Silaturahmi Tanpa Batas


Sekiranya Tuhan memperjalankan kita untuk bersilaturahmi, bahkan dengan manusia dan hamba Tuhan yang baru diperkenalkan pada suatu kesempatan, lapangkah dan ikhlaskah kita? Ketika seseorang yang bersama kita dalam sebuah perjalanan mengundang untuk menghadiri tasyakuran anaknya yang semata wayang, apakah kemudian kita rela menyempatkan diri untuk menghadirinya?

Bukan sanak, bukan saudara memang. Tahu namanya juga sepintas lalu. Tahu alamatnya juga sebatas gambaran umum. Tanpa undangan juga sebagaimana umumnya seseorang mengundang untuk suatu acara resepsi. Tetapi sebagai sesama manusia, sesama makhluk Tuhan, alangkah indahnya ketika kita berkesempatan untuk turut larut dalam kebahagiaan mereka. Inilah salah satu wujud silaturahmi tanpa batas. Pernah punya pengalaman yang serupa? Kisah ini merupakan kelanjutan dari cerita Sosok Muhammad dan Khadijah di Gerbong Kereta beberapa waktu lalu.Bagaikan dongeng seribu satu malam. Agak sulit dipercaya, namun benar-benar sebuah kenyataan. Bukan sebuah lelucon, namun ada kisah kocak di balik kondangan kami di akhir pecan lalu. Berawal dari teman seperjalanan kereta Progo dari Jogja-Jakarta, suami-istri Pak Sukarni – Bu Saminah mengundang secara lisan untuk menghadiri resepsi pernikahan putrinya yang semata wayang.

Dengan berbekal ancer alamat yang diceritakan berada di sekitar Stasiun Taman Kota ke arah TPU Bismol, kamipun merasa wajib untuk memenuhi amanah undangan tersebut. Dengan bantuan dari Google Maps, kami sempat memastikan ancer-ancer itu. Pada hari H, sayapun berkendara motor menyusur jalanan Daan Mogot. Sekilas menuju ke arah Stasiun Taman Kota, terlihat beberapa janur melengkung. Beberapa penjor sebagai petunjuk arah ke sebuah perhelatan resepsi pernikahan. Rupanya di daerah tersebut pada hari yang sama beberapa keluarga melaksanakan hajatannya. Untung sungguh untung satu diantara penjor janur tersebut mencantumkan nama yang kami lacak.

Ketemu satu petunjuk arah tentu bukan otomatis perjalanan kami sampai di tujuan. Kami menyusuri jalanan di sekitar stasiun untuk memastikan keberadaan rumah keluarga berbahagia yang tengah kami cari. Ketika pada suatu perempatan selanjutnya terdapat sebuah penjor lagi, kami tentu girang. Ternyata tulisan pada penjor itu sudah terlepas dan jatuh tepat di bawah janur yang melengkung tersebut. Ketika istri sempat memungut dan membaca tulisannya, ternyata nama yang ada bukanlah nama yang kami cari.

Untung punya untung, Tuhan memang Maha Luar Biasa, tak jauh dari perempatan tersebut ada seorang satpam perumahan yang melihat kebingungan kami. Ketika kami menanyakan rumah yang yang kami tuju dengan menyebutkan nama Pak Karni, satpam tersebut dengan penuh pasti menunjuk ke satu arah. Kamipun mantap mengikuti petunjuk tersebut, hingga pada sebuah gang kami temukan kembali janur melengkung yang menggantungkan nama yang kami cari.

Tepi Merapi, 12 Maret 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s