Sosok Muhammad dan Khadijah di Gerbong Kereta


Kereta baru melaju empat puluhan menit meninggalkan Jogja. Stasiun persinggahan pertama di Wates sudah di depan mata. Tak selang berapa lama, kereta melambat dan berhenti di salah satu jalur peron yang kosong. Beberapa penumpang yang bisa dihitung dengan jari naik ke gerbong kereta. Saya yang sedari Jogja duduk sendirian di kursi deretan tiga penumpang yang saling berhadapan seketika itu mendapatkan kawan seperjalanan. Seorang ibu-ibu usia lewat tengah baya dan seorang lelaki yang saya duga adalah adik atau saudaranya.

Kamipun saling bertegur sapa seperlunya. Keduanya nampak sangat kelelahan. Sependek cerita pembuka di perjalanan, mereka berdua baru tiba di Wates pagi sebelumnya dan harus segera kembali ke Jakarta di sore itu. Tak seberapa lama, keduanyapun terlelap tidur dalam duduk karena keletihan yang seolah tidka tertahankan. Sayapun mafhum adanya dan sebisa mungkin tidak ingin menganggu kedua yang memang sangat memerlukan istirahat jiwa dan raga.

Gemeretak besi roda kereta menjadi teman keheningan dalam perjalanan senja itu. Selepas waktu Maghrib tiba, kereta menjelang tiba di Purwokerto. Kedua kawan seiring seperjalanan saya itupun terbangun. Si Lelaki membangunakan si Ibu-ibu. Kesegaran meski sedikit nampak telah terbit di wajah-wajah mereka. Kelelahan dan keletihan yang semula mendera sedikit sudah terobati.

Tanpa menunggu terlalu lama, keduanya segera membuka bekal yang mereka wadahi dalam kantong-kantong plastik kresek. Keduanya ternyata berpuasa sunnah di hari itu. Hari itu memang Hari Kamis. Saya hanya bisa tertegun dan takjub dengan kedua orang hamba Tuhan yang taat dengan amalan Sunnah Kanjeng Nabinya itu. Sungguh luar biasa, meskipun bermusafir dan dalam perjalanan yang tidaklah pendek keduanya istikomah dengan amalan sunnahnya. Aura kesholehan itupun segera terpancar dari kedua raut muka keduanya.

Kamipun kemudian berbarengan menikmati bekal masing-masing dengan diselingi obrolan ringan. Obrolan ngalor-ngidul sesama penumpang kereta yang disatukan dalam satu gerbong pada bangku kereta yang berhadap-hadapan.

Berhubung perjalanan kami bukanlah perjalanan di akhir pekan maupun di hari liburan, jadilah penumpang kereta saat itu tidak terlalu banyak. Banyak sekali tersisa-sisa bangku penumpang yang kosong melompong tanpa penumpang. Si Lelaki yang bersama Ibu itupun berinisiatif untuk pindah ke deretan bangku kosong untuk bisa selonjoran lebih leluasa. Tinggallah si Ibu yang kemudian berbincang banyak hal dengan saya.

Kisah punya kisah, cerita punya cerita, si Ibu tersebut bertutur bahwa lelaki yang bersamanya itu bukanlah adik ataupun saudaranya yang lain. Ia adalah suaminya. Sayapun baru nyambung kenapa semenjak awal si Ibu tersebut memanggil si Lelaki dengan sapaan Pak. Namun sungguh saya sedikit terkaget dengan pernyataan ibu tadi. Tanpa perlu saya tanya ia memberikan penjelasan. Ia dan suaminya memang terpaut beda usia yang cukup banyak. Dulu sewaktu nikah, ia sudah 40 tahun sementara suaminya baru 25 tahun. “Kayak Nabi Muhammad dan Siti Khadijah kan Mas?” candanya sambil tersenyum.

Saya sendiri anak ke dua dan adik-adik saya banyak Mas. Selepas remaja saya nekad merantau ke Jakarta. Saya yang bodho buta hurup tidak punya ijasah SD. Namun Gusti Allah berkenan memberikan kerja di pabrik yang seharusnya hanya menerima lulusan SMP/SMA. Pas saya dites, ternyata saya bisa . Mereka tidak percaya bahwa saya tidak lulus SD, dan akhirnya mau menerima saya sebagai buruh. Dari gaji buruh itulah Mas saya kirimkan uang untuk simbok dan adik-adik di kampung. Saking sibuknya memikirkan keluarga dan adik-adik, saya tidak sempat berpikiran untuk berkeluarga hingga usia yang kasep, “ si Ibu yang kemudian saya ketahui bernama Saminah tersebut semangat berkisah.

Ia melanjutkan kembali, “Ketika sudah usia empat puluh suami saya itu mengutarakan niat untuk berumah tangga dengan saya, saya sempat ragu dan tidak percaya. Ia yang masih sangat belia kok mau-maunya ingin nikah dengan saya. Namun ia menegaskan bahwa dirinya tidak mencari rupa yang cantik ataupun gadis yang kaya. Yang terpenting hatinya baik, orangnya baik, tahu dan taat beragama. Saya hanya berpikir mungkin inilah jalan perjodohan saya. Akhirnya sayapun terima lamarannya dan alhamdulillah awet sehingga sekarang.”

Ia juga mengisahkan ketika pihak pabrik mengetahui rencana pernikahannya, ia dipanggil ke bagian personalia. Bu Suminah sempat khawatir apakah dirinya memiliki kesalahan dan akan diberhentikan. Rupanya mereka merasa heran dengan usia calon suaminya. Mereka meminta di keesokan harinya calon suaminya tersebut dibawa menghadap ke pabrik.

Ketika pada keesokan harinya calon suaminya diajak ke pabrik, barulah jelas permasalahannya. Pihak pabrik menanyakan apa pekerjaan calon suaminya. Mereka justru memberikan penawaran agar calon suaminya mau bekerja di pabrik yang sama. Namun rupanya calon suaminya tersebut tidak mau. Ia merasa lebih nyaman menjadi buruh bangunan yang tidak terlampau terikat dengan waktu dan rutinitas pabrik yang ketat. Ya, hingga kini Pak Karni, suami Bu Saminah tersebut tetap menekuni kerja sebagai buruh atau tukang bangunan. “Alhamdulillah, pakne itu orang yang temen dan benar-benar bertanggung jawab kepada keluarga. Tidak pernah neko-neko dan aneh-aneh Mas,” Bu Saminah memberikan penilaian atas kesetiaan suaminya.

Di sepanjang perjalan itupun kisah lika-liku kehidupan Bu Saminah dibabar tuntas dan saya hanya menimpali sesekali untuk lebih banyak mendengarkan.

Di samping bekerja di pabrik, Bu Saminah juga menekuni usaha dagang kecil-kecilan. Mulai dari menyediakan kopi untuk teman sepabriknya, hingga jualan sayuran di kampungnya. Ia dikenal sebagai pribadi yang ramah, sederhana, ulet bekerja, dan entengan membantu sesama. Dari pernikahannya dengan Pak Karni, Bu Saminah dikaruniai seorang putri. Sifat ulet itupun menurun kepada putri satu-satunya tersebut. Sambil sekolah ia sudah bekerja membantu ibunya. Hingga akhirnya ia dapat lulus kuliah dari sebuah lembaga pendidikan swasta yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Beberapa minggu silam, putri Bu Saminah tersebut dilamar seorang pemuda. “Saya heran Mas dengan calon menantu saya itu. Ia itu anak sarjana, anak orang berada yang kedua orang tuanya PNS Mas. Kok mau dengan anak saya yang hanya anak orang pas-pasan kayak saya ini. Ketika keluarganya datang melamar, saya ungkapnya kegelisahannya saya tersebut. Ini apa benar-benar serius atau nggak. Justru Ibu calon besan saya itu meyakinkan saya bahwa manusia itu sama saja di mata Tuhan. Tidak ada yang beda antara kaya dan tidak berpunya, “Bu Saminah nampak sedikit berkaca-kaca mengungkapkan hal itu.

Semoga rencana pernikahan anak saya lancar nggih Mas. Mungkin itu memang cara Gusti Allah menjawab doa dan cita-cita saya. Ing atase saya nikah sudah telat, tetapi Tuhan memberikan jodoh orang yang sholih bagi saya. Dan kini anak saya, meskipun hidup kami apa adanya tetapi diangkat derajatnya. Nikahnya nanti minggu depan Mas, tanggal 11 Maret itu. Saya sangat bersyukur kepada Gusti Allah Mas, “ lanjutnya.

Sejurus kemudian ia justru menodong saya, “Masnya datang nggih!” Saya sempat tertegun, bengong bin mbatin. Ia dengan sigap segera gresah-greseh membuka salah satu kardus bawaannya. Di kardus itu ia keluarkan sebuah kotak kertas kecil berisi bakpia. “ Nuwun sewu Mas, saya tidak tahu harus ngundang pakai apa ke Mase. Ke teman-teman pabrik dulu, saya kasih kopi kapal api. Ini saja buat Mase, jangan ditolak nggih, “ desak Bu Saminah.

Saya sungguh terharu. Saya sampaikan beribu terima kasih atas undangan ke pernikahan anaknya. Saya tidak bisa berjanji tetapi mudah-mudahan Gusti Allah mempertemukan kami kembali di hari bahagia Bu Saminah, Pak Karni, dan si Anis putri tunggalnya. Semoga.

Wates hingga Cikampek sedemikian terasa sangat cepat. Tanpa terasa kami mengobrol lebih dari enam jam. Sayapun terlupa bahwa saya merasa ngantuk. Barulah selepas Cikampuk saya terlelap sejenak hingga Bekasi.

Di perjalanan itu, saya merasa merinding dengan lika-liku perjalanan dan perjuangan hidup seorang hamba Allah yang bernama Bu Saminah tersebut. Saya merasakan bahwa Tuhan benar-benar hadir dalam setiap derap hidup seorang hamba-Nya yang yakin dan taat patuh kepada-Nya. Saya pancaran cahaya Muhammad pada diri Pak Karni. Saya menyaksikan ketulusan hati seorang Khadijah pada diri Bu Saminag. Masya Allah, allahu akbar. Ni’mal maula wa ni’mal wakil.

Ngisor Blimbing, 3 Maret 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sosok Muhammad dan Khadijah di Gerbong Kereta

  1. Ping balik: Silaturahmi Tanpa Batas | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s