Anak-anak dan Masjid Kita


Sekiranya anak-anak jaman now ditanya, siapa atau apakah yang paling dekat dengan keseharian mereka? Mungkin sama sekali tidak akan berlebihan jika jawaban di urutan pertama adalah gadget. Mungkin juga ada variasi jawaban, seperti orang tua, guru, teman sekolah, dan lainnya. Adakah jawaban trasendental bagi anak jaman now dengan menjawab Tuhan? Bisa jadi Tuhan terlampau abstrak bagi kebanyakan anak jaman now. Benarkah demikian?

Seandainya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah sebuah kebenaran jaman now, maka sebagai ummat Islam yang merupakan warga dari sebuah negara dengan mayoritas penduduk muslim kita tentu menjadi sangat prihatin. Kemajuan teknologi informasi melalui gadget yang digenggam setiap saat dan dimanapun bisa jadi telah menggeser pola ketergantungan anak jaman now kepada sesuatu hal. Alih-alih meyakini dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Gaib, anak jaman now akan lebih yakin dengan benda yang ada di genggaman mereka. Suatu material yang nyata, hadir secara riil, menghibur, mendatangkan kesenangan, dan banyak memudahkan urusan.

Tuhan, pada dimensi alam pikiran anak jaman now (bahkan mungkin kebanyakan manusia modern secara umum) semakin terasa jauh adanya. Jaman serba material telah menyudutkan manusia kepada penilaian segala hal hanya sebatas material semata. Sesuatu yang tidak maujud, tidak bisa dilihat, tidak bisa diindera dengan panca indera kita semakin dianggap tidak ada. Keyakinan kepada Yang Gaib dana lam kasat mata semakin menipis. Celakanya, hal-hal demikian berbanding lurus dengan kemerosotan akhlak dan budi pekerti anak manusia.

Kembali kepada anak-anak kita generasi jaman now. Sangat berbeda dengan anak jaman old yang belum merasakan gemerlap kemajuan teknologi komunikasi. Teknologi komunikasi dan hiburan yang dikenalkan pada masa kanak-kanaknya masih terbatas radio dan televise. Itupun dengan kepemilikan dan jumlah yang masih sangat terbatas. Waktu-waktu luang anak-anak jaman old di luar jam sekolah banyak diisi dengan bermain aneka permainan tardisional bersama teman, madrasah, ngaji di surau, atau kegiatan offline yang lainnya.

Orang-orang tua muslim di jaman old kebanyakan sungguh-sungguh berusaha membiasakan atau menerapkan  pengamalan nilai-nilai dan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya menjelang senja, anak-anak diwanti-wanti untuk segerap pulang dan bersegera pergi  ke masjid atau mushola terdekat. Sholat Maghrib berjamaah dan masjid atau mushola seolah menjadi menu wajib untuk menyambut malam. Selepas itu mereka ngaji bersama di bawah bimbingan para kyai kampung yang tulus nan ikhlas. Belajar turutan, juz amma, ataupun kitab kuning. Maka suasana di pemukiman kaum muslim, baik di desa maupun di kota sering digambarkan sebagai “suasana kota santri”.

Anak-anak muslim dan masjid, adalah dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Di luar rumah, anak-anak lebih banyak berdekatan dengan masjid. Masjid dengan halamannya yang luas menjadi ajang anak-anak untuk bermain. Gobak sodor, betengan, petak umpet, benthik, patangan, ya di pelataran masjid. Bermain bola, bermain layangan juga sering dilakukan di depan masjid. Di waktu sore, apakah selepas Ashar ataupun selepas Maghrib, masjid menjadi pusat menimba ilmu agama secara informal. Bisa lewat kegiatan madrasah maupun ngaji ala sorogan.

Tidak hanya di waktu sore dan senja, lebih khusus bagi para bocah laki-laki, masjid atau surau bahkan menjadi tempat “tidur berjamaah” bersama teman-teman sebayanya. Dibandingkan tidur di rumah bersama orang tua dan keluarganya, anak-anak lelaki lebih sering tidur di masjid ataupun surau. Suasana demikian sebenarnya memberikan indikasi bahwa lingkungan sekitar lebih mendominasi pola pendidikan anak-anak jaman old, di samping tentu saja dari sekolahan.

Bagaimana dengan anak jaman now? Apakah masih banyak diantaranya yang tertambat dengan masjid? Inilah fakta pahit di jaman now bagi orang-orang jaman now. Meskipun dari sisi bangunan, masjid-masjid kita saat ini lebih besar, megah, bahkan mewah, namun justru semakin kehilangan pamor dan sinarnya. Masjid-masjid menjadi kurang menarik bagi sebagain besar anak-anak jaman now. Segala kesenangan, hiburan, atau kebutuhan sudah merasa dapat dipenuhi dari genggaman gadget yang ada di tangan. Setiap saat, setiap waktu, mereka bisa menjalankan aplikasi-aplikasi yang membantu belajar. Bahkan hadirnya berbagai aplikasi game online di genggaman tangan telah menjadikan anak jaman now tertimpa kecanduan yang teramat sangat akut.

Walhasil, masjid-masjid dalam kesehariaannya di jaman now lebih didominasi oleh jamaah-jamaah yang sudah sepuh. Para manula yang telah selesai dari puncak karir dunianya biasa menjadi penghuni masjid yang setia. Di masa-masa awal Ramadhan masjid biasanya juga penuh sesak dengan jamaah. Namun hal demikian hanya fenomena sesaat, dan selebihnya akan kembali seperti biasa. Masjid yang sepi dan seolah merana. Semakin jarang dijumpai anak-anak yang membuat kegaduhan dengan canda-tawanya di masjid. Masjid yang terlalu sepi dan justru mencemaskan hati.

Kiranya faktor apakah yang membuat kebanyakan anak-anak muslim jaman now justru jauh dari masjid. Salah satu diantara mungkin rendahnya komitmen orang-orang tua jaman now yang berkomitmen tinggi untuk memakmurkan masjid. Sibuk bekerja dan mencari penghidupan telah membawa ummat Islam jaman now lebih sibuk mengejar dunia. Alih-alih memberikan contoh teladan dan mengajak anak-anaknya untuk turut berjamaah dalam rangka memakmurkan masjid, tidak sedikit muslim jaman now yang sekedar menginjak masjid hanya di waktu sholat Jumat saja.

Anak-anak jaman now adalah sosok-sosok insan yang tumbuh dengan sikap kritis dan rasa ingin tahu yang besar. Keteladanan dan contoh dari orang-orang dewasa di sekitar menjadi amat penting sebagai pedoman mereka dalam mencari kepribadian dan jati dirinya. Kekosongan keteladanan di sekeliling anak jaman now akan menjadi celah kosong yang dapat dimasuki oleh berbagai konten negatif dari dunia informasi yang kini tergenggam di tengan mereka melalui kecanggihan gadget.

Bagi sebagian besar generasi jaman old, suasana masa lampau adalah sebuah kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman. Anak-anak berkembang dalam suasana lingkungan yang masih kental dengan nilai-nilai keagamaan dan budi pekerti luhur. Mudah-mudahan tulisan ini hanyalah sekedar keresahan hati yang tidak beralasan, sehingga kita masih tetap optimis untuk menyambut masa depan bagi generasi anak-anak jaman now, anak-anak kita semua.

Ngisor Blimbing, 15 April 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s