banyak orang pintar. Banyak orang pandai. Banyak ilmuwan, scientist, teknokrat, insinyur, doktor, seribu satu istilah lain yang merujuk kepada kecerdasan otak manusia. Tetapi berapa banyak orang yang jujur? Orang yang amanah? Orang baik? Orang yang memiliki keluhuran budi pekerti? Orang yang berakhlak mulia?

Di satu sisi jaman ini dikatakan sebagai jaman kemajuan. Namun di sisi yang lain kita juga seringkali mendengar bahwasanya jamann ini juga disebut sebagai jaman kemunduran. Moralitas dan nilai hidup diacuhkan. Agama semakin terpinggirkan. Kejujuran semakin menjadi barang yang sungguh langka. Tatanan kehidupan morat-marit. Norma hukum terjungkir balik. Keadilan semakin susah untuk dicari. Korupsi, kolusi, nepotisme justru semakin menggila. Jamane memang jaman edan.

Jika ada dua sisi istilah jaman yang satu sama lain bahkan kontradiktif tersebut, terus yang benar yang mana? Atau tidak terlalu penting menyatakan mana yang lebih benar dan mana yang lebih tidak benar karena yang jauh lebih penting adalah kenapa bias demikian? Apa yang menjadi tolak ukur yang bisa kita pedoman bersama untuk kehidupan masa depan yang harapannya tentu lebih baik.

Bahkan tokoh tenar sekaliber Albert Einstein pun pernah menegaskan, “Science without religion is blind. Religion without science is lame.” Ilmu pengetahuan tanpa agama akan buta. Agama tanpa ilmu pengetahuan akan lumpuh.

Bahkan seorang Yahudipun sebagaimana Einstain sangat paham apa peran agama bagi manusia modern. Agama bagaikan suluh, pelita, lampu penunjuk jalan bagi manusia. Manusia tanpa suluh, tanpa pelita, tanpa penunjuk jalan bagaimana orang buta yang akan berjalan tersaruk-saruk, tidak tahu arah, dan besar kemungkinannya ia akan tersesat dari tujuan hidup yang semestinya.

Agama, sebagaimana asal-usulnya dari Bahasa Sansekerta  a-gama, kata a dan kata gama. A bermakna tidak. Sedangkan gama berarti kacau balau. Agama memiliki pengertian sebuah jalan, petunjuk arah, dan pedoman agar hidup manusia tidak kacau balau. Agar alam semesta raya tertata dengan baik. Karena sejatinya manusia senantiasa merindukan kedamaian, ketentraman, dan keharmonisan dalam kehidupan ini.

Di sinilah kemudian sangat urgennya peran dunia pendidikan kita. Pendidikan tidak hanya bertujuan untukk mencetak manusia-manusia pintar, manusia-manusia pandai, manusia-manusia cerdas, manusia-manusia intelek semata. Lebih daripada itu,, proses pendidikan juga bertujuan untuk mencetak manusia-manusia yang memiliki keunggulan budi pekerti, keunggulan tingkah laku, keunggulan-keunggulan sikap dan sifat yang termanestivasikan sebagai kemuliaan akhlak.

Orang pintar tanpa akhlak mulia hanya akan jadi orang keminter. Kepandaian dan kepintaran yang dimiliki alih-alih diamalkan untuk turut membangun masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera bersama-sama, justru kepintarannya digunakan untuk “minteri”, menipu banyak orang. Baginya yang terpenting dan paling utama adalah ksejahteraannya sendiri, kesenangannya sendiri, kekayaannya sendiri, kepentingan dirinya dan keluarga sendiri. Inilah yang menyebabkan sendi-sendi kehidupan kita runtuh pada saat sekarang ini.

“Ketinggian akhlak sejatinya jauh lebih tinggi daripada ketinggian ilmu pengetahuan”, nasehat tersebut menjadi sangat relevan sebagai pengingat kita, terutama yang tengah tekun-tekunnya menuntut ilmu. Pada kesempatan pengajian Akbar dalam rangka Haflah Tasyakuran lil Ihtitam di Pondok Pesantren Nurul Falah, Tegalrandu, Magelang beberapa hari yang lalu Gus Yusuf kembali mengingatkan hal tersebut.

Lebih lanjut kyai muda Pengasuh PP API Tegalrejo Magelang yang merupakan putra dari KH Chudzori tersebut menambahkan, “Para santri yang tengah menuntut ilmu di pondok pesantren dididik terutama yang paling utama adalah menjadi orang yang berakhlak mulia. Dicetak menjadi orang baik, wong kang pener tidak sekedar sebagai wong pinter.” 

Tinggi-rendahnya derajat seseorang di mata Allah SWT adalah sederajat dengan tinggi-rendah akhlak dan budi pekertinya. Kemuliaan akhlak merupakan buah dari tingginya keimanan dan ketaqwaan seseorang. Bahkan akhlak merupakan kunci visi dan misi kenabian setiap utusan Allah. Bukanlah Kanjeng Nabi bersabda, “innama buí’itsu li utamimma makarimal akhlak.” Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai Nabi melainkan untuk memperbaiki akhlak manusia. Semoga menjadi bahan perenungan kita bersama.

Tepi Merapi, 23 April 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s