Tembakau Yang Semakin Tidak Kurup


Benar sekali pepatah Arab, “Bermusafirlah, maka cakrawala pengetahuan kita akan semakin luas.”  Ketika kita bepergian, banyak orang kita jumpai, banyak tempat kita singgahi, banyak kejadian kita saksikan. Dari banyak orang, banyak tempat, banyak kejadian tersebut tentulah akan banyak pula tambahan pengalaman dan pengetahuan kita. Maka tidaklah mengherankan jika status seseorang yang sedang beperjalanan tersebut mendapatkan banyak keistimewaan dan keringanan-keringanan, bahkan dalam hal melaksanakan ibadah tertentu.

Demikianlah hal yang saya alami. Sekian kali beperjalanan antar kota antar provinsi dengan kendaraan umum, terutama dengan armada bus maupun kereta api telah membawa banyak tambahan pengetahuan-pengetahuan baru yang sungguh luar biasa. Sebagaimana senja itu, saya bersebelahan dengan seorang kawan seperjalanan yang rupanya adalah seorang petani tembakau tulen dari wilayah Temanggung.

Seperti halnya perbincangan selayaknya orang ketimuran, kita cukup membuka percakaban dengan sedikit bertanya kemana tujuan orang di samping kita tersebut. Dari sanalah kemudian mengalir seribu satu cerita dan kisah mengharu-biru nan menggebu-gebu dengan penuh rasa paseduluran yang sungguh kental. Tanpa dibuat-buat, alamiah, dan apa adanya. Sebuah kewajaran hidup yang semakin ditinggalkan oleh kebanyakan manusia modern yang justru semakin tertutup ketika bertemu muka, namun mengobral segala kisah hidup di media social.

Ketika Bapak setengah baya di samping tempat duduk saya kala itu mengaku sebagai warga Temanggung, tentu sangatlah wajar ketika kemudian saya menghubungkan perbicangan ringan kami dengan komiditas tembakau. Temanggung memang merupakan suatu daerah penting dalam peta produsen tembakau. Tidak saja hanya di masa sekarang, tembakau Temanggung telah terkenal semenjak masa tanam paksa hadir untuk menggenjot komoditas  yang sangat laku keras di pasaran Eropa tersebut. Tembakau Temanggung juga turut merajai bursa komoditas tembakau dunia yang berpusat di Bremen, Jerman dari masa ke masa.

Selepas masa tanam paksa itu, bahkan sebuah jalur rel kereta api khusus dihubungkan dari Temanggung menuju Semarang maupun Jogja, salah satu tujuannya adalah mengangkut tembakau. Tembakau pulalah yang kemudian mengangkat derajat kesejahteraan para petani di kawasan lereng Sumbing dan Sindoro. Ketika memasuki musim kemarau, bentangan tegalan berubah menjadi lautan hijau daun tembakau yang membawa aroma khas nan mempesona.

Tak seberapa lama kemudian daun-daun tembakau itupun matang, dipetik, dirajang, dijemur, untuk kemudian rajangan tembakau yang telah kering dikemas dalam keranjang berbalut pelepah kering batang pisang untuk kemudian dijual dan dikirimkan ke berbagai tempat tujuan. Tentu saja selain diekspor bentuk tembakau rajangan kering, tembakau-tembakau itu sekaligus menjadi bahan baku utama yang dipasok untuk banyak pabrik rokok yang tersebar di berbagai wilayah. Masa panen raya adalah masa kaum petani memenuhi pundi-pundi uangnya. Masa dimana berkah tembakau dirasakan sebagai sumber penghidupan yang layak untuk senantiasa diperjuangkan. 

Untuk tembakau, lain musim kemarau yang panjang dengan curah sinar matahari yang merata, lain pula masa dimana musim kemarau disertai banyak curahan hujan. Hujan yang turun menjadi penghalang pengeringan tembakau pasca proses perajangan yang masih sangat mengandalkan sinar matahari. Rajangan tembakau itupun tidak dapat kering secara maksimal dan akibatnya tentu merosotnya harga jual. Pun demikian, serendah-rendahnya harga jual tembakau dengan beragam kualitas akibat proses pengeringan yang tidak maksimal itupun masih tetap membawa kelimpahan rejeki karena tidak ada kisah tembakau tidak laku dijual. 

Kisah masa keemasan tembakau yang membawa keberkahan limpahan rejeki bagi masyarakat Temanggung kini tidak sepenuhnya terjadi di setiap masa panen raya tembakau. Siklus musim pancaroba yang semakin tidak terprediksi menyebabkan seolah alam tidak sepenuhnya bersahabat dengan para petani tembakau. Di saat-saat demikian, harga tembakau yang tidak kering secara maksimal langsung merosot harga jualnya. Bahkan hal yang paling pahit adalah tembakau tersbeut tidak laku jual sama sekali. Tembakau terbaikpun tidak dapat dijual maksimal sebagaimana masa-masa beberapa waktu lalu. “Tembakau semakin tidak kurup Mas, ” demikian ungkapan Bapak di samping saya senja dalam perjalanan bus yang kami tumpangi.

Kurup yang dimaksukan Bapak tersebut artinya tidak lagi laku jual secara layak. Kata itupun juga mengungkapkan bahwa harga tembakau sudah tidak lagi dapat dijadikan sandaran penghidupan bagi para petani penanamnya. Sekian ton tembakau hasil panenan hanya laku dijual separuh, bahkan lebih kecil dari harga beberapa dekade silam. Segunung tembakau kering tidak lagi dapat digantikan dengan uang yang setara dengan biaya pengolahan lahan, bibit, perawatan, panen, pengolahan, dan pengemasannya. Intinya keuntungan para petani dari tanaman tembakaunya semakin kecil. Uang hasil penenan tidak lagi aji alias berharga sebagaimana yang dulu. Inflasi tidak hanya melanda nilai mata uang, tetapi dialami juga oleh tembakau Temanggung.

Keadaan demikian menurut Bapak yang berbincang dengan saya tersebut tidak sepenuhnya karena kondisi musim maupun mekanisme pasar yang lebih berpihak kepada pengepul dan pedagang besar. Hal tersebut juga sangat terkait dengan komitmen dan kebijakan pemerintah setempat untuk berpihak kepada petani. Ia juga mengenangkan kondisi yang demikian tidak pernah terjadi di masa kepemerintahan bupati yang sebelumnya.

Tembakau tidak lagi kurup. Inilah fakta jaman yang harus dihadapi petani tembakau Temanggung dan sekitarnya. Hal yang serupa nampaknya juga menimpa petani-petani yang lain dengan komoditas yang berbeda. Ya petani padi, ya petani sayuran, ya petani buah dan lain sebagainya. Keadaan tersebut semakin bertambah parah manakala keperbihakan pemerintah kepada petani kita semakin lemah, terutama dengan semakin membanjirkan komoditas hasil pertanian impor dari negara lain. Akankah kondisi demikian akan segera berakhir? 

Tepi Merapi, 21 Maret 2018

Gambar lading tembakau dipinjam dari situs sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Tembakau Yang Semakin Tidak Kurup

  1. sambalpetir berkata:

    Tidak kurupnya tembakau mungkin salah satu faktornya adalah kampanye anti rokok sehingga jumlah perokok semakin berkurang efeknya ke petani tembakau.. 😊

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Yakin jumlah perokok berkurang? Kalaupun pangsa pasar di dalam negeri berkurang, setidaknya komoditas tembakau kita bukannya laku keras di pasaran ekspor?

      Suka

  2. PT Hebros berkata:

    temanggung negri tembakau

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s