Ilmu Agama Ilmu Umum


Sebagaimana kebiasaan Cak Nun ketika melingkar bersama dengan masyarakat umum pada forum pengajiannya, saat Ngaji Bareng Cak Nun Kiai Kanjeng dalam rangka Milad Pondek Pesantren Al Iman di Muntilan pecan silam, ia juga mengajak beberapa perwakilan dari hadirin untuk naik ke atas panggung dan berdiskusi sejenak. Beberapa perwakilan seperti santri, para ustadz, bahkan Pak Kapolres, berkesempatan mengikuti workshop kecil-kecilan.

Ketika tiba giliran salah seornag santri, Cak Nun mengajaknya santri tersebut untuk memprosentasi berapa persen pendidikan agama yang diajarkan di pondok, dan berapa persen pendidikan umum yang diajarkan. Si santri kemudian mengungkapkan bahwa pendidikan yang ia terima di pondok meliputi pendidikan agama, seperti tajwid, hadist, tarikh nabi, nahfu shorof, dakwah, bahasa Arab, dsb. Adapun pendidikan untuk umum diberikan  Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Biologi, Ekonomi, dan lain-lainnya menurut tingkatan ibtidaiyah, tsanawiyah, hingga Aliyah. Jadi menurut santri tersebut baik pendidikan agama maupun umum di pondok diberikan secara seimbang.

Cak Nun mengejar dengan sebuah pertanyaan, “Menurut Antum Matematika itu ilmu agama atau ilmu umum?”

“Ilmu umum Cak, ” jawab si santri dengan mantap.

“Jika empat dikali empat di dalam ilmu Matematika hasilnya berapa?” Cak Nun melanjutkan pertanyaan.

“Enam belas, ” si santri dengan tengkas menjawab.

Cak Nun kembali menukas, “Empat kali empat sama dengan enam belas itu berlaku dimanapun. Ketika kamu di sekolah SD, empat kali empat sama dengan enam belas. Di SMP, SMA, perguruan tinggi, di pasar, di kantor Pak Bupati, di istana Presiden sekalipun empat kali empat akan tetap istikomah sama dengan enam belas. Bahkan ketika kamu ditodong dengan bedil, dalam keadaan terancam jiwa dan ragamu, empat kali empat ya tetap enam belas!”

Namun ketika pertanyaan sampai kepada, “Seandainya kamu dihadapkan pada uang dua milyard untuk mengatakan bahwa empat kali empat tidak sama dengan enam belas, apakah kamu mau?”

Si santri dengan tanpa ragu dan berteriak lantang menjawab, “Mau Cak!” Semua hadirin tertawa lebar mendengar jawaban spontan nan manusiawi tersebet.

Cak Nun menggaris-bawahi bahwasanya matematika sebagai sebuah disiplin ilmu merupakan sebuah contoh kesucian dan keistikomahan. Kesucian  dan keistikomahan dalam konteks matematika bisa disamakan dengan konsistensi. Dengan kesucian dan keistikomahan tersebut sejatinya Matematikapun mengajarkan kepada nilai agama. Jadi mau matematika, kimia, biologi, fisika, atau ilmu apapun, dia menjadi ilmu agama atau bukan bukan bergantung pada substansi pokok bahasan disiplinnya, melain justru terletak bagaimana manusia yang mempelajarinya memberikan makna, menghikmahi agar dengan ilmu yang sedang dipelajarinya dijadikan sarana untuk menggapai ridla Allah dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Pembagian, bahkan dikotomi, antara ilmu dunia dan ilmu agama merupakan cara pandang masyarakat barat yang sekuler. Dalam ajaran Islam, kehidupan dunia dan akhirat satu sama lain saling terkait dan tidak terpisahkan. Kita diperintahkan untuk beramal baik di dunia dalam rangka menggapai kemuliaan abadi di akherat kelak. Makanya hal yang paling bijak dilakukan oleh ummat Islam adalah mengakheratkan dunia dan menduniakan akhirat. Setiap hal yang kita lakukan niatkanlah sebagai amalan ibadah. Sebaliknya setiap nilai-nilai agama yang bersifat keahiratan harus bias kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Hadirinpun manggut-manggut dengan uraian dari Cak Nun tersebut.

Ngaji Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng memang sebuah forum pengajian yang didesain lain daripada yang lain dibandingkan dengan forum serupa dimana hadirin hanya diposisikan secara pasif sebagai pendengar. Apapun nasehat dan pendapat para ustadz atau kiai yang medhar sabdo tidak dapat dipertanyakan apalagi diganggu gugat. Sangat berbeda dengan pola ngaji yang dikembangkan Cak Nun dimana hadirin diajak secara aktif dan proaktif untuk turut berdiskusi, menyampaikan pendapat, boleh setuju ataupun menyangkal uraian dari penceramah. Dengan demikian di samping sedang menebarkan nilai-nilai agama, forum tersebut sekaligus menjadi wahana pengembangan demokratisasi bagi kalangan akar rumput ummat agama kita.

Tepi Merapi, 23 Maret 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s