Lorong Waktu dari Masa Lalu


Ah bicara soal waktu, manusia memang selalu akan ketinggalan. Sepertinya kemarin, ternyata sudah berlalu lebih dari sepuluh tahun silam. Terasa baru minggu lalu, elha kok jebul sudah dua windu yang lalu. Lorong waktu senantiasa menghubungkan sisi-sisi ruang rindu di masa lalu. Adakah Panjenengan juga mencermati hal demikian?

 

Lorong waktu bias jadi sekedar sebuah imajinasi makna sebuah kata kias. Tetapi lorong waktu juga menjadi istilah magis bagi kami, sekelompok perantau ibukota yang pernah numpang tinggal di bilangan Tanah Abang.  Ya, sebuah lorong sempit sekira hanya selebar 50 cm itu menjadi jalur keseharian kami. Tiap pagi, petang, bahkan malam kami senantiasa melintasinya. Sebuah lorong sempit yang menjadi jalur tembus antara Jalan Kebun Kacang I dan II.

Sekira 15 tahun silam, kami adalah sekelompok anak pribumi yang terpaksa merantau ke ibukota. Mengadu nasib, demikianlah kata sakti yang harus kami sandang. Bagaimanapun pembangunan yang hadir masih belum memberikan pemerataan yang adil bagi segenap anak bangsa untuk berkiprah dan berkarya di kampung halamannya masing-masing. Walhasil, dimana ada gula di situ pulalah banyak semut akan berkerubung. Ibukota menjadi tujuan pertaruhan nasib kami.

Adalah saya yang van Magelang, Yerry dari Sukabumi, Kang Bahtiar dari Sukoharjo, dan Ipul dari Bangsari numpang ngenger di sebuah rumah yang beralamat di Jalan Kebun Kacang II No.70. Sebuah rumah yang sedikit lebih besar dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Tidak hanya lebih besar, rumah itu juga memiliki halaman yang masih cukup luas.

Di sisi depan rumah, berbatasan dengan dengan pagar berderet sepasang pohon blimbing yang senantiasa indah dengan buah-buahnya yang seolah tiada mengenal musim berbuah. Pohon blimbing dan buah blimbingnya itu seolah sebuah pesan luhur bagi manusia untuk senantiasa menjadi bocah angon yang menek blimbing. Anak cucu Adam-Hawa yang harus beramal dengan lima amalan Rukun Islam sebagaimana jumlah sisi buah blimbing yang membentuk sisi lima bintang terang tersebut.

Sebagaimana Jakarta yang merupakan miniatur Indonesia, demikian halnya kos-kosan tempat tinggal kami tersebut. Anak perantau dari Jawa, dari Sunda, dari Batak, dari Minang, arek Suroboyo, bahkan ada pula teman kami dari etnik Tionghoa. Sungguh luar biasa anugerah keragaman bangsa kita. Demikian keragaman yang ada di tempat tinggal kami waktu itu justru menjadi tali pengikat yang kuat bagi pergaulan kami.

Tidak hanya berinteraksi dengan sesama penghuni rumah kosan yang lain, kami sebagai anak-anak dari Bu Ageng juga sangat intens dan akrab bergaul dengan warga sekitar. Bukan hanya sebuah kebetulan semata jika induk semang kami merupakan tokoh sesepuh masyarakat setempat yang didaulat menjadi Ketua RW. Jadilah pada kesempatan-kesempatan tertentu teras ataupun ruang kamar kami menjadi arena untuk timbangan anak-anak balita pada saat Posyandu melayani para pelanggannya. Atau di lain hari, pelataran yang menjadi akses jalan kami ditarub untuk pemilu ataupun hajatan salah satu warga.

Tidak hanya menjadi tempat kami menumpang tinggal, tempat kosan kami tersebut juga sangat terbuka bagi teman-teman ataupun saudara kami lainnya yang sekedar singgah ataupu menginap untuk beberapa  hari. Bahkan ketika beberapa diantara kami senantiasa menjalani ritual untuk nongkrong melingkar di seputaran air mancur Bunderan Hotel Indonesia, banyak sesame teman nongkrong yang mampir bahkan turut tidur di kamar-kamar kami yang sederhana.

Salah satu momentum yang paling istimewa dan pastinya sangat berbeda dengan kebanyakan kos-kosan yang ada di ibukota adalah pada waktu sahur di Bulan Ramadhan. Tidak segan-segan Bu Ageng, ibu kos kami yang sudah lumayan sepuh itu (kini telah almarhum), selalu memasakkan anak-anak kosannya. Jadilah kami setiap jam tiga dini hari berkumpul di salah satu ruang yang ada di rumah induk untuk bersantap sahur bersama. Kini, saat ini, ketika kembali menapaki satu bulan jelang Ramadhan kali ini kenangan itu kembali melintas seolah baru kemarin sore terjadi. Subhanallah. Sungguh Maha Suci Gusti Allah Kang Hakarya Jagad.

Tepi Merapi, 19 April 2018

 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Lorong Waktu dari Masa Lalu

  1. abu4faqih berkata:

    Dari pengalaman itu, siap jadi kades di lereng Merapi ya Kang …

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s