Hati dan Hati-Hati


Pernah seorang bijak bernasehat, “Berhati-hatilah dengan hati. Berhati-hati semenjak di hati, karena bias jadi dari hati tumbuh sebuah pikiran. Berhati-hatilah dengan pikiran, dari sekian pikiran bisa jadi muncul menjadi ucapan. Berhati-hatilah dengan ucapan, karena dari sekian ucapan bisa menjadi tindakan dan perbuatan. Demikian seterusnya, pokoknya berhati-hatilah selalu.” Kenapa apa-apa, dimana-mana, kapanpun, dengan siapapun kita perlu selalu berhati-hati?

Kunci kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lainnya adalah anugerah pikiran yang menumbuhkan kecerdasan. Dengan pikiran dan kecerdasan itulah manusia kemudian memiliki cipta, rasa dan karsa yang mengkristal sebagai budaya dan peradaban. Manusia ada karena berpikir. Manusia ada karena berbudaya. Manusia ada karena berperadaban. Jika demikian halnya, lalu dimanakah posisi hati pada dimensi pikiran, budaya, dan peradaban manusia itu?

Hati, secara fisik hanyalah segumpal darah. Namun dalam dimensi yang lain, hati adalah cermin. Sebagai cermin, hati memerankan tugas untuk merefleksikan taburan berkas-berkas cahaya Ilahi Rabbi. Sebagaimana difirmankan di dalam QS An Nur:35 “Allahunnurussamaawaati wal ardli.” Allah adalah cahaya langit dan bumi. Cahaya itulah penerang hidup, semangat hidup, energi hidup. Cahaya adalah daya hidup. Lihatlah betatapan pohon-pohon, bahkan rerumputan sekalipun bertumbuh ke atas untuk menggapai cahaya.

Lalu kembali ke hati. Hati lebih lengkap disebut sebagai hati nurani. Ketika pertama kali ruh ditiupkan ke dalam jasad manusia, manusia dipersaksikan untuk bersyahadat kepada Tuhannya. “Alastu bi rabbikum, apakah Aku Tuhanmu?” tanya Allah. Manusiapun di alam kandungan itu membenarkan pertanyaan tersebut.

Kemudian bukankah sebagian dari zat-Nya turut ditiupkan bersama tiupan ruh itu? Demikianlah kemudian manusia tercipat sebagai makhluk yang memiliki derivative dari sifat-sifat Allah. Manusia memiliki kasih sayang. Manusia memiliki sifat adil. Manusia memiliki kekuatan. Manusia memiliki kelembutan. Manusia memiliki ketegasan. Semua sifat baik tersebut merupakan turunan dari kemahakasihsayangan Allah, dari kemahaadilan Allah, dari kemahalembutan Allah, dari kemahategasan Allah, dan selanjutnya. Semua sifat-sifat senantiasa dipancarkan Tuhan di setiap saat. Dan hatilah yang menjadi antenna dan pemancar penerima sifat-sifat kebaikan tersebut.

Dikarenakan hati adalah cermin, hati adalah penghubung antara manusia dengan Tuhannya, maka dalam setiap hal yang dilakukan manusia harus berpedoman kepada nilai-nilai yang dipancarkan dari hati. Itulah hati nurani manusia. Dalam berpikir, kita harus berhati-hati. Dalam berucap, kita harus hati-hati. Dalam bertindak kita harus hati-hati. Dalam bekerja, berjalan, makan, minum, bepergian, kita senantiasa harus berhati-hati. Hati dengan hati-hatinya akan membawa kepada keselamatan, kepada kedamaian, kepada ketentraman hidup bagi manusia.

Sebaliknya, jika dalam setiap perilakunya manusia meninggal hati dan tidak berhati-hati, maka yang akan terjadi adalah keserakahan, ketidakadilan, ketidakselamatan, ketidakdamaian, ketidaktentraman, dan lain sebagainya. Intinya jika manusia meninggalkan hati dan tidak mau berhati-hati kesengsaraan hiduplah yang akan dipetiknya sebagaimana ungkapan ngundhuh wohing pakarti.

Tepi Merapi, 3 April 2018

Gambar hati dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s