KTP e-KTP


Tahun 2012 saya mengikuti proses perekaman data untuk pembuatan e-KTP. Ketika setahun kemudian pindah domisili ya belum pegang e-KTP. Setelah kepindahan hanya dibuatkan KTP biasa. Sekian lama bolak-balik ngurus itu e-KTP, e tak kunjung juga tercetak. Dua kali sempat menerima surat keterangan pernyataan sudah rekaman data e-KTP. Setelah lebih dari lima tahun terlewati, barulah nongol itu e-KTP. Mungkin e-KTP saya mampir-mampir, atau sempat terbawa para pengembat anggaran e-KTP. Saya sendiri tidak paham hingga saat ini.

Awal kisahnya begini Saudara. Tahun 2012 saya mengikuti proses perekaman data untuk pembuatan e-KTP. Kebetulan juga bulan-bulan itu berbarengan dengan masa berlaku KTP saya habis. Konon waktu itu dikarenakan proses perekaman e-KTP dilakukan serentak di seluruh Indonesia dan adanya keterbatasan peralatan maupun personil pendukung, maka diberitahukan bahwa e-KTP harus menunggu pencetakan hingga masa satu tahun.

Ketika saya mengurus perpanjangan KTP lama, saya kemudian dibuatkan KTP biasa sebagai pengganti. Soal NIK segala macam, tentu saya tidak paham. Ternyata dari titik inilah, dalam perjalanannya saya kemudian sempat memiliki beberapa NIK yang berbeda-beda. Jadilah saya masih tetap punya KTP resmi yang saya urus secara resmi, di kantor pemerintah yang resmi pula, dan yang pasti saya urus langsung tanpa perwakilan apalagi menggunakan jasa calo pihak ke tiga.

Setahun berselang saya pindah domisili. Lain kabupaten/kota, bahkan lain provinsi. Saya secara taat da sadar mengurus segala keperluan pindah secara resmi. Mulai surat pengatar desa, kecamatan, SKCK, saya urus sendiri hingga ke Kantor Kependukukan dan Catatan Sipil. Ketika pindah saya membawa segepok surat pengantar yang ditujukan mulai kepada gubernur, walikota, camat, hingga lurah di tempat baru dimana saya akan pindah.

Berbarengan dengan proses pengurusan kepindahan, e-KTP saya terbit. Tentu saja tidak ada gunanya karena data domisili tempat tinggal saya akan segera berganti dengan kepindahan saya sebagaimana saya ceritakan di atas. Maka pada saat pengurusan ke Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil asal, e-KTP itupun dicabut dengan digantikan berbagai surat pengantar kepindahan tadi. Demikian halnya dengan Kartu Keluarga dimana saya masih menjadi satu bagian dari keluarga orang tua juga diperbarui sehingga tidak lagi tercantum nama saya.

Di daerah kepindahan, sayapun mengurus proses kepindahan secara resmi, melalui kantor resmi, jalan sendiri dan tanpa calo. Mulai dari surat pengantar RT/RW, kelurahan, kecamatan, hingga kemudian proses pengurusan ke Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil daerah tujuan kepindahan. Menjawab surat kepindahan saya dari daerah asal, saya menerima berkas surat pindah datang untuk pemprosesan pembuatan KTP dan Kartu Keluarga. Anehnya NIK saya di surat pindah daerah asal dengan srat pindah datang berbeda.

Prosespun berulang kembali, mencari surat pengantar RT/RW, keluarahan, kecamatan, dan masuk kembali ke Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil. Demikian ruwetnya lika-liku birokrasi yang harus saya lalui.

Saya sendiri heran setengah mati. Kenapa prosesnya masih harus mbelit bin ruwet. Katanya NIK sudah nasional. Katanya sistemnya sudah online dan terintegrasi. Rupanya semua itu hanya jargon dan berita angina surga yang terlalu digembar-gemborkan media massa.

Lagi-lagi, ketika pengurusan itu ternyata ketidak-siapan pencetakan e-KTP menjadikan saya hanya diberikan KTP biasa. Anehnya lagi NIK berubah untuk ke dua kalinya. Ketika pertama kali menerima berkas draf KTP dan Kartu Keluarga, saya sempat menanyakan kepada petugas kok NIK bisa berubah? Katanya sudah nasional? Katanya berlaku untuk seumur hidup? Bla…bla…bla… segala rupa pertanyaan saya ajukan.

Singkat cerita keterangan dari petugas tersebut menyatakan hal itu bisa saja terjadi karena pada saat itu sistemnya belum sepenuhnya berjalan secara online dan dapat diandalkan validitasnya. Akhirnya ya sudah, saya narimo ing pandum. Lha bagaimanapun saya kan mengurus secara resmi procedural. Masak saya tidak mempercayai keterangan dari aparatur negara yang profesional?

Selang dua tahun di tempat tinggal yang baru akan diselenggarakan pilihan gubernur. Masyarakat dihimbau untuk mengurus e-KTPnya. Sayapun sebagai warga negara yang baik berusaha melaksanakan himbauan tersebut dikarenakan memang e-KTP saya belum terbit hingga saat itu. Ketika mengklarifikasi data kependudukan saya lewat layanan mobil Dukcapil, ada keanehan data terbaca. Data istri saya ada, namun data saya tidak ada atau tidak tercatat sebagai penduduk.

Dalam suasana antusiasme warga yang tinggi untuk mengurus e-KTP, masyarakat menjadi berjubel mendatangi kantor kecamatan. Bahkan ketika saya mengurus di kecamatan kami, pagi mengambil nomor antrian baru mendapatkan pelayanan jam 10 malam. Sekian lama antri dan menunggu ternyata hasilnya nihil. Data kependudukan saya tidak tercantum di data online Dinas Dukcapil setempat. Saya disarankan untuk mengklarifikasi langsung ke Dinas langsung.

Beberapa hari berselang sayapun mengurus data kependudukan ke Kantor Dinas Dukcapil. Ternyata hasilnya bertambah mengecewakan. Data saya memang tidak tercantum di database online. Setelah ditelusuri ternyata saya dinyatakan belum melakukan kepindahan domisili dan secara formal masih merupakan warga di daerah asal. Petugas bahkan menyudutkan saya mengurus kepindahan melalui jalur tidak resmi alias menggunakan jasa calo. Saya tentu saja mengelak semua tuduhan itu.

Lalu solusi seperti apakah yang diberikan oleh petugas tersebut? Saya harus mengulang proses kepindahan dari daerah asal. Bagaimana mungkin lagi hal itu saya lakukan. Secara formal saya sudah bukan lagi warga di daerah asal. KTP tidak punya, di Kartu Keluarga sudah tidak tercantum. Bagaimana cara mengurusnya. Pokoknya si petugas tidak mau tahu. Saya hanya berpikir, kenapa tidak dari petugas tersebut menghubungi Kantor Dukcapil daerah asal saya saja. Kan keduanya sudah terkoneksi secara online dan bisa lebih cepat saling berkoordinasi. Tapi itulah fakta birokrasi kita yang tidak mau tahu dengan kesulitan warga.

Sempat beberapa minggu saya mutung. Berkas-berkas administrasi yang selama ini saya urus saya taruh begitu saja. Hingga kemudian ada ide. Daripada susah-suah pulang kampung, mengurus surat pengantar thethek bengek yang melelahkan, makan waktu, makan biaya, dan pastinya makan hati, sayapun berinisiatif membuat surat yang langsung saya tujukan kepada Kepala Dinas Dukcapil daerah asal saya. Saya sertakan narasi cerita dan kronologis masalah yang saya hadapi, beserta dengan kopian surat-surat resmi yang pernah terbit baik dari daerah asal maupun daerah tujuan kepindahan. Alhamdulillah, tidak berselang dua minggu surat itupun bersambut. Saya mendapatkan kiriman surat balasan dan surat kepindahan baru. Rupa-rupanya saya telah menajdi korban dari kecerobohan yang disengaja oleh beberapa oknum yang seenak wudelnya sendiri mengganti NIK.

Dengan surat pengantar kepindahan yang baru, saya kembali mengulang mengurus KTP dan Kartu Keluarga yang baru. Hingga di titik itupun saya belum mendapatkan e-KTP. Saya baru mendapatkan surat keterangan telah melakukan perekaman data e-KTP. Dua kali pernah mendapat surat keterangan tersebut, tentu saja saya malas untuk memperpanjangnya lagi setiap enam bulan. Sebulan menjelang berakhirnya masa berlaku KTP biasa saya, barulah kabar baik itu datang. e-KTP saya sudah tercetak dan diantar tetangga. Apesnya e-KTP istri belum jadi hingga hari ini.

Welha dalah, demikian berlikunya urusan e-KTP di negeri ini. Maka betapa sak tumpuk undung, bagaikan melebihi tujuh gunung, tujuh samudera, tujuh semesta, para pejabat yang turut terlibat menilap uang rakyat untuk proyek e-KTP tersebut. Semoga mereka segera dihukum dengan seadil-adilnya.

Ngisor Blimbing, 6 Maret 2018

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s