Mundur Untuk Lebih Maju


Opo yo umum, dikarenakan alasan bahwa suatu penerbit ingin lebih fokus untuk menerbitkan naskah buku dalam wujud digital, terus seandainya ada permintaan untuk menerbitkan naskah buku tersebut dalam wujud cetak kertas, kemudian si penulis buku sama sekali tidak diberikan hak untuk turut menikmati keuntungannya?

Bukan guyonan bukan pula dagelan. Pertanyaan di atas sungguh sebuah fakta yang kami hadapi. Sekitar akhir Januari lalu kami mengirimkan sebuah buku ke sebuah penerbit. Sebenarnya berurusan dengan penerbit tersebut sama sekali bukan untuk pertama kalinya. Tiga tahun silam, kami pernah menerbitkan naskah buku kami melalui grup penerbit yang sama. Berbekal pengalaman dan hubungan baik yang terjalin sebelumnya itulah, kami pertimbangkan kembali untuk meneruskan kerja sama guna menerbitkan naskah buku kami kali ini.

Berselang dua pekan naskah buku kami kirimkan, sebuah email langsung dilayangkan dari perwakilan staf penerbit yang kami tuju. Tanpa uraian panjang lebar, bahkan tanpa ada pernyataan bahwa penerbit tersebut bersedia untuk menerbitkan naskah buku yang kami kirimkan, email tersebut langsung melampirkan draf surat perjanjian. Sungguh terkejut, tetapi sungguh menggembirakan. Perasaan itulah yang sungguh-sungguh kami rasakan waktu itu. Inti dari email tersebut menganjurkan apabila kami menyetujui semua klausul pasal perjanjian yang telah didraf, maka proses penerbitan akan segera dimulai.

Meskipun yakin bahwa email dan pengirimnya tersebut merupakan perwakilan resmi dari penerbit yang kami tuju, namun kami tetap merasa perlu untuk menkonfirmasikannya. Melalui nomor kontak yang disertakan, kami mencoba menghubungi salah seorang perwakilan dari penerbit tersebut. Kami menanyakan proses yang sedemikian cepat, dan sedikit berbeda dengan ketika pertama kali mengirim naskah buku ke penerbit tersebut. Atas pertanyaan tersebut, pihak penerbit menyatakan bahwa procedural penanganan naskah buku yang masuk kini lebih dipersingkat dan dipercepat guna meningkatkan pelayanan yang lebih prima. Tentu saja jawaban tersebut cukup menggembirakan.

Meskipun kami awam tehadap bahasa hukum suatu rancangan kontrak kerja sama, namun beberapa hari berikutnya kami merasa perlu untuk membaca dan mempelajari secara detail serta mendalam terkait draf kontrak yang kami terima. Seacar khusus bahkan kami membandingkan pasal demi pasal, ayat demi ayat, dan klausul demi klausul dengan kontrak serupa yang dulu pernah kami tanda tangani. Dari segi format ataupun urutan pasal per pasal, memang ada yang sedikit berubah namun tidak terlalu mengubah isi kontrak secara keseluruhan.

Namun demikian pada salah satu ayat yang berkenaan dengan pengaturan hak royalty untuk penulis, ada klausul pernyataan yang sedikit aneh bagi kami. “Untuk buku dalam bentuk cetak kertas, Pihak Kedua (Penerbit) tidak memberikan royalty dalam bentuk apapun.” So, bagaimana menurut Panjenengan? Apakah lazim hal sedemikian.

Kamipun tetap berusaha khusnudzon alias positif thinking. Atas draf tersebut kami mencoba Melakukan konfirmasi, adakah ada suatu kesalahan ataukah memang demikian adanya. Jikapun demikian adanya, apakah ada keterangan yang lebih jelas kenapa dirumuskan demikian.

Atas konfirmasi yang kami ajukan, kami mendapatkan penjelasan bahwasanya berkenaan dengan lesunya industry penerbitan, percetakan, dan distribusi buku cetak kertas saat ini, penerbit mengambil kebijakan untuk lebih fokus menerbitkan buku dalam format digital atau e-book.

Bagi kami mendapatkan jawaban tersebut, kami sepenuhnya dapat menerima alasan tersebut. Namun satu hal yang sungguh kami sayangkan, bahwa tidak ada satu pernyataan atau klausul pasal manapun di dalam draf kontrak perjanjian tersebut yang menegaskan hal demikian. Kami mencoba mengusulkan sebuah negosiasi apabila memang alasan tersebut yang menjadi dasar bahwasanya untuk cetak buku kertas penulis tidak diberikan royalti, maka setidaknya kebijakan penerbit untuk lebih fokus mencetak buku dalam format digital sebagaimana dijawab atas klarifikasi kami dituangkan dalam salah satu klausul perjanjian yang ada.

Tidak hanya sampai Melakukan klarifikasi kepada pihak penerbit, kamipun mencoba mendiskusikan hal tersebut dengan beberapa rekan. Ada yang berasal dari kalangan penulis, pengelola penerbitan, bahkan penasehat hukum. Ketika kami kemukakan satu klausul pasal royalty yang aneh tersebut, rata-rata diantara mereka terkejut dan seolah tidak percaya ada rumusan demikian. Sepemahan mereka, sebuah naskah buku akan diterbitkan dalam bentuk cetakan apapun, apakah cetak kertas maupun digital, dalam huruf braille, berbahasa asing dan lain sebagainya tidak dapat menghilangkan hak penulis atas royaltinya.

Kamipun terus berusaha secara proaktif untuk terus melakukan negosiasi atas hak royalti sebagai penulis. Namun dari beberapa kesempatan komunikasi yang kami lakukan, pihak penerbit tetap bersikukuh dengan sudut pandangnya. Bagi mereka draf surat kontrak perjanjian yang diberikan tidak dapat ditawar ataupun diubah. Hal tersebut sudah menjadi kebijakan penerbit yang tidak dapat dinegosiasikan lagi. Di sisi lain, bagi kami selaku penulis, sebuah draf kontrak masih terbuka untuk direnegosiasikan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Setidaknya kami ingin mendengarkan sebuah kepastian jawaban, seandainyapun klausul kebijakn penerbit untuk fokus menerbitkan buku dalam format digital itu tidak dapat diakomodir di dalam kontrak perjanjian, apa jaminan bagi penulis bahwa naskah yang dikirimkan tidak akan dicetak kertas?

Seminggu dua minggu, hingga akhirnya komunikasi alot tersebut berlangsung hingga hampir dua bulan. Kami hingga detik ini masih mencoba mempertahankan sikap khusnudzon kami bahwasanya tidak ada unsur pengelabuhan ataupun pengecohan terhadap kami dari penerbit. Namun atas pertanyaan kami yang cukup krusial tersebut, hingga kami menuliskan catatan ini sama sekali tidak dijawab dan direspon selayaknya.

Hingga akhirnya di hari kemarin kami menuliskan, “Sehubungan dengan diskusi dan komunikasi kita yang stack dan tidak ada jaminan bagi kami mengenai kebijakan untuk fokus penerbitan buku dalam bentuk digital sebagaimana menjadi keberatan kami, maka dengan ini kami mengundurkan diri dari pengajuan penerbitan atas naskah yang pernah kami kirimkan. Mohoan maaf jika ada yang kurang berkenan selama kita saling berkomunikasi. Semoga di lain kesempatan kita bisa bekerja sama. Terima kasih.”

Ya, keputusan untuk mundur itu yang akhirnya kami pilih. Kami berharap kejadian yang kami alami tidak menimpa banyak penulis maupun calon penulis yang lain. Bagaimanapun lesu iklim penerbitan buku di tanah air dengan tantangan dunia digital dan internet pada saat ini jangan sampaikan mengorbankan hak penulis terhadap royaltinya. Sekecil apapun hak royalti tersebut harus diberikan secara wajar. Khawatirnya jika hak royalti diabaikan akan menambah lesu semangat menulis bagi para penulis pemula, terutama untuk buku-buku nonfiksi dan keilmuan. Kami yakin masih banyak penerbit-penerbit lain yang lebih profesional dan bermartabat dalam menjalankan usahanya.

Ada yang kersa urun rembug? Monggo, dipersilakan.

Ngisor Blimbing, 29 Maret 2018

Ilustrasi gambar dipinjam dari link sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Mundur Untuk Lebih Maju

  1. bimosaurus berkata:

    Laah? Mosok mas, ada ‘tanpa royalti’? Kok tak ada penghargaan sama sekali.

    Keputusan mundur untuk lebih maju adalah tepat mas. Ibarat ‘gendewa’ semoga anak panah yang diluncurkan nantinya bisa melesat lebih jauh.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Demikian Mas Bimo, untuk klausul cetak buku dalam bentuk kertas tidak diberikan royalty.
      Memang akhirnya lebih baik mundur dan mencari penerbit lain saja.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s