Kun Anta: Tuan Rumah Diri Sendiri


Manusia lahir dengan bekal akal pikiran yang kemudian membedakannya dengan makhluk Tuhan yang lain, seperti tumbuhan dan binatang. Dengan akal dan pikirannya itulah, sejatinya manusia memiliki peluang ikhtiar untuk menentukan arah dan tujuan hidupnya. Jika malaikat dan iblis adalah makhluk kepastian dimana malaikat berkepastian dengan ketaatan dan kebajikan, sedangkan iblis merupakan makhluk dengan kepastian kekufuran dan kemunkaran, manusia memiliki pilihan untuk taat dan beramal kebajikan sebagaimana malaikat ataupun berlaku kufur dan munkar sebagaimana iblis. Manusia berpeluang menjadi semulia-mulianya makhluk ataupun serendah-rendahnya derajat makhluk Tuhan. Manusia pada dasarnya menyandang gelar sebagai makhluk merdeka. Bahkan kehadirannya di alam dunia mengemban tugas mulia untuk mengkhalifahi bumi.

Dik Doank

Sebagai khalifah, manusia mengemban amanah kepemimpinan yang langsung dititahkan dari Tuhan. Kemerdekaan atau independensi peran kekhalifannya tentu saja memiliki keterbatasan berupa koridor-koridor qadla dan qodar-Nya. Manusia dengan segala kelebihan akal serta pikirannya diperkenankan mengolah pikir, merencanakan, merancang, melaksanakan usaha untuk memenuhi kebutuhan maupun keinginannya. Namun satu ketentuan mutlak yang tidak dapat dielakkan bahwasanya sehebat-hebatnya manusia berpikir, berencana, dan berusaha, hasil akhir dari usaha tersebut akan kembali kepada takdir Tuhannya. Dengan demikian, indenpendensi manusia tetap dalam batasan hubungan vertikal dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.

Perkembangan peradaban manusia dengan dukungan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, di satu sisi justru telah menurunkan derajat independensi manusia. Hal tersebut terjadi apabila ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut tidak lagi sekedar dijadikan sebagai alat dan sarana untuk mencapai tujuan, tetapi justru telah menjadi parameter nilai bahkan tujuan hidupnya.

Orang-orang di masa lima belas dua puluh tahun yang lalu belum mengenal peralatan komunikasi canggih sebagaimana smartphone. Saat ini hampir semua orang menggunakan smartphone dalam kegiatannya sehari-hari. Sekali keluar dari rumah tanpa membawa smartphone, orang merasa ada yang kurang bahkan tidak sedikit yang langsung merasa celaka seoalah dunia mau kiamat. Tidak bisa menghubungi ataupun dihubungi siapapun. Bumi seolah seketika berhenti berputar. Dalam posisi demikian, manusia menjadi sangat berketergatungan kepada smartphone. Manusia tidak lagi menjadi bebas, menjadi independen,  menjadi merdeka terhadap smartphone.

Kasus smartphone di atas hanyalah salah satu contoh betapa manusia saat ini semakian kehilangan kemerdekaannya. Parameter ketergantungan duniawi di luar smartphone tentu saja sangat banyak, seperti harta, tahta dan jabatan, dan tentu saja soal wanita.

Semangat kemerdekaan jiwa raga, lahir serta batin manusia semestinya meletakkan segala sesuatu di luar Tuhan hanya sebatas sebagai sarana, metode, alat, maupun cara untuk melaksanakan tugas kekhalifahan di muka bumi. Kemudian amanat kekhalifahan tersebut merupakan manifestasi ketaatan dan kepatuhan manusia selaku hamba Tuhan. Inilah jati diri, identitas, kepribadian yang sejati dari seorang titah yang bernama manusia. Manusia yang merdeka, sebagaimana digambarkan di dalam Al Quran sebagai sosok insan kamil, merupakan manusia yang menjadi tuan rumah bagi dirinya sendiri. Manusia yang mampu mengendalikan segala nafsu dan syahwatnya dan di sisi yang lain tetap memegang dengan teguh ketaatan serta kepatuhan kepada Tuhannya.

Menjadi tuan rumah bagi diri sendiri bermakna bahwa manusia tidak dijajah oleh nafsu, syahwat, keinginan, angan-angan, cita-cita, kebutuhan dan lain sebagainya yang bertentangan dengan koridor ketaatan dan kepatuhan kepada Tuhan. Sosok manusia-manusia paripurna inilah yang kini dari hari ke hari semakin langka dan sulit ditemukan.

Dalam ulasan Kenduri Cinta Edisi Maret 2018 dengan tema Tuan Rumah Diri Sendiri, Cak Nun mengemukakan bahwasanya terhadap kecukupan uang saja kita semakin tidak independen pada hari ini. Jika kita diberikan uang sepuluh ribu rupiah, pada saat yang sama kita sudah langsung merasa tidak cukup karena kita sudah berpikir tentang dua puluh ribu rupiah. Diberi satu juta, kita justru memikirkan dua juta rupiah. Betapa laju keserakahan dan ketidakpuasan manusia jauh melebihi rasa bersyukurnya.

Akan sangat berbeda ketika sedari awal kita mematok kecukupan kebutuhan kita di angka seribu rupiah misalkan. Ketika benar-benar mendapat seribu rupiah, kita merasa cukup dan bersyukur. Apabila kemudian diberi dua ribu rupiah, kita merasa sangat tercukupi. Ketika rejeki itu semakin dilipatgandakan, kecukupan yang kita rasakan akan semakin berlipat ganda pula. Bukankah Allah berjanji barangsiapa mensyukuri setiap rejeki pemberian-Nya, maka rejeki itu akan semakin ditambah, dilipatgandakan dan diberikan melalui kemungkinan-kemungkinan cara serta jalan yang tidak dapat kita duga-duga.

Ketika baru dilantik menjadi lurah, si lurah sudah berambisi bagaimana menjadi camat. Seorang camat tidak fokus terhadap tugasnya selaku camat karena siang malam ia senantiasa berpikir keras bagaimana caranya menjadi bupati. Bupati ingin menjadi gubernur, gubernur ingin menjadi menteri, demikian seterusnya. Manusia lebih terfokus terhadap hak yang akan didapatkannya jika ia meraih sesuatu daripada melaksanakan dengan sebaik-baiknya kewajiban yang melekat pada dirinya.

Kaya, tinggi, besar, hebat, dalam kenteks keduniaan adalah parameter-parameter kesuksesan manusia saat ini. Kita semakin melupakan dan tidak percaya dengan parameter kesejatian, seperti keimanan, ketaatan, kepatuhan, ketaqwaan dan lain sebagainya. Kun anta, jadilah diri sendiri. Kembalilah menjadi diri pribadi yang merdeka dan menjadi tuan rumah bagi diri sendiri. Monggo.

Ngisor Blimbing, 10 Februari 2018

Foto dipinjam dari FB Munzir Madjid

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s